Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) BEM Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (BEM FPP UMM) memperkenalkan dan mengimplementasikan Smart Multifunctional Fermentor kepada petani kopi Desa Klampok pada Jumat (13/8/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Balai Dusun Sumbul tersebut menjadi bagian dari pendampingan tim PPK Ormawa BEM FPP UMM kepada Kelompok Tani Hutan (KTH) Wono Klampok Lestari dalam mengembangkan pengolahan kopi pascapanen.
Kegiatan dihadiri pengurus dan anggota KTH Wono Klampok Lestari serta pengurus koperasi setempat. Para petani mengikuti pemaparan dan demonstrasi penggunaan alat, termasuk penjelasan mengenai cara pengoperasian serta pengendalian suhu dan waktu selama proses fermentasi.
Ketua Tim PPK Ormawa BEM FPP UMM, Mochammad Amir Muchtar, menjelaskan Smart Multifunctional Fermentor digunakan untuk membantu petani mengendalikan proses fermentasi secara lebih terukur. Menurutnya, pengendalian tersebut diperlukan agar proses fermentasi dapat berlangsung secara lebih konsisten.
“Alat ini kami rancang agar petani dapat mengendalikan proses fermentasi dengan lebih presisi, sehingga kualitas kopi yang dihasilkan bisa lebih konsisten dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas,” ungkapnya.
Dalam demonstrasi tersebut, tim menggunakan ragi Fermipan dengan metode carbonic maceration. Teknik tersebut merupakan metode fermentasi dengan kondisi minim oksigen yang ditujukan untuk membentuk karakter cita rasa tertentu pada kopi.

Penerapan teknologi tersebut menjadi bagian dari pendampingan pengolahan kopi pascapanen yang selama ini dilakukan secara konvensional oleh petani. Melalui alat tersebut, proses fermentasi dapat dipantau berdasarkan parameter yang telah ditentukan.
Ketua KTH Wono Klampok Lestari, Purwito, menyambut baik pendampingan yang diberikan mahasiswa. Ia berharap penggunaan alat tersebut dapat membantu petani meningkatkan kualitas hasil pengolahan kopi.
“Kami sangat bersyukur atas pendampingan dari adik-adik mahasiswa. Selama ini fermentasi kopi kami lakukan secara konvensional, dan dengan adanya alat ini kami berharap hasil panen bisa lebih baik lagi. Semoga program seperti ini bisa terus berlanjut ke depannya,” tuturnya.
Selain kelompok tani, pengurus koperasi setempat turut mendukung penerapan teknologi tersebut. Koperasi diharapkan dapat berperan dalam pengelolaan hasil produksi sekaligus membantu pemasaran kopi yang telah melalui proses pengolahan dengan metode tersebut.
Kolaborasi antara mahasiswa, kelompok tani, dan koperasi menjadi bagian dari upaya membangun pengolahan kopi yang terintegrasi. Pendampingan tidak hanya diarahkan pada proses fermentasi, tetapi juga pada keberlanjutan pengelolaan dan pemasaran hasil produksi.
Melalui implementasi Smart Multifunctional Fermentor, tim PPK Ormawa BEM FPP UMM memberikan kesempatan kepada petani untuk mengenal teknologi pengolahan pascapanen yang lebih terukur. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang bagi petani untuk berdiskusi mengenai kendala fermentasi dan kemungkinan penerapan teknologi dalam produksi kopi mereka.
Kegiatan ditutup dengan diskusi antara tim PPK Ormawa, anggota KTH Wono Klampok Lestari, dan pengurus koperasi. Pembahasan mencakup pemanfaatan alat serta rencana pendampingan lanjutan untuk mendukung penerapan teknologi fermentasi kopi di Desa Klampok. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments