Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

KH Ahmad Dahlan dan Modernisasi Pemikiran Islam

Iklan Landscape Smamda
KH Ahmad Dahlan dan Modernisasi Pemikiran Islam
Oleh : Khairul Azzam EM Novelis, esais dan cerpenis

Sejarah perjuangan meraih kemerdekaan Indonesia tidak pernah lepas dari peran tokoh-tokoh Islam. Mereka yang hanya bergerak di medan fisik maupun ruang politik, tetapi juga membangun fondasi pemikiran yang kokoh bagi bangsa. Satu di antara tokoh tersebut adalah Kiai Haji Ahmad Dahlan, pendiri Persyarikatan Muhammadiyah, menempati posisi yang sangat istimewa dan bermakna.

Melalui gagasan untuk memperbarui cara pandang umat dalam beragama, beliau menanamkan benih-benih kesadaran keislaman yang logis, terbuka, menyatu dengan cita-cita persaudaraan dan persatuan kebangsaan.

Berkaitan dengan itu, penulis ingin mengajak menelusuri kembali semangat pembaruan pemahaman agama oleh  Ahmad Dahlan turut membuka jalan menuju kemerdekaan Indonesia.

Perannya terlihat dari cara pandang beliau yang ilmiah, pembaruan terhadap sistem pendidikan, hingga gerakan sosial yang menginspirasi terbentuknya watak dan kesadaran nasional generasi penerus.

Krisis Umat dan Lahirnya Semangat Pembaruan 

Memasuki awal abad ke-20, dunia Islam menghadapi apa yang sering disebut sebagai masa krisis pemikiran. Di satu sisi, umat Islam berada di bawah tekanan kekuasaan kolonial Barat.

Di sisi lain, mereka terjebak dalam kebekuan berpikir karena terlalu mengandalkan peniruan terhadap pendapat ulama terdahulu tanpa berani menggali kembali makna asli ajaran agama.

Kondisi di Hindia Belanda tidak jauh berbeda. Umat Islam berada dalam posisi yang sangat lemah, baik secara ekonomi, sosial, maupun pengetahuan.

Sistem pendidikan seperti pesantren dan surau memang menjadi benteng yang menjaga keberlangsungan ajaran Islam, tetapi belum cukup terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang pesat pada masa itu.

Periode tersebut juga bertepatan dengan bangkitnya gerakan pembaruan di dunia Islam. Tokoh-tokoh seperti Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, dan Rasyid Ridha menyerukan agar umat kembali menggunakan akal pikiran serta menafsirkan ajaran agama sesuai dengan tuntutan zaman.

Semangat pembaruan itu kemudian sampai ke Nusantara dan menginspirasi Kiai Ahmad Dahlan untuk melakukan gerakan serupa di tanah air.

Beliau lahir di Yogyakarta pada tahun 1868 dengan nama Muhammad Darwis. Beliau tumbuh dalam lingkungan keluarga ulama yang sangat menjunjung tradisi keilmuan Islam.

Namun, yang membedakannya dari banyak ulama pada masanya ialah keterbukaan beliau terhadap berbagai hal baru yang membawa kebaikan.

Saat menunaikan ibadah haji dan menetap beberapa tahun di Mekkah, beliau banyak berdiskusi serta bersentuhan langsung dengan gagasan-gagasan pembaruan yang berkembang di sana, terutama pemikiran Muhammad Abduh yang menekankan keseimbangan antara wahyu dan akal sehat.

Sekembalinya ke Yogyakarta, beliau menyaksikan secara langsung keterbelakangan umat Islam dalam berbagai bidang kehidupan.

Kondisi itu semakin memantapkan tekadnya untuk mendirikan Muhammadiyah pada tahun 1912 sebagai wadah gerakan yang membersihkan pemahaman agama dari berbagai hal yang tidak perlu sekaligus mengangkat derajat umat melalui perbaikan kehidupan bersama.

SMPM 5 Pucang SBY

Pembaruan Pemikiran sebagai Jalan Membangun Peradaban 

Salah satu pemikiran paling mendasar dan revolusioner yang dibawa Ahmad Dahlan ialah cara memahami Al-Qur’an.

Beliau mengajarkan bahwa umat tidak cukup hanya membaca ayat-ayat suci dengan melafalkan bunyinya, tetapi harus merenungkan maknanya secara mendalam melalui tadabbur sehingga nilai-nilai Al-Qur’an benar-benar hadir dalam kehidupan nyata.

Sering kali beliau mengkaji satu ayat selama berhari-hari agar murid-muridnya benar-benar memahami pesan yang terkandung di dalamnya.

Contoh yang paling dikenal ialah penjelasan beliau tentang Surah Al-Ma’un. Beliau menegaskan bahwa surah tersebut bukan sekadar mengecam orang yang mendustakan agama, tetapi juga memberikan teguran keras kepada siapa pun yang mengabaikan hak-hak orang lain serta tidak peduli terhadap nasib anak yatim dan kaum miskin.

Cara pandang ini menempatkan ajaran agama sebagai dorongan nyata untuk mewujudkan keadilan sosial, bukan sekadar urusan pribadi antara manusia dengan Tuhannya.

Pemikiran tersebut kemudian berkembang menjadi pandangan yang sangat positif terhadap ilmu pengetahuan umum.

Ahmad Dahlan menyadari bahwa salah satu penyebab utama keterbelakangan umat Islam ialah sikap curiga terhadap ilmu-ilmu modern yang dianggap asing atau bahkan bertentangan dengan agama.

Ahmad Dahlan menegaskan bahwa ilmu pengetahuan, baik matematika, geografi, ilmu alam, maupun bahasa asing, merupakan bagian dari rahmat Allah yang boleh bahkan wajib dipelajari selama dimanfaatkan untuk kebaikan bersama.

Karena itu, beliau menolak dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum karena keduanya sama-sama menjadi sarana untuk mengenal kebesaran Allah serta membebaskan manusia dari kebodohan dan penindasan.

Sejalan dengan pandangan tersebut, beliau mengajak umat agar berani berijtihad dalam menghadapi persoalan-persoalan baru yang tidak dijelaskan secara rinci dalam kitab-kitab klasik.

Pada saat yang sama, beliau mengingatkan agar umat tidak menerima pendapat orang lain secara membabi buta atau bertaklid.

Semangat berpikir kritis dan mandiri inilah yang kemudian menjadi modal penting agar umat tidak mudah tunduk pada kekuatan asing yang berusaha menindas mereka.

Revisi Oleh:
  • Notonegoro - 04/08/2026 12:02
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu