Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

12 Tahun AQBS Ponorogo, dari 18 Santri hingga Berkembang dengan Gedung Sendiri

Iklan Landscape Smamda
12 Tahun AQBS Ponorogo, dari 18 Santri hingga Berkembang dengan Gedung Sendiri
Sambutan direktur AQBS (Rifqi Ihsanu Najib/PWMU.CO)
pwmu.co -

Dari belajar di teras hingga memiliki gedung dan fasilitas sendiri, Aisyiyah Qur’anic Boarding School (AQBS) Ponorogo merefleksikan perjalanan 12 tahun pendidikannya dalam tasyakuran Milad ke-12, Selasa (11/8/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Masjid AQBS Ponorogo tersebut menjadi momentum untuk mensyukuri perjalanan lembaga sekaligus melakukan muhasabah dan evaluasi sebagai pijakan pengembangan pendidikan pada masa mendatang.

Tasyakuran dihadiri Badan Pembina Pesantren (BPP) AQBS serta unsur Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Ponorogo. Keluarga besar AQBS mengikuti sujud syukur dan tasyakuran sebagai bentuk rasa syukur atas berbagai nikmat, dukungan, dan kemudahan yang mengiringi perjalanan lembaga selama 12 tahun.

Bermula dari Pesantren Mahasiswa

Direktur AQBS Ponorogo, Ustadz Rifqi Ihsanu Najib, menjelaskan perjalanan lembaga tersebut bermula pada 2014 dengan embrio Pesantren Mahasiswa Aisyiyah (PMA).

Tiga tahun kemudian, lembaga tersebut berkembang melalui kerja sama dengan SMA Muhammadiyah 1 Ponorogo (Muhipo) dan menjadi Pesantren Tahfizhul Qur’an (PTQ) Aisyiyah. Dalam perkembangannya, lembaga tersebut kemudian hadir dengan nama Aisyiyah Qur’anic Boarding School (AQBS).

Dua belas tahun perjalanan tersebut tidak berlangsung tanpa tantangan. Keterbatasan fasilitas dan dukungan berbagai pihak menjadi bagian dari proses yang harus dilalui hingga AQBS mampu berkembang seperti saat ini.

Rifqi mengenang, pada 2021 jumlah santri AQBS masih sekitar 18 orang. Pada masa itu, kegiatan pendidikan berlangsung secara sederhana dan berpindah-pindah karena AQBS belum memiliki gedung sendiri.

Kondisi tersebut perlahan berubah berkat perjuangan dan dukungan berbagai pihak. AQBS kemudian memiliki gedung dan fasilitas sendiri untuk menunjang proses pendidikan para santriwati.

Salah satu bagian penting dalam perjalanan tersebut adalah wakaf dari almarhumah Ibu Qomariyah, ibunda Direktur AQBS, yang kemudian dilengkapi dukungan dari ibu-ibu PDA.

“Dulu kita belajar di teras karena belum memiliki gedung sendiri. Sekarang sudah memiliki ruang kelas sendiri. Dari yang dahulu kegiatannya masih sedikit, sekarang kegiatan semakin banyak. Ini merupakan kesyukuran yang luar biasa,” ungkap Rifqi.

Milad Menjadi Momentum Tasyakur dan Tafakkur

Memasuki usia ke-12, Rifqi mengajak keluarga besar AQBS tidak hanya merayakan pertambahan usia lembaga, tetapi juga menjadikannya sebagai momentum tasyakur dan tafakkur.

Menurutnya, tasyakur tidak cukup diwujudkan melalui rasa bangga atas perjalanan AQBS. Rasa syukur perlu diterjemahkan melalui upaya meningkatkan kualitas dan kuantitas lembaga, memperluas kebermanfaatan, serta melahirkan generasi yang sholihah, hafidzah, dan nafi’ah bagi umat.

SMPM 5 Pucang SBY

Sementara itu, tafakkur menjadi ruang untuk melakukan muhasabah terhadap perjalanan yang telah dilalui. Berbagai capaian perlu disyukuri, sedangkan kekurangan harus menjadi bahan evaluasi untuk menentukan langkah perbaikan.

“Dua belas tahun sudah berlalu. Maka perlu ada muhasabah dan evaluasi, sehingga ke depan AQBS bisa menjadi lebih baik. Mari sama-sama berjuang, belajar bersama, dan terus berkhidmat. Semoga perjuangan ini menjadi bagian dari jihad fi sabilillah,” pesannya.

AQBS Diibaratkan Memasuki Fase Remaja

Sambutan berikutnya disampaikan anggota BPP AQBS, Ummu Fatkul Jannah. Ia mengibaratkan AQBS yang telah memasuki usia 12 tahun seperti seorang anak yang mulai berada pada fase remaja awal.

Menurutnya, fase tersebut merupakan masa penting dalam pertumbuhan, perubahan, dan pencarian jati diri. Karena itu, AQBS diharapkan menjadi lingkungan yang mendukung para santriwati untuk tumbuh dan menemukan jati diri melalui pendidikan, pembinaan akhlak, serta lingkungan yang baik.

Ummu mengapresiasi perkembangan AQBS yang dinilainya semakin baik, baik dari sisi kuantitas maupun kualitas. Perkembangan tersebut, menurutnya, mulai dirasakan oleh masyarakat.

Ia berharap AQBS terus bertumbuh dan memberikan manfaat yang semakin luas pada tahun-tahun mendatang. Para santriwati juga didorong untuk terus belajar, berjuang, dan berkhidmat selama menjalani proses pendidikan di AQBS.

Apresiasi turut diberikan kepada para ustadz dan ustadzah yang selama ini mendampingi santriwati dalam menjalani proses pendidikan dan pembinaan.

Tasyakuran Milad ke-12 menjadi pengingat bagi keluarga besar AQBS bahwa perkembangan lembaga tersebut tidak terlepas dari doa, wakaf, dukungan, dan kebersamaan berbagai pihak.

Memasuki tahun ke-12, perjalanan tersebut menjadi bahan refleksi sekaligus pijakan bagi AQBS Ponorogo untuk memperkuat pendidikan dan pembinaan santriwati pada tahun-tahun mendatang. (*)

SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu