Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Dari Kampus ke Dapur Sate: Kisah Dosen dan Aktivis Persyarikatan Membangun Kemandirian Ekonomi

Iklan Landscape Smamda
Dari Kampus ke Dapur Sate: Kisah Dosen dan Aktivis Persyarikatan Membangun Kemandirian Ekonomi
Menikmati sata racikan Gus Ubaid. Foto: Istimewa

Menjadi dosen tidak harus berhenti di ruang kuliah. Menjadi aktivis Persyarikatan pun tidak berarti hanya sibuk di ruang-ruang organisasi.

Ilmu bisa dibawa ke dapur usaha. Aktivisme bisa bertemu dengan entrepreneurship. Dan sebuah rumah makan bisa berubah menjadi ruang silaturahmi sekaligus ikhtiar membangun kemandirian ekonomi.

Gambaran itu terasa ketika saya bersama istri, Jumat malam (14/8/2026), menyambangi Rumah Sate Mapan di Jalan KH Ahmad Dahlan No. 61, Lebo, Sidoarjo. Kami datang diantar sopir.

Malam itu, sahabat saya, Dr. Hasan Ubaidillah, karib disapa Gus Ubaid, sedang berada di lokasi.

Gus Ubaid bukan sekadar pemilik usaha kuliner. Dia dosen Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) sekaligus Ketua Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid (LPCRPM) PWM Jawa Timur.

Pertemuan pun berlangsung cair. Tidak terasa seperti pertemuan seorang dosen dengan mahasiswa. Tidak pula seperti pertemuan aktivis dalam sebuah forum resmi.

Kami duduk, berbincang, dan menikmati hidangan. Sate dan gule menjadi teman percakapan.

Justru dari meja makan sederhana itulah cerita menarik tentang kemandirian ekonomi bermula.

Sebagai dosen Fakultas Ekonomi, Gus Ubaid tentu tidak asing dengan istilah kewirausahaan, manajemen, pemasaran, perilaku konsumen, hingga strategi pengembangan usaha.

Tetapi teori akan terasa berbeda ketika berhadapan langsung dengan pelanggan.

Di ruang kuliah, mahasiswa bisa berdiskusi tentang bagaimana membangun bisnis. Di dapur rumah makan, teori itu diuji setiap hari.

Ada pelanggan yang datang. Ada bahan baku yang harus disiapkan. Ada rasa yang harus dijaga. Ada harga yang harus dihitung. Ada pelayanan yang harus dipertahankan. Dan ada kepercayaan pelanggan yang harus dibangun dari hari ke hari.

Di situlah menariknya Rumah Sate Mpan . Seorang akademisi tidak hanya berbicara tentang kewirausahaan, tetapi mencoba masuk langsung ke dunia usaha. Langkah itu sederhana. Namun maknanya cukup besar.

Sebab kemandirian ekonomi memang tidak lahir dari teori semata. Ia membutuhkan keberanian untuk memulai.

Rumah Sate Mapan memiliki tagline yang sederhana: “Nikmat, Lezat, Harga Bersahabat!” Tagline itu bukan sekadar rangkaian kata. Satu porsi dibanderol Rp13.000.

Menu yang ditawarkan pun akrab dengan lidah masyarakat. Ada sate kambing dan sate sapi, lengkap dengan nasi putih, tiga tusuk sate, serta gule. Harga bersahabat menjadi salah satu daya tariknya.

Mahasiswa bisa datang. Karyawan bisa makan. Dosen bisa mampir. Aktivis Persyarikatan bisa berbincang. Keluarga pun dapat menikmati makan malam bersama tanpa harus mengeluarkan biaya besar.

Di tengah daya beli masyarakat yang harus dijaga, usaha kuliner dengan konsep sederhana dan harga terjangkau memiliki ruang tersendiri.

Tetapi ada hal lain yang tak kalah penting. Rumah makan seperti ini bisa menjadi ruang perjumpaan. Orang datang untuk makan, tetapi pulang membawa cerita.

Dari Kampus ke Dapur Sate: Kisah Dosen dan Aktivis Persyarikatan Membangun Kemandirian Ekonomi
Menut Sate Mapan yang menggoda lidah.

Dari Ruang Kuliah ke Ruang Publik

Perjalanan Gus Ubaid memperlihatkan bahwa dunia akademik dan dunia usaha tidak harus dipisahkan oleh tembok.

Kampus menghasilkan ilmu dan gagasan. Dunia usaha menguji gagasan tersebut dalam kenyataan. Sementara Persyarikatan dapat menjadi ruang yang mempertemukan ilmu, pengabdian, dan kebermanfaatan.

SMPM 5 Pucang SBY

Gus Ubaid berada di tiga dunia itu sekaligus: akademisi, aktivis Persyarikatan, dan entrepreneur. Tiga peran tersebut sebenarnya memiliki satu titik temu: pengabdian.

Sebagai dosen, dia mengabdi melalui pendidikan. Sebagai aktivis Persyarikatan, dia mengabdi melalui gerakan organisasi. Sebagai pengusaha, dia mencoba membangun kemandirian ekonomi sekaligus memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Ketiganya tidak harus berjalan sendiri-sendiri. Justru ketika bertemu, ketiganya bisa saling menguatkan.

Malam itu saya kembali diingatkan bahwa rumah makan bukan semata tempat orang mengisi perut. Ia bisa menjadi ruang silaturahmi. Dari meja makan, pembicaraan bisa bergerak ke mana saja.

Tentang keluarga. Tentang kampus. Tentang organisasi. Tentang ekonomi. Tentang masa depan.

Bagi aktivis Persyarikatan, ruang-ruang informal semacam itu sesungguhnya penting. Sebab gerakan tidak selalu lahir dari rapat resmi.

Kadang sebuah gagasan justru muncul ketika beberapa orang duduk santai, berbicara dari hati ke hati, sambil menikmati sate dan semangkuk gule.

Rumah Sate Mapan, dengan demikian, tidak hanya menarik dilihat sebagai usaha kuliner. Ia menjadi gambaran kecil tentang bagaimana akademisi, aktivisme, dan entrepreneurship bisa berjalan beriringan.

Nama Mapan juga menarik untuk direnungkan. Mapan bukan berarti berhenti. Mapan justru bisa berarti memiliki fondasi yang cukup kuat untuk terus bergerak dan berkembang.

Bagi seorang dosen, kemapanan tidak cukup diukur dari jabatan akademik. Bagi seorang aktivis Persyarikatan, keberhasilan tidak berhenti pada posisi organisasi. Dan bagi seorang pengusaha, keberhasilan bukan hanya soal omzet.

Ada ukuran lain yang lebih penting: seberapa jauh aktivitas itu memberi manfaat kepada orang lain.

Rumah Sate Mapan mungkin masih sebuah usaha yang sederhana. Tetapi semua usaha besar selalu memiliki titik awal.

Ada keberanian untuk membuka pintu. Ada keberanian untuk melayani pelanggan pertama. Ada keberanian menghadapi risiko. Ada keberanian untuk terus mencoba. Dan dari keberanian-keberanian kecil itulah kemandirian ekonomi dibangun.

Dari Kampus ke Dapur Sate: Kisah Dosen dan Aktivis Persyarikatan Membangun Kemandirian Ekonomi
(ki-ka). Tutuk, Enik, Gus Ubaid dan penulis. Foto: Istimewa

Tiga Tusuk Sate dan Sebuah Ikhtiar

Malam semakin larut ketika percakapan kami berakhir. Saya pulang membawa satu kesan. Bahwa gerakan kemandirian ekonomi tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar.

Kadang ia dimulai dari sebuah rumah makan sederhana. Dari dapur yang mengepul. Dari tiga tusuk sate. Dari nasi putih. Dari semangkuk gule. Dan dari seorang dosen sekaligus aktivis Persyarikatan yang berani mencoba memasuki dunia usaha.

Rumah Sate Mapan mungkin hanyalah satu contoh kecil. Tetapi dari tempat kecil seperti inilah sebuah ikhtiar bisa tumbuh.

Sebab gerakan yang kuat bukan hanya gerakan yang pandai berbicara tentang perubahan. Gerakan yang kuat adalah gerakan yang berani menciptakan perubahan. Termasuk perubahan melalui kemandirian ekonomi.

Dan malam itu, saya melihat perubahan kecil tersebut hadir dalam bentuk yang sangat sederhana: tiga tusuk sate, nasi putih, semangkuk gule, dan keberanian untuk memulai. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 14/08/2026 21:22
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu