Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Pakai Blangkon, Malam-malam Naik Onthel: Ungkap Makna Kemerdekaan yang Terlupakan

Iklan Landscape Smamda
Pakai Blangkon, Malam-malam Naik Onthel: Ungkap Makna Kemerdekaan yang Terlupakan
Wakil Ketua Majelis Ekonomi PDM Surabaya 2022–2027, Sutikno (Foto: Yusdwiya/PWMU.CO)

Suara deru mesin sepeda motor di sekitar kawasan Jembatan Merah malam itu cukup bising. Untuk memecah konsentrasi siapa saja. Sabtu, 15 Agustus 2026, jarum jam baru saja menyentuh angka delapan malam. Dari kejauhan. Di antara temaram lampu jalanan dan hiruk-pikuk Surabaya, sesosok pria mengayuh sepeda onthel kebo era jadul dengan santai.

Ia mengenakan baju kurung khas Jawa dan blangkon ala Sunan Kalijaga yang bertengger pas di kepalanya. Begitu kakinya menapak tanah di depan Angkringan –tempat makan khas Jogja–, senyum hangat langsung terkembang dari wajahnya.

Dialah H. Sutikno, S.Sos., M.H., atau yang lebih akrab kami sapa Cak Tik. Ia memesan wedang uwuh khas Jogja, sementara kopi hitam panas disorongkan ke meja saya. Asap tipis mengepul, membawa aroma rempah dan kafein yang perlahan mencairkan ketegangan kota.

Cak Tik menyeruput minuman hangatnya. Matanya menatap helai-helai umbul-umbul merah putih yang tertiup angin malam di seberang jalan. Ada jeda sejenak. Keheningan yang dalam di tengah bising lalu lintas.

“Mas”, ucap Wakil Ketua Majelis Ekonomi PDM Surabaya 2022–2027 itu perlahan. Nada suaranya berubah melambat, penuh perenungan. “Setiap kali Agustus tiba, sudut-sudut RW dan gang kecil di perkampungan kita pasti meriah. Anak-anak tertawa ikutan lomba, warga gotong royong bersolek.”

Ia menghentikan kalimatnya. Menghela napas panjang. Ada secuil kecemasan yang terselip di balik sorot matanya yang bijak.

“Tapi saya sering batin apakah kemerdekaan itu cuma sebatas bendera yang berkibar dan gegap-gempita rutinitas tahunan?”

“Perasaan saya kok sering ndak tenang ya, Mas. Kalau ngeliat kampung-kampung pas Agustus-an. Bendera dipasang di mana-mana, ramai, tapi warganya sendiri-sendiri. Pada nunduk megang HP masing-masing. Padahal merdeka yang bener itu ya kalau kita masih bisa tegur sapa. Sekadar ngobrol santai di pos RT tanpa ada rasa iri atau gengsi. Kebersamaan kayak gitu itu sekarang sudah jadi kemewahan yang makin langka,”

Sebagai penggemar berat Sang Jenderal Besar Soedirman, Cak Tik memandang arti perjuangan dari kacamata yang amat intim. Kemerdekaan sejati, baginya, justru dimulai dari hal yang paling mendasar. Kesempatan untuk hidup bahagia, sehat, rukun, dan saling menghargai.

“Jenderal Soedirman dulu berjuang lawan penjajah. Nah, kalau kita sekarang ini perangnya lawan diri sendiri. Kemerdekaan itu ndak ada artinya kalau hati kita masih sempit, gampang suudzon, sama tetangga sendiri malah pasang jarak. Wong bangsa yang kuat itu sederhananya cuma berasal dari warga yang hatinya tenang, bahagiam dan kompak sama orang-orang di sekitarnya.”

“Bahagia itu mulai dari hati dan pikiran yang sehat, Mas. Hati yang mau memaafkan, hati yang ndak gampang iri,” lanjutnya sembari mengusap cangkir wedangnya. “Di masyarakat kita, masalah kecil sering jadi besar cuma gara-gara komunikasi yang mampet. Padahal kalau ada kepedulian, persoalan berat pun terasa ringan.”

SMPM 5 Pucang SBY

Ia lalu mengutip ayat suci yang begitu melekat di dadanya, Al-Hujurat ayat 10, bahwa sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Maka dari itu, perdamaian dan ketakwaan adalah kunci menghadirkan rahmat.

“Coba bayangkan,” Cak Tik memajukan duduknya, intonasinya agak meningkat, mengaitkan kenyataan era modern. “Sekarang orang-orang cenderung tertutup, sibuk sendiri menunduk menatap gawai masing-masing. Di tengah situasi begini, menyapa tetangga, ngobrol santai di pos RT, atau arisan bersama itu… kebersamaan warga itu sudah jadi kemewahan yang harus kita rawat mati-matian.”

Bagi Cak Tik, memasuki usia ke-81 tahun Indonesia merdeka, harapan terbesarnya sederhana namun mendalam. Ia ingin warga merayakan kemerdekaan lewat aksi nyata yang ramah. Tegur sapa yang hangat, aktif kerja bakti, dan menciptakan ruang yang aman bagi sesama. Bangsa yang kuat, tegasnya, selalu berawal dari warga yang bahagia dan kompak di lingkungan terdekatnya.

Waktu serasa bergulir cepat di angkringan itu. Tak terasa jarum jam sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB. Obrolan hangat penuh gizi malam itu harus berakhir.

Cak Tik berdiri, merapikan blangkon dan baju kurungnya.

“Selamat HUT ke-81 Republik Indonesia. Merdeka hatinya, bahagia warganya!” ucapnya memungkasi perbincangan kami dengan senyum khas yang mengembang.

Ia memegang kemudi sepeda onthel kebonya. Bersiap membelah malam kota Surabaya.

“Mumpung lagi good mood, Mas, ambek nggolek kringet, mlaku-mlaku muter kota ngganggo sepeda onthelan. Maturnuwun njeh atas obrolannya,” pamit Ketua PCM Krembangan periode 2015–2022 itu dengan ceria.

Dengan kayuhan yang mantap namun santai, sosoknya perlahan melaju. Menyatu bersama pendar lampu dan dinginnya angin malam Kota Pahlawan.

Revisi Oleh:
  • Muhkholidas - 16/08/2026 10:50
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu