Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Tulangan kembali menggelar Pengajian Ahad Pagi sebagai bagian dari ikhtiar memperkuat dakwah, pembinaan jamaah, sekaligus konsolidasi Persyarikatan hingga tingkat Ranting.
Kegiatan tersebut menghadirkan Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Ustadz Abdul Basith, Lc., M.Pd.I., dan berlangsung di Masjid At-Taubah, PRM Kedurus, Dusun Kedurus RT 03 RW 04, Desa Kepatihan, Kecamatan Tulangan, Sidoarjo, Ahad (9/8/2026).
Selepas pengajian, Abdul Basith diajak panitia untuk sarapan bersama. Dalam suasana informal tersebut, ia menyampaikan sejumlah pesan kepada PCM maupun PRM, salah satunya mengenai pentingnya Ranting sebagai ujung tombak dakwah Muhammadiyah.
Abdul Basith memberikan apresiasi terhadap konsistensi PCM Tulangan dalam menggerakkan dakwah melalui Pengajian Ahad Pagi yang dilaksanakan secara bergilir di Ranting-Ranting Muhammadiyah.
Menurutnya, kegiatan tersebut memiliki nilai strategis karena mampu mendekatkan dakwah dengan masyarakat sekaligus membangun kebersamaan antarwarga Persyarikatan.
“Ia mengapresiasi kegiatan dakwah di PCM Tulangan. Setelah pengajian disediakan sarapan pagi, dan ini dilakukan di 18 Ranting secara bergilir,” ungkap Abdul Basith.
Tradisi sederhana tersebut, menurutnya, tidak hanya berkaitan dengan konsumsi setelah pengajian, tetapi juga menjadi sarana mempererat ukhuwah dan membangun ikatan emosional antara jamaah, kader, pimpinan, serta masyarakat.
Lebih lanjut, Abdul Basith memberikan pesan yang diharapkan dapat menjadi penyemangat bagi seluruh kader Muhammadiyah, khususnya yang berada di tingkat Cabang dan Ranting.
“Ranting adalah ujung tombak dakwah dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah,” tegasnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kekuatan Persyarikatan tidak hanya berada pada struktur pimpinan di tingkat atas, tetapi juga sangat ditentukan oleh kehidupan dakwah di tingkat akar rumput.
Ranting menjadi tempat Muhammadiyah bersentuhan langsung dengan masyarakat melalui masjid, pengajian, pendidikan, kegiatan sosial, dan berbagai amal usaha.
Selain memberikan penguatan tentang dakwah Ranting, Abdul Basith juga mengingatkan pentingnya seluruh kader Muhammadiyah menjaga dan merawat aset Persyarikatan.
Ia mencontohkan aset berupa masjid, mushala, sekolah, dan berbagai fasilitas milik Persyarikatan yang harus dijaga secara bersama-sama agar keberadaannya tetap menjadi sarana dakwah Muhammadiyah bagi generasi mendatang.
Menurutnya, persoalan aset tidak boleh dipandang sebelah mata. Gesekan maupun dinamika dengan organisasi kemasyarakatan lain dapat terjadi apabila aset Persyarikatan tidak dikelola, dijaga, dan diperkuat secara baik.
“Jaga aset, seperti masjid dan sekolah. Banyak masjid atau mushala yang akhirnya bergeser kepemilikannya karena terjadi gesekan dengan ormas lain, sehingga akhirnya lepas,” urainya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bagi kader di tingkat Ranting agar memiliki kepedulian terhadap legalitas, pengelolaan, pemanfaatan, serta keberlanjutan aset Persyarikatan.
Aset yang ada bukan sekadar bangunan, melainkan bagian penting dari instrumen dakwah dan perjuangan Muhammadiyah.
Momentum makan bersama menjadi ruang informal untuk memperkuat silaturahmi, berdiskusi, sekaligus membangun komunikasi antara pimpinan dan warga Persyarikatan.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan foto bersama Ustadz Abdul Basith, jajaran PCM Tulangan, PRM Kedurus, dan peserta pengajian di area Masjid At-Taubah.
Pelaksanaan Pengajian Ahad Pagi secara bergilir di 18 Ranting PCM Tulangan menunjukkan komitmen untuk menjadikan dakwah sebagai gerakan yang hidup dan dekat dengan masyarakat.
Pengajian Ahad Pagi PCM Tulangan bukan sekadar agenda rutin, tetapi menjadi ruang konsolidasi dakwah, silaturahmi, kaderisasi, sekaligus penguatan Ranting sebagai garda terdepan gerakan Muhammadiyah.





0 Tanggapan
Empty Comments