Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Tiga Kesaksian Soekarno yang Ngintil KH Ahmad Dahlan

Iklan Landscape Smamda
Tiga Kesaksian Soekarno yang Ngintil KH Ahmad Dahlan
Presiden Soekarno saat memperhatikan aktivitas kerajinan tangan siswi Muhammadiyah Padang Panjang tahun 1950 (FB Elsya Irwanmay)
Oleh : Muh Kholid AS

Hubungan antara Soekarno dengan pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, ternyata jauh lebih dekat daripada yang dibayangkan. Kronologinya jauh sebelum dirinya dikenal sebagai pemimpin bangsa dan proklamator kemerdekaan. Ada tiga kesaksian Soekarno yang mengatakan dirinya nginthil mengikuti pengajian dan tabligh KH Ahmad Dahlan di Surabaya.

Dalam beberapa kesempatan, Presiden pertama Republik Indonesia itu mengisahkan bagaimana dirinya ngintil. Bagaimana dirinya mengikuti dari dekat kegiatan dakwah sang pendiri Muhammadiyah itu. Tak hanya mengenal nama Ahmad Dahlan. Tapi juga mendengarkan langsung ceramah-ceramahnya di beberapa lokasi.

Tiga kesaksian menunjukkan bahwa Soekarno mengenal Islam bukan hanya melalui pendidikan formal atau keluarga. Melainkan juga melalui forum-forum pembaruan Islam yang berkembang di lingkungan Muhammadiyah.

Kesaksian pertama Soekarno muncul dalam autobiografinya yang terkenal. Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, yang ditulis oleh Cindy Adams. Dalam buku itu, Soekarno menceritakan pengalaman masa remajanya ketika tinggal di rumah HOS Tjokroaminoto di Gang Peneleh, Surabaya.

Menurut Soekarno, dirinya mulai menemukan pemahaman Islam yang lebih mendalam ketika berusia 15 tahun. Saat itu ia sering menemani keluarga Tjokroaminoto. Termasuk menghadiri berbagai pertemuan Muhammadiyah, yang lokasinya tidak jauh dari tempat tinggal mereka.

“Aku menemukan sendiri agama Islam dalam usia 15 tahun, ketika aku menemani keluarga Tjokro mengikuti organisasi agama dan sosial bernama Muhammadijah. Gedung pertemuannja terletak diseberang rumah kami di Gang Peneleh,” tulis Soekarno.

Soekarno pun menceritakan secara detail bagaimana pengajian diselenggarakan. Pengajian di rumah yang berlokasi persis depan rumah kostnya itu bukan hanya sekali. Tapi menjadi pengajian rutin yang diselenggarakan sekali dalam sebulan. Bung Karno pun mencatat durasi waktu pengajian, serta jalannya acara pengajian.

“Sekali sebulan dari djam delapan sampai djauh tengah malam 100 orang berdesak-desak untuk mendengarkan peladjaran agama dan ini disusul dengan tanja djawab.”

Keterangan ini memperlihatkan Muhammadiyah menjadi bagian dari lingkungan intelektual yang membentuk Soekarno muda. Di tengah suasana Surabaya sebagai pusat pergerakan nasional, berbagai pertemuan Muhammadiyah menghadirkan ruang diskusi keagamaan yang hidup. Para peserta tidak hanya mendengarkan ceramah. Tapi juga terlibat dalam sesi tanya jawab yang berlangsung hingga larut malam.

Kesaksian kedua disampaikan Soekarno saat menutup Muktamar Setengah Abad Muhammadiyah pada 23 November 1962. Bertempat di Istana Olahraga Bung Karno, Jakarta, Bung Karno kembali mengisahkan masa remajanya di Surabaya. Dalam pidatonya, ia mengenang kembali masa mudanya ketika berjumpa dengan Kyai Dahlan.

Soekarno mengawalinya dengan cerita awal mula mengenal Muhammadiyah melalui pengajian yang dihadirinya bersama keluarga Tjokroaminoto. Setelah peristiwa itu, Soekarno mengaku menghadiri berbagai tabligh Kyai Dahlan. Bukan hanya sekali dua kali. Melainkan berkali-kali. Sebab, dalam setiap rihlah di Surabaya, Kyai Dahlan disebutnya mengisi pengajian di banyak tempat.

“…saya kemudian menghadiri tabligh-tabligh Kyai Dahlan di lain-lain tempat. Dalam seminggu saja tiga kali di kota Surabaya, kemudian lain tahun masih beberapa kali lagi.”

SMPM 5 Pucang SBY

Pernyataan ini memiliki arti penting bagi sejarah Muhammadiyah maupun sejarah perjalanan Kyai Dahlan. Selama ini sebagian tulisan sejarah menyebut kunjungan Kyai Dahlan ke Surabaya hanya beberapa kesempatan tertentu. Namun, kesaksian Soekarno menunjukkan bahwa tabligh Kyai Dahlan di Surabaya berlangsung cukup intens.

Bahkan dalam rihlah dakwah dalam satu minggu saja, menurut Soekarno, Kyai Dahlan menghadiri tiga kali tabligh. Dan, tabligh itu bukanlah yang terakhir kali. Karena pada tahun-tahun berikutnya, Kyai Dahlan masih datang lagi ke Surabaya. Dan, tentu saja masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya, mengadakan ceramah di berbagai tempat.

Keterangan tersebut memperlihatkan hubungan Kyai Dahlan dengan Surabaya bukan insidental. Sebaliknya, Surabaya tampaknya menjadi salah satu basis penting dakwah. Kota Pahlawan menjadi tempat penting dalam penyebaran gagasan pembaruan Islam yang dilakukan pendiri Muhammadiyah.

Bagi Soekarno muda, mendengarkan langsung ceramah Kyai Dahlan berkali-kali sepertinya menjadi pengalaman yang sangat berkesan. Tidak mengherankan apabila puluhan tahun kemudian kenangan itu masih melekat kuat dalam ingatannya.

Kesaksian ketiga sekaligus yang paling rinci disampaikan Soekarno pada 10 April 1965. Ketika menerima penyematan Bintang Muhammadiyah. Dalam sambutannya, ia mengungkapkan bagaimana dirinya sering mengikuti Tjokroaminoto menghadiri tabligh Ahmad Dahlan di berbagai kampung di Surabaya.

“Saja sudah dapat sedikit-sedikit peladjaran agama Islam dari Pak Tjokro, saja sering kintil Pak Tjokro. Pada waktu K.H.A. Dahlan mengadakan tabligh di Bubutan, Peneleh, Kapasari, Ngampel, saja diizinkan ngintil, supaja saja lebih djelas menerima uraian-uraian beliau tentang revival of Islam.”

Keterangan ini memberikan informasi yang sangat berharga. Soekarno tidak hanya menyebut dirinya sering mengikuti Tjokroaminoto. Tapi juga menyebut secara spesifik lokasi-lokasi tabligh Ahmad Dahlan. Yaitu Bubutan, Peneleh, Kapasari, dan Ngampel atau Ampel.

Empat kawasan itu adalah kampung-kampung penting di Surabaya awal abad ke-20. Peneleh dikenal sebagai kawasan tempat tinggal Tjokroaminoto sekaligus pusat aktivitas pergerakan. Ampel merupakan kawasan tua dengan tradisi Islam yang kuat. Sementara Bubutan dan Kapasari menjadi bagian dari jaringan permukiman yang ramai dan strategis di kota Surabaya.

Melalui kesaksian ini, tampak Kyai Dahlan tidak hanya berdakwah di satu lokasi. Melainkan berpindah-pindah dari kampung ke kampung. Cara dakwah seperti ini memungkinkan pesan-pesan Muhammadiyah menjangkau masyarakat yang lebih luas.

Ketiga kesaksian itu tampak jelas, Soekarno bukan sekadar mengetahui keberadaan Kyai Dahlan. Tapi ia juga saksi hidup yang pernah mendengar langsung dakwah-dakwahnya pada masa awal Muhammadiyah.

Revisi Oleh:
  • Muhkholidas - 20/06/2026 18:46
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu