Sudah tiga kali saya datang. Dua kali ke rumahnya di Jalan Platuk Sidomulyo, Surabaya. Dua kali pula saya pulang tanpa bertemu.
Selasa pagi itu saya datang lagi. Kali ini tidak sendiri. Saya bersama Tim Majalah Matan. Kami sedang menyiapkan rangkaian Milad dua dekade Matan, Agustus ini.
Pukul 10.15 WIB. Saya sudah duduk di ruang tamu ketika Pak Nur muncul.
H. Nur Cholis Huda. Orang Muhammadiyah Jawa Timur lebih akrab memanggilnya Pak Nur. Ia mengenakan batik lengan panjang. Bawahannya sarung.
Tubuhnya terlihat lebih kurus. Langkahnya juga tidak lagi secepat dulu. Tetapi senyumnya masih sama. Ramah. Hangat.
Senyum yang seperti menyambut siapa saja sebagai kawan lama. Padahal saya sendiri tidak yakin dia masih mengingat saya.
Saya pun bertanya. “Masih ingat saya?”
Pak Nur diam. Sebentar. Dia menatap wajah saya cukup lama. Lalu tersenyum.
“Ya, kamu Agus, ya.”
Saya lega. Ternyata masih ingat. Dari situ percakapan mengalir. Bukan percakapan biasa.
Kami kembali ke 1994. Tiga puluh dua tahun lalu. Saat itu, kami sedang merintis Tabloid Matahari. Tabloid milik Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur.
Terbit sebulan sekali. Saya menjadi wartawan. Pak Nur menjadi salah satu penulisnya. Ia menulis kolom. Menulis esai. Menulis dengan gaya yang khas. Tidak banyak basa-basi. Tetapi dalam.
Beberapa jurnalis juga ikut terlibat. Ada HM Yousri Nur Raja Agam, Imam Bukhari, Makinun Amin, Suli Da’im, Mujaeri, Surahman, dan Sutikhon.
Tabloid itu ternyata tidak berumur panjang. Hanya lima kali terbit. Lalu berhenti. Masalahnya klasik. Uang. Biaya penerbitan lebih besar daripada kemampuan keuangan yang tersedia.
Matahari pun tenggelam. Kami kemudian berjalan di jalan masing-masing. Pak Nur terus menulis. Dan menulis.
Dia memang penulis yang produktif. Tulisan-tulisannya muncul di berbagai media. Majalah. Portal. Buku. Banyak bukunya bertema pendidikan, spiritualitas, dan kehidupan sosial. Beberapa bahkan dicetak ulang berkali-kali.
Dia juga sering diundang berceramah. Ke sekolah-sekolah Muhammadiyah. Ke berbagai forum. Membicarakan pendidikan. Pertumbuhan spiritual. Juga kehidupan bermasyarakat.
Pak Nur bukan sekadar penulis. Dia bagian dari generasi yang ikut membesarkan Muhammadiyah di Jawa Timur.
Dia pernah menjadi Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur. Bukan sekali. Enam periode berturut-turut.
Sebelum pensiun, dia bekerja di Dinas Pendidikan Jawa Timur. Kantornya di Jalan Genteng Kali, Surabaya.
Tetapi ada satu hal yang selalu membuat saya teringat kepadanya. Menulis.
Dulu, waktu terbaiknya justru setelah subuh. Saat rumah masih sepi. Saat suara kota belum terlalu ramai. Dia menulis. Membaca. Berpikir. Merenung. Lalu menulis lagi.
Sekarang kebiasaan itu berhenti. Bukan karena kehabisan gagasan. Bukan karena tidak ada lagi yang ingin disampaikan. Tetapi tubuhnya tidak lagi memungkinkan.
Saya akhirnya bertanya langsung.
“Pak, masih menulis?”
Pak Nur terdiam. Suaranya kemudian terdengar datar. Matanya berair.
“Iya, saya sudah tidak bisa.”
Dia berhenti sebentar.
“Menulis itu butuh berpikir.”
Lalu ia menambahkan: “Ya, merenunglah.”
Saya terdiam. Kalimat itu sederhana. Tetapi berasa panjang. Sebab yang berhenti bukan hanya tangan yang menulis.
Ada sebuah kebiasaan panjang yang ikut berhenti. Ada pagi-pagi yang dulu diisi kata-kata. Ada halaman-halaman yang dulu lahir dari perenungan.
Kini halaman itu kosong. Pak Nur tidak lagi menulis. Tetapi saya merasa dia sebenarnya masih seorang penulis. Sebab seorang penulis tidak hanya hidup dari tulisannya.
Dia hidup dari ingatannya. Dari cara melihat kehidupan. Dari kebiasaannya merenung. Dari kalimat-kalimat yang pernah ia tinggalkan.
Mungkin sekarang tangannya tidak lagi kuat mengejar pikiran. Tetapi pikirannya masih menyimpan banyak cerita. Termasuk cerita tentang kami.
Tentang Tabloid Matahari. Tentang lima edisi yang pernah kami perjuangkan. Tentang Muhammadiyah. Tentang pendidikan. Tentang perjalanan hidup. Dan tentang waktu.
Waktu memang aneh. Dulu kami sibuk mengejar berita. Sekarang kami sibuk mengejar ingatan.
Dulu Pak Nur menulis tentang kehidupan. Kini kehidupan seperti sedang menulis tentang Pak Nur. Pelan-pelan.
Dengan tubuh yang makin rapuh. Dengan langkah yang makin lambat. Tetapi dengan senyum yang masih sama.
Saya mengingat betul satu kalimat. “Menulis itu butuh berpikir. Ya, merenunglah.”
Saya tahu. Cerita tentang Pak Nur belum selesai. Sebab sebelum dia menjadi penulis yang saya kenal, ada cerita lain yang lebih awal.
Cerita tentang sebuah Matahari yang pernah kami nyalakan bersama. Hanya lima kali terbit. Tetapi kenangannya bertahan lebih dari tiga dekade.
Dan pagi itu, untuk pertama kalinya setelah 32 tahun, kami kembali membicarakannya. (bersambung)





0 Tanggapan
Empty Comments