Sekolah Muhammadiyah tidak semestinya hanya mengejar prestasi akademik, jumlah peserta didik, akreditasi, atau berbagai capaian kelembagaan. Di balik keberadaan sekolah Muhammadiyah terdapat amanah yang jauh lebih besar, yaitu melahirkan generasi berilmu, berakhlak, memiliki kepedulian sosial, serta mampu melanjutkan perjuangan Persyarikatan Muhammadiyah.
Di sinilah pentingnya menjaga akar sekaligus menyiapkan masa depan.
Muhammadiyah sejak awal tidak memisahkan pendidikan dari dakwah. Sekolah menjadi salah satu ruang strategis untuk menanamkan nilai Islam berkemajuan sekaligus memperkenalkan peserta didik kepada identitas, sejarah, gagasan, dan perjuangan Muhammadiyah.
Karena itu, pendidikan di sekolah Muhammadiyah seharusnya tidak berhenti pada transfer pengetahuan, tetapi juga menjadi proses pembentukan karakter dan kader.
Persoalannya, di tengah tuntutan modernisasi pendidikan, orientasi sekolah terkadang lebih mudah mengarah pada capaian yang terlihat dan terukur.
Prestasi akademik, kompetisi, fasilitas, teknologi, jumlah siswa, hingga pencapaian kelembagaan memang penting.
Namun, ada pertanyaan yang tidak kalah penting: setelah lulus, apakah peserta didik masih memiliki keterikatan dengan nilai dan perjuangan Muhammadiyah?
Pertanyaan tersebut perlu menjadi bahan refleksi bersama.
Jangan sampai sekolah Muhammadiyah berhasil mencetak siswa berprestasi, tetapi kehilangan kesempatan menumbuhkan kader.
Jangan sampai peserta didik mengenal Muhammadiyah hanya sebagai nama yayasan atau identitas sekolah, tetapi tidak memahami mengapa Muhammadiyah berdiri dan untuk apa perjuangan itu perlu dilanjutkan.
Karena itu, Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) harus menempati posisi sebagai ruh pendidikan, bukan sekadar mata pelajaran.
Nilai-nilai AIK perlu hadir dalam budaya sekolah, keteladanan guru dan karyawan, kegiatan organisasi pelajar, kepedulian sosial, kedisiplinan, serta berbagai aktivitas keseharian peserta didik.
Perkaderan juga tidak harus selalu hadir dalam bentuk kegiatan formal. Proses kaderisasi dapat tumbuh melalui pembiasaan, keteladanan, dialog, kegiatan sosial, pengenalan sejarah Muhammadiyah.
Misalnya melalui aktivitas IPM, Hizbul Wathan, kajian keislaman, maupun keterlibatan peserta didik dalam berbagai kegiatan Persyarikatan.
Guru dan karyawan memiliki posisi yang sangat penting dalam proses tersebut. Mereka bukan hanya tenaga pendidik dan tenaga kependidikan, tetapi juga representasi nilai Muhammadiyah di lingkungan sekolah.
Ketika guru berbicara tentang pengabdian, tetapi tidak menunjukkan keteladanan; ketika sekolah mengajarkan pentingnya organisasi, tetapi tidak memberikan ruang bagi siswa untuk berproses, maka muncul kesenjangan antara nilai yang diajarkan dan praktik yang dijalankan.
Tantangan Modernisasi
Tantangan saat ini semakin kompleks. Generasi muda tumbuh di tengah perkembangan teknologi, media sosial, kecerdasan buatan, dan arus informasi yang sangat cepat.
Sekolah Muhammadiyah tidak boleh menutup diri dari perubahan. Justru, sekolah harus mampu memanfaatkan perkembangan tersebut untuk memperkuat pendidikan.
Namun, modernisasi tidak boleh membuat sekolah kehilangan identitas. Teknologi adalah alat, bukan tujuan.
Prestasi merupakan capaian, bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Sementara itu, kaderisasi merupakan investasi jangka panjang bagi keberlanjutan gerakan.
Sekolah Muhammadiyah harus mampu melahirkan generasi yang tidak hanya bertanya, “Apa yang bisa saya dapatkan dari Muhammadiyah?”, tetapi juga berani bertanya, “Apa yang dapat saya berikan untuk Muhammadiyah dan umat?”
Pertanyaan tersebut penting karena keberlangsungan Persyarikatan tidak hanya bergantung pada besarnya amal usaha, tetapi juga pada kualitas manusia yang menghidupkan dan meneruskan gerakannya.
Guru dan Karyawan sebagai Teladan
Menjaga ruh perjuangan Muhammadiyah di sekolah tidak cukup hanya dibebankan kepada peserta didik. Guru dan karyawan juga harus menjadi bagian aktif dari kehidupan Persyarikatan.
Amal usaha Muhammadiyah bukan sekadar tempat bekerja, melainkan bagian dari perjuangan dakwah yang memiliki tanggung jawab ideologis dan sosial.
Karena itu, sudah saatnya guru dan karyawan tidak berhenti pada aktivitas profesional di sekolah. Mereka perlu hadir dan aktif di Cabang, Ranting, maupun organisasi otonom Muhammadiyah sesuai kapasitas dan ruang pengabdiannya.
Keaktifan tersebut bukan semata-mata tuntutan organisasi, tetapi bentuk nyata kesadaran bahwa keberlangsungan Muhammadiyah membutuhkan manusia yang bersedia menghidupkan gerakan.
Sekolah Muhammadiyah harus menjadi pintu masuk bagi lahirnya kader-kader baru. Untuk mewujudkannya, guru dan karyawan harus terlebih dahulu menunjukkan keteladanan dalam ber-Muhammadiyah.
Sebab, sulit mengajak generasi muda mencintai Persyarikatan apabila orang-orang yang mendidiknya sendiri tidak hadir dalam denyut kehidupan Muhammadiyah.
Mari menjadikan sekolah bukan hanya tempat mencerdaskan peserta didik, tetapi juga tempat menumbuhkan kader. Mari guru dan karyawan kembali menguatkan keterlibatan di Persyarikatan, menghidupkan Cabang dan Ranting, serta mewariskan ruh perjuangan Muhammadiyah kepada generasi berikutnya.
Karena masa depan Muhammadiyah tidak hanya dibangun dengan gedung dan prestasi, tetapi dengan kader yang mau berjuang, mengabdi, dan tetap setia menghidupkan Persyarikatan.***





0 Tanggapan
Empty Comments