Sesore di Animha, langit mendung. Di sana ada Baad, ada juga Wayao. Kampung yang selalu sunyi, damai, dan ‘rinenggo’. Kampung yang ‘nyaretet hate’, kata seorang kawan dari Bandung Raya.
Mas Hendro, pejabat kampung yang begitu sumringah, saat saya sudah terlihat di ketibaan di rumah mungil depan gereja di Wayao. Itu Wayao, itu Wayao, itu keindahan.
Di tempat itu saya menulis lagu, di tempat itu saya membakar pisang dewa. Di tanah perdikan, saya menggali seribu rasa. Di tempat itu saya merasakan pedalaman Tanah Papua.
Rawa Inggun, airnya yang tenang, dan itu adalah tlatah Animha yang loh jinawi. Memang tidak biasa, itu kampung ‘elok tenan’. Yang sering digambarkan sebagai ‘panjang punjung pasir wukir’ oleh ki dalang.
Petang menjelang, ketiting sudah siap mengantar pulang. Ini bukan Jawa, bukan Jakarta, bukan Surabaya. Keheningan yang mendalam tanah Animha di sebuah senja. Matahari ‘menjelang sumurup’ begitu indah. Cahayanya ‘sumorot manther’ menerobos sela-sela ranting-rerantingan.
Sampailah di Waninggap Miraf, malam sudah gelap. Tentu, ada SP lima, juga menengok SP sembilan, juga tidak lupa warung sederhana mbak Yanti yang harganya serba murah ceria. Debora dengan senyum capeknya, Angelia mengulik kameranya yang selalu full file, dan Adelia sesekali mengecek kwitansi perjalanan dan uborampenya.
Animha selalu terkenang. Yang sunyi dan menawan, sesekali bunyi rusa di belantara semak, sesekali bunyi hewan yang menerobos pepohonan, dan sesekali saya harus membayangkan merasakan rasa nasi punel kedai SP tiga.
Saya hanya memandang pojok tiang jembatan itu. Hebat, hebat. Jembatan yang hanya beberapa meter saja, yang mempunyai makna kemanusiaan. Airnya yang bening saya sentuh, ternyata memang berbeda nuansa.
Oh… itu ikan gastor dan kepiting rawa, ada juga bebek rawa. Masakan bu Yadi, transmigran asli Blora, dengan sambel seadanya. Itu rasa masakan pedalaman nan lezat, kata saya saat itu.
Animha, dan itu menutup gelora patriot, pengabdian TEP tahun lalu di pedalaman Papua Selatan.
Elok memang, Kali Kumbe yang sumbernya gemericik bening dari Animha Hulu.
Oh Animha, ibarat membedah seribu pesona. Yang pernah kutinggalkan sebekas langkah.
13 Agustus 2026





0 Tanggapan
Empty Comments