Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Gerbong Kereta Jadi Saksi Perjuangan Rifaldi Menuntut Ilmu di Smamita

Iklan Landscape Smamda
Gerbong Kereta Jadi Saksi Perjuangan Rifaldi Menuntut Ilmu di Smamita
Rifaldi Faleri, siswa X-5A Muhammadiyah International Class Orientation SMA Muhammadiyah 1 Taman sedang menikmati perjalanan menggunakan transportasi umum. Foto: Nashiiruddin
Oleh : Nashiiruddin

Saat sebagian siswa masih terlelap dalam dinginnya pagi, Rifaldi Faleri sudah membuka mata. Jarum jam menunjukkan sekitar pukul 04.00 WIB. Di tengah suasana yang masih sunyi, siswa X-5A Muhammadiyah International Class Orientation (M-ICO) SMA Muhammadiyah 1 Taman (Smamita) itu bersiap meninggalkan rumah untuk menjemput cita-cita yang berjarak puluhan kilometer.

Dari rumahnya di Desa Gempol Klutuk, Rifaldi bergegas menuju Stasiun Kedinding. Kereta api telah menjadi bagian dari rutinitas paginya untuk menuju Smamita, Jumat (25/9/2026).

Setiap pagi, rangkaian aktivitasnya dimulai ketika langit masih gelap. Setelah bersiap di rumah, ia menuju stasiun, menaiki kereta menuju Stasiun Sepanjang, lalu melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sekitar setengah kilometer hingga tiba di sekolah.

Bagi sebagian orang, jarak 25 kilometer mungkin terasa melelahkan. Namun, bagi Rifaldi, jarak bukan alasan untuk berhenti belajar. Dari dinginnya udara pagi, sunyinya stasiun, hingga panjangnya perjalanan, ia menemukan arti sebuah ketekunan.

Dari Stasiun Kedinding, Rifaldi menaiki kereta menuju Stasiun Sepanjang. Setelah turun, ia kembali berjalan kaki hingga sampai di Smamita.

Rutinitas tersebut telah menjadi bagian dari kesehariannya. Lorong gerbong, suara roda kereta, suasana stasiun, hingga langkah kaki menuju sekolah seolah menjadi saksi perjalanan seorang pelajar dalam mengejar pendidikan dan cita-cita.

“Perjalanan ini tentu tidaklah mudah. Saya harus mempersiapkan semuanya sejak bangun pagi pukul 04.00 WIB. Setelah bersih diri dan melaksanakan shalat Subuh, saya harus bergegas. Tidak boleh melebihi batas waktu. Sesegera mungkin saya harus menuju stasiun, kemudian naik kereta hingga sampai di Stasiun Sepanjang dan berjalan menuju Smamita,” tutur Rifaldi.

Memilih Smamita untuk Menata Masa Depan

Jarak yang ditempuh Rifaldi setiap hari memiliki alasan. Di antara sejumlah pilihan sekolah, ia memilih Smamita karena tertarik dengan program pendidikan yang dinilainya sesuai dengan kebutuhan dan cita-citanya.

Program International Class menjadi salah satu alasan yang membuatnya mantap memilih Smamita. Selain itu, berbagai fasilitas pembelajaran juga dinilainya dapat menunjang perkembangan siswa.

“Saya memilih Smamita karena menurut saya sekolah ini bisa memberikan masa depan yang lebih baik. Ada program yang tidak semua sekolah memilikinya, khususnya International Class, ditambah dengan fasilitas yang menunjang pembelajaran,” ujarnya.

Sebagai siswa International Class, Rifaldi berusaha memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memperluas wawasan. Baginya, pendidikan tidak hanya berlangsung di dalam ruang kelas.

Rutinitas berangkat sekolah sejak dini hari juga mengajarkannya disiplin, kemandirian, dan tanggung jawab. Ia harus mampu mengatur waktu agar perjalanan dengan kereta tidak mengganggu aktivitas belajar di sekolah.

SMPM 5 Pucang SBY

Dari Peron Kereta Menuju Kampus Impian

Rifaldi merupakan alumni SMP Muhammadiyah 6 Krian. Kini, dari bangku Smamita, ia mulai menyusun langkah menuju cita-cita berikutnya.

Ia menyimpan keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri (PTN). Salah satu kampus yang menjadi impiannya adalah Universitas Airlangga (Unair).

“Setelah lulus nanti, saya ingin melanjutkan kuliah di PTN impian saya, Universitas Airlangga,” ungkapnya.

Cita-cita itu pula yang membuat perjalanan dari rumah menuju sekolah memiliki makna tersendiri. Ketika sebagian orang masih menikmati waktu istirahat, Rifaldi sudah berada di perjalanan.

Baginya, kereta api bukan sekadar sarana transportasi. Setiap perjalanan menjadi pengingat bahwa cita-cita harus diperjuangkan dengan kesungguhan.

Jarak 25 kilometer yang ditempuh setiap hari perlahan membentuk kisahnya sendiri. Dari rumah menuju stasiun, dari peron menuju gerbong kereta, hingga berjalan kaki dari Stasiun Sepanjang menuju Smamita.

“Untuk menggapai mimpi, kita harus berani melangkah dan tidak menjadikan jarak sebagai alasan untuk berhenti,” pesannya.

Lorong gerbong menjadi saksi. Peron menjadi tempat menunggu, sedangkan langkah kaki menjadi bagian dari perjuangan. Di Smamita, Rifaldi menemukan ruang untuk terus belajar dan menata masa depan.

Perjalanan 25 kilometer itu akhirnya bukan lagi sekadar rutinitas menuju sekolah. Bagi Rifaldi, setiap kilometer menjadi bagian dari kisah tentang ketekunan, kemandirian, dan keberanian menjemput masa depan.

Dari Stasiun Kedinding menuju Stasiun Sepanjang, ada cita-cita yang selalu ia bawa. Sebuah keyakinan sederhana bahwa sejauh apa pun jarak yang harus ditempuh, langkah menuju masa depan harus tetap dilanjutkan. (*)

Revisi Oleh:
  • Wildan Nanda Rahmatullah - 26/09/2026 05:15
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu