Nur Cholis Huda menggeser duduknya ketika Tim Majalah Matan datang. Sedikit ke samping. Memberi ruang kepada kami yang datang berempat. Ada Ainur Rofiq Shopiaan, Pemimpin Redaksi Matan. Ada Anifatul Asfiyah, sekretaris redaksi. Ada Edo di bagian grafis. Dan saya.
Pak Nur, begitu kami akrab menyapanya, menyambut kami dengan senyum. Wajahnya tampak cerah. Binar matanya terlihat jelas. Tidak ada kesan bahwa kami datang untuk membicarakan sesuatu yang serius.
Suasananya justru seperti pertemuan beberapa kawan lama yang sudah lama tidak duduk bersama.
Sesekali Pak Nur tertawa. Dia masih seperti yang saya kenal. Hangat. Cair. Dan selalu punya cerita.
Pertemuan itu memang sudah kami jadwalkan. Majalah Matan sedang bersiap memperingati perjalanan dua dekade.
Agustus 2026 ini, majalah yang menjadi salah satu ruang penting bagi tradisi literasi Muhammadiyah Jawa Timur itu genap berusia 20 tahun.
Dua puluh tahun. Angka yang panjang untuk sebuah majalah. Di dalamnya ada banyak nama. Banyak tulisan. Banyak peristiwa. Banyak orang yang pernah datang, menulis, lalu pergi.
Pak Nur termasuk yang tinggal cukup lama. Bahkan terlalu lama untuk sekadar disebut sebagai penulis.
Di Matan, dia duduk sebagai anggota Dewan Redaksi. Tetapi jauh sebelum itu, dia adalah salah satu penulis yang rajin mengisi halaman-halamannya.
Hampir setiap edisi Matan terbit, ada tulisannya. Kolomnya tidak berisik. Tidak pula berusaha terlihat pintar. Dia hanya bercerita tentang kehidupan sehari-hari.
Hal-hal kecil. Peristiwa yang sering dianggap biasa. Tetapi dari yang biasa itu Pak Nur menemukan sesuatu. Renungan. Pesan. Kadang humor. Kadang kritik.
Tulisan-tulisannya terasa dekat karena ia tidak sedang menggurui pembaca. Dia seperti sedang mengajak pembaca duduk. Ngobrol. Pelan-pelan. Sebagian tulisan itu kemudian dibukukan.
Maka, ketika kami datang sore itu, sebenarnya kami tidak sedang menemui seorang mantan penulis Matan.
Kami sedang menemui seseorang yang pernah ikut merawat perjalanan panjang sebuah majalah. Dan lebih jauh lagi, seorang penulis yang pernah begitu tekun menulis.
Kini ia tidak menulis lagi. Itulah yang membuat pertemuan ini menarik. Sebab pertanyaan terbesar kami sebenarnya sederhana.
***
Obrolan kami justru membawa kami jauh ke belakang. Ke Surabaya Post. Ke masa ketika menulis belum semudah sekarang. Saat menyebut nama itu, wajah Pak Nur semakin hidup.
Ke masa ketika Pak Nur masih rutin menulis di koran sore terbesar di Jawa Timur itu. Belum ada media sosial. Belum ada WhatsApp.
Belum ada tombol publish yang bisa ditekan kapan saja. Untuk bisa tampil di koran, seorang penulis harus punya sesuatu untuk dikirim. Dan dari situlah cerita panjang tentang seorang penulis.
Surabaya Post pernah menjadi koran yang sangat berpengaruh di Jawa Timur. Koran itu didirikan pada 1 April 1953 oleh pasangan wartawan A. Azis dan Toety Azis.
Terbut sore. Justru itu kekuatannya. Ketika koran pagi sudah selesai dibaca, Surabaya Post datang membawa berita baru.
Koran itu pernah menjadi ikon pers Jawa Timur. Menjadi rujukan. Menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Surabaya dan sekitarnya.
Tetapi zaman berubah. Masalah keuangan datang. Tiras menurun. Persaingan semakin keras. Surabaya Post akhirnya berhenti terbit secara permanen pada 2002.
Pak Nur pernah menjadi bagian dari perjalanan koran itu. Dia mengisi rubrik keagamaan. Bukan sejak awal. Ada cerita menarik di baliknya.
Rubrik tersebut sebelumnya sering diisi H. Isngadi, BA. Nama yang tidak asing bagi warga Muhammadiyah Jawa Timur.
Isngadi bukan hanya tokoh Muhammadiyah. Dia juga dosen di Akademi Wartawan Surabaya (AWS). Pernah beberapa tahun menjadi Ketua Majelis Pustaka Pimpinan Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur. Saya mengenalnya. Saya pernah menjadi anggota majelis yang dipimpinnya.
Suatu ketika, kata Pak Nur, Isngadi menyampaikan pesan kepadanya. “Pak Nur, jenengan yang ngisi di Surabaya Post. Menggantikan saya. Kalau tidak nanti bisa diisi orang lain.”
Kalimat itu sederhana. Tetapi menancap. Pak Nur menangkapnya sebagai tantangan. Kalau bukan dia, bisa orang lain. Maka ia mulai rutin menulis.
Kesibukan pun bertambah. Siang menjadi pegawai negeri sipil. Di sela-sela itu menjadi penulis. Menulis bukan pekerjaan sambilan bagi Pak Nur. Dia menikmatinya.
Pak Nur menikmatinya seperti orang yang menemukan ruang lain di tengah kesibukan.
Dari obrolan itu saya semakin paham satu hal. Bagi Pak Nur, menulis bukan sekadar menuangkan kata. Menulis membutuhkan perhatian.
Menulis, bagi Pak Nur, seperti menggoreng kacang. Kacang harus diperhatikan. Apinya harus pas. Harus terus diaduk. Tidak boleh ditinggal. Kalau apinya terlalu besar, gosong. Kalau terlalu kecil, tidak matang. Kalau tidak diaduk, sebagian hangus. Sebagian lagi masih mentah.
Tulisan pun begitu. Harus ditemani sampai matang. Gagasan dicari. Kalimat diaduk. Bagian yang pahit dibuang. Yang kurang matang diperbaiki. Baru kemudian disajikan.
Perumpamaan itu terasa sangat Pak Nur. Sederhana. Tetapi masuk akal. Mungkin karena dia memang terbiasa membaca. Banyak membaca. Rakus membaca, kalau boleh memakai istilah yang lebih tepat.
Koleksi bukunnya banyak. Buku menjadi teman yang tidak pernah benar-benar pergi. Dari buku-buku itu, ia mendapatkan banyak bahan. Tetapi bukan hanya bahan tulisan. Dia mendapatkan cara melihat. Itulah yang membuat tulisannya terasa renyah.
Pak Nur tidak perlu mencari peristiwa besar untuk menulis. Hal kecil pun bisa menjadi cerita. Segelas kopi. Percakapan dengan seseorang. Perjalanan. Kebiasaan manusia. Atau kejadian yang mungkin dilewati begitu saja oleh orang lain.
Pak Nur bisa melihatnya berbeda. Lalu menuliskannya. Mungkin di situlah kekuatan seorang penulis.
Bukan selalu pada kemampuan menemukan cerita besar. Tetapi pada kemampuan melihat sesuatu yang kecil sebagai sesuatu yang berarti.
Dan Pak Nur pernah sangat lama melakukan itu. Menulis. Membaca. Menulis lagi. Sampai kemudian, suatu hari, ia berhenti menulis. Itulah bagian yang ingin kami dengar lebih jauh.
Mengapa Pak Nur tidak menulis lagi?
Pertanyaan itu masih menggantung. Dan pertemuan kami belum selesai. (bersambung)





0 Tanggapan
Empty Comments