Di balik seragam perawat yang kini dikenakan di Saudi German Health Specialized Center (SGH) Abha, Arab Saudi, tersimpan kisah panjang tentang air mata, pengorbanan, dan doa seorang ibu. Dialah Ns. Sylvie Aprilyanti Amandha I.H., S.Kep., alumni Program Profesi Ners Universitas Muhammadiyah Lamongan (Umla) tahun 2024 yang membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi tidak pernah mampu menghalangi seseorang menggapai cita-cita.
Perempuan asal Dusun Gabus, Desa Tambakploso, Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan tersebut kini bertugas di Outpatient Department (OPD) Saudi German Health Specialized Center Abha, salah satu rumah sakit bertaraf internasional di Arab Saudi. Namun, perjalanan menuju negeri para nabi bukanlah kisah yang mudah. Di balik keberhasilannya hari ini, tersimpan perjuangan panjang yang dimulai dari rumah sederhana, tempat seorang ibu berjuang siang dan malam demi pendidikan anak semata wayangnya.
Sylvie mengenang masa-masa menjelang menyelesaikan pendidikan sarjana hingga Program Profesi Ners sebagai periode paling berat dalam hidupnya. Kondisi ekonomi keluarga yang semula cukup stabil mulai berubah ketika dirinya memasuki semester akhir. Besarnya biaya pendidikan membuatnya sempat berpikir untuk menghentikan langkah.
“Saya pernah mengatakan kepada sahabat saya bahwa saya tidak ingin melanjutkan Profesi Ners karena kondisi ekonomi keluarga yang sedang sulit. Saat itu saya benar-benar bingung,” kenangnya.
Sebagai anak tunggal, Sylvie menyaksikan sendiri bagaimana ibunya berjuang tanpa mengenal lelah. Sang ibu bekerja sebagai penjahit rumahan sekaligus perias pengantin (Make Up Artist/MUA). Hampir setiap hari menerima pesanan jahitan maupun rias pengantin demi memenuhi kebutuhan keluarga. Bahkan, ketika biaya pendidikan profesi semakin besar, sang ibu rela meminjam uang kepada keluarga agar putrinya tetap dapat melanjutkan pendidikan.
“Bagi saya, perjuangan ibu adalah pelajaran hidup yang tidak akan pernah saya lupakan. Beliau rela mengesampingkan gengsi demi keluarga. Hampir setiap hari menerima job rias, bekerja sejak sebelum matahari terbit hingga matahari hampir tenggelam. Saya melihat sendiri bagaimana lelahnya beliau, tetapi beliau hampir tidak pernah mengeluh,” tutur Sylvie.
Melihat perjuangan tersebut, Sylvie tidak ingin hanya menjadi penonton. Di sela-sela kesibukan kuliah, ia ikut menerima pekerjaan sebagai MUA untuk membantu ibunya. Selain itu, sejak semester pertama hingga akhir, ia terus berusaha memperoleh berbagai beasiswa agar dapat meringankan beban biaya pendidikan.
Menariknya, menjadi perawat bukanlah cita-cita awal Sylvie. Ia sempat diterima di Universitas Muhammadiyah Surabaya pada Program Studi Administrasi Publik. Namun, sebuah peristiwa mengubah jalan hidupnya.
Ketika sang nenek mengalami stroke, Sylvie memutuskan tetap kuliah di kota asal agar dapat membantu merawat neneknya saat ibunya bekerja.
“Dari situ saya merasa ingin menjadi seseorang yang berguna bagi keluarga, terutama ketika mereka sedang sakit. Akhirnya saya memilih menjadi perawat,” ujarnya.
Selepas menyelesaikan pendidikan profesi, tantangan baru kembali datang. Kesempatan bekerja di Arab Saudi membutuhkan biaya yang tidak sedikit, mulai dari pelatihan, pembuatan paspor, hingga berbagai dokumen keberangkatan.
Dalam kondisi tersebut, Sylvie mengaku mendapat dukungan besar dari salah seorang dosennya di Umla, Nur Hidayati, S.Kep., Ns., M.Kep., yang terus membimbing dan memberikan motivasi hingga akhirnya ia berani mengambil kesempatan bekerja di luar negeri.
Sylvie kemudian mengikuti program pelatihan calon perawat Arab Saudi selama tiga bulan di Umla, dilanjutkan dengan pelatihan di rumah sakit sebelum menjalani proses wawancara. Setelah dinyatakan lolos, ia berangkat ke Jakarta untuk mengurus visa, biometrik, serta berbagai dokumen keberangkatan.
Pada 26 Juni 2025, Sylvie akhirnya terbang menuju Jeddah untuk memulai babak baru kehidupannya sebagai perawat profesional di Arab Saudi.
Keputusan meninggalkan keluarga bukan perkara mudah. Terlebih, ia harus berpisah dengan ibu yang selama ini menjadi sumber kekuatan hidupnya.
“Saya sedih harus meninggalkan keluarga. Ada rasa takut karena hidup di lingkungan baru dan jauh dari rumah. Tetapi saya sadar, saya membawa harapan untuk memperbaiki keadaan keluarga dan membalas semua perjuangan orang tua,” ungkapnya.

Awal bekerja di Arab Saudi menjadi fase yang penuh tantangan. Ia harus beradaptasi dengan lingkungan kerja multinasional, budaya baru, sistem pelayanan kesehatan bertaraf internasional, hingga penggunaan bahasa Inggris dan Arab dalam komunikasi sehari-hari. Perbedaan budaya kerja, standar pelayanan, serta ritme kerja yang tinggi menjadi pengalaman baru yang membentuknya menjadi pribadi yang lebih disiplin, mandiri, dan profesional.
Meski demikian, Sylvie memilih menjadikan setiap tantangan sebagai kesempatan untuk terus belajar. Ia berusaha memberikan pelayanan terbaik kepada setiap pasien, membangun komunikasi yang baik dengan rekan kerja dari berbagai negara, serta terus meningkatkan kompetensi sebagai perawat profesional.
Perubahan terbesar pun mulai dirasakan di kampung halaman. Kondisi ekonomi keluarga perlahan membaik. Beban yang dahulu dipikul ibunya kini mulai berkurang.
Momen paling mengharukan baginya adalah ketika mampu memberikan hasil jerih payah kepada kedua orang tuanya.
“Saya sangat terharu ketika sudah bisa memberi uang kepada orang tua sehingga mereka bisa membeli apa yang mereka inginkan. Saya tidak pernah menyangka bisa membuat mereka bangga melalui hasil kerja keras saya,” katanya.
Bagi Sylvie, seluruh pencapaian yang diraih hari ini bukan semata hasil kerja kerasnya sendiri, melainkan buah dari doa seorang ibu.
“Saya percaya, semua yang saya capai hingga bisa bekerja di Arab Saudi tidak lepas dari doa ibu. Terutama ketika menjalani proses interview, saya selalu yakin ada doa beliau yang menguatkan setiap langkah saya.”
Kerja keras, dedikasi, dan profesionalisme yang ia tunjukkan selama bekerja akhirnya membuahkan hasil yang membanggakan. Hanya dalam waktu sekitar satu tahun berkarier di Saudi German Health Specialized Center Abha, Sylvie berhasil meraih dua penghargaan bergengsi dari rumah sakit tempatnya bekerja.
Penghargaan pertama adalah Employee of the Month periode Juni 2026, penghargaan tertinggi yang diberikan kepada karyawan dengan performa kerja terbaik. Penilaian dilakukan secara menyeluruh berdasarkan kualitas pelayanan kepada pasien, kedisiplinan, tanggung jawab, profesionalisme, kemampuan bekerja sama dalam tim, kepatuhan terhadap standar keselamatan pasien, hingga sikap positif di lingkungan kerja.
Setiap unit mengusulkan kandidat terbaik yang kemudian dievaluasi oleh tim manajemen berdasarkan rekam jejak dan pencapaian kinerja selama periode penilaian. Atas dedikasi dan konsistensinya dalam memberikan pelayanan keperawatan yang profesional, Sylvie dipercaya sebagai penerima Employee of the Month Juni 2026.
Tidak hanya itu, ia juga menerima Recognition Award dari Hospital Marketing Team atas kontribusi aktifnya dalam berbagai kegiatan yang diselenggarakan rumah sakit.
“Penghargaan ini diberikan oleh Hospital Marketing Team karena saya aktif berkontribusi dalam setiap event yang diselenggarakan oleh rumah sakit,” jelasnya.
Berbagai kegiatan tersebut meliputi edukasi kesehatan kepada masyarakat, kampanye promosi kesehatan, kegiatan sosial, peringatan hari-hari kesehatan nasional maupun internasional, hingga berbagai aktivitas yang bertujuan meningkatkan citra pelayanan rumah sakit.
Keaktifan Sylvie menunjukkan bahwa seorang perawat tidak hanya bertugas memberikan pelayanan klinis kepada pasien, tetapi juga mampu menjadi bagian dari upaya edukasi kesehatan dan pengembangan institusi.
Bagi Sylvie, dua penghargaan tersebut bukanlah tujuan akhir, melainkan amanah untuk terus memberikan pelayanan terbaik kepada setiap pasien serta terus membawa nama baik Indonesia dan almamater Universitas Muhammadiyah Lamongan di kancah internasional.
Meski telah berhasil mewujudkan salah satu impiannya, perempuan kelahiran Lamongan itu masih menyimpan cita-cita yang ingin diwujudkan. Ia ingin memberangkatkan kedua orang tuanya menunaikan ibadah umrah, membangun rumah impian keluarga, sekaligus mengembangkan usaha rias pengantin milik sang ibu agar semakin maju.
Menutup kisahnya, Sylvie menitipkan pesan kepada anak-anak muda yang tumbuh dalam keluarga sederhana agar tidak pernah menyerah pada keadaan.
“Jangan pernah malu dengan keadaan keluarga kalian. Keadaan sulit bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Saya belajar bahwa perjuangan orang tua adalah alasan terbesar untuk terus berusaha. Mungkin jalan kita tidak semudah orang lain, tetapi selama kita mau berjuang, berdoa, dan menghargai pengorbanan orang tua, selalu ada jalan menuju masa depan yang lebih baik. Jangan lelah berproses, karena suatu hari nanti kalian akan bangga telah melewati semuanya.”
Kisah Sylvie menjadi bukti bahwa doa orang tua, ketekunan, dan semangat pantang menyerah mampu mengubah keterbatasan menjadi harapan. Dari seorang anak penjahit di pelosok Lamongan, ia berhasil mengabdikan diri sebagai perawat profesional di Arab Saudi sekaligus menorehkan prestasi internasional melalui dua penghargaan bergengsi yang diraihnya. Sebuah perjalanan yang membuktikan bahwa kesuksesan bukan hanya tentang seberapa tinggi seseorang bermimpi, tetapi juga tentang seberapa besar ia menghargai doa, pengorbanan, dan kasih sayang orang tua yang mengiringi setiap langkahnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments