Surabaya tercatat sebagai cabang Muhammadiyah pertama yang berdiri di luar Yogyakarta. Cabang ini resmi berdiri pada 1 November 1921 dengan KH Mas Mansur sebagai ketua. Ia didampingi empat tokoh lainnya. Uaitu KH Ali, H. Azhari Rawi, H. Ali Ismail, dan Kiai Usman.
Namun, sejarah Muhammadiyah di Kota Pahlawan sesungguhnya dimulai jauh sebelum organisasi itu memperoleh status resmi. Aktivitas dakwah Muhammadiyah telah berlangsung setidaknya sejak 1916. Melalui pengajian yang dipimpin langsung oleh pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan.
Bukti kuat mengenai keberadaan Muhammadiyah di Surabaya pada masa itu datang dari Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno. Dalam buku Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia karya jurnalis Amerika Serikat, Cindy Adams,
Soekarno menceritakan pengalamannya mengikuti pengajian Muhammadiyah. Ketika dia berusia 15 tahun. Pengajian itu diselenggarakan di Peneleh, tepat di seberang rumah tempat Soekarno muda ngekost-tinggal bersama keluarga HOS Tjokroaminoto.
“Aku menemukan sendiri agama Islam dalam usia 15 tahun, ketika aku menemani keluarga Tjokro mengikuti organisasi agama dan sosial bernama Muhammadiyah. Gedung pertemuannya terletak di seberang rumah kami di Gang Peneleh,” tulis Bung Karno.
Masih menurut Soekarno, pengajian itu digelar setiap bulan dan dihadiri lebih dari seratus orang. Acara berlangsung pada malam hari. Dimulai sekitar pukul 20.00 WIB dan berakhir menjelang dini hari.
“Sekali sebulan dari jam delapan sampai jauh tengah malam 100 orang berdesak-desak untuk mendengarkan pelajaran agama dan ini disusul dengan tanya jawab.”
Fakta itu menunjukkan gagasan dan gerakan Muhammadiyah telah berakar di Surabaya. Beberapa tahun sebelum cabang resminya berdiri. Bahkan, hubungan KH Ahmad Dahlan dengan Surabaya diperkirakan telah terjalin lebih lama lagi.
Hal itu bisa dilihat dari kesaksian KH. Mas Mansur dalam Majalah Adil No. 48 Tahun VI, 3 September 1938. Ketika ia pulang dari Mesir dan bertemu KH Ahmad Dahlan di Yogyakarta pada 1915, sang pendiri Muhammadiyah ternyata telah lama bersahabat dengan ayahnya, KH Mas Achmad Marzoeqi.
“Ketika itu beliau terangkan bahwa beliau sangat kenal dan bersahabat dengan ayah saya. Katanya kalau beliau ke Surabaya, beliau tinggal di rumah Kiyai Habib, tempat pertemuan kiyai-kiyai,” kenang Mas Mansur.
“Di sanalah beliau kerangkali bercakap-cakap lama dengan ayah saya memperbincangkan soal-soal agama. Dan apabila ayah saya datang ke Yogya, beliau tinggal di rumah Kyai Nur, tempat pertemuan Inyik-inyik itu pula,” lanjut Mas Mansur
Kesaksian itu mengindikasikan bahwa sebelum 1916, KH Ahmad Dahlan telah berulang kali berkunjung ke Surabaya. Hubungan intelektual dan keagamaan antara tokoh-tokoh Surabaya dan Yogyakarta telah terjalin erat. Jauh sebelum Muhammadiyah memiliki cabang resmi berdiri pada 1921.
Lalu, kenapa Muhammadiyah Surabaya baru berdiri secara resmi pada 1921? Padahal aktivitasnya sudah berlangsung bertahun-tahun sebelumnya? Jawabannya terletak pada kebijakan kolonial Hindia-Belanda.
Pada awal abad ke-20, pemerintah kolonial Hindia Belanda sangat ketat mengawasi organisasi. Muhammadiyah mengalami pembatasan melalui Surat Keputusan Pemerintah Nomor 81 tertanggal 22 Agustus 1914. Keputusan itu membatasi ruang gerak Muhammadiyah hanya di Yogyakarta.
Artinya, dakwah Muhammadiyah di Surabaya sebelum 1921 tetap berjalan. Tetapi memang lebih banyak dilakukan melalui jalur informal. Kegiatan berlangsung lewat jaringan ulama, pedagang, kalangan santri, serta tokoh-tokoh yang juga aktif di Sarekat Islam.
Situasi mulai berubah ketika pemerintah kolonial melonggarkan aturan perizinan. Pada 16 Agustus 1920, Muhammadiyah memperoleh izin untuk membuka cabang baru dan merekrut anggota di berbagai wilayah Jawa. Setahun kemudian, tepatnya 2 September 1921, izin itu diperluas sehingga Muhammadiyah dapat bergerak di seluruh wilayah Hindia-Belanda.
Momentum ini dimanfaatkan para penggerak Muhammadiyah Surabaya. Setelah hampir satu dekade menjalankan dakwah secara tidak resmi, akhirnya berhasil mendirikan cabang Muhammadiyah yang sah. Surat resmi itu muncul pada 1 November 1921, tepat pada hari Selasa Legi.





0 Tanggapan
Empty Comments