Pemangkasan anggaran Dinas Pendidikan Jawa Timur sekitar Rp 104,5 miliar dalam Perubahan APBD 2026 menuai perhatian Anggota Komisi E DPRD Jatim, Dr. H. Suli Da’im, M.M., P.Ma.
Dia mengingatkan agar kebijakan efisiensi anggaran tidak berujung pada berkurangnya kualitas layanan pendidikan. Menurutnya, pendidikan merupakan sektor strategis yang langsung menentukan kualitas sumber daya manusia Jawa Timur.
“Pendidikan adalah investasi masa depan. Karena itu, efisiensi jangan sampai mengorbankan guru dan siswa. Kita harus memastikan hak dan kesejahteraan guru tetap menjadi prioritas,” tegas Suli Da’im, Rabu (9/9/20206).
Menurut dia, kebutuhan sektor pendidikan di Jawa Timur masih sangat besar. Persoalannya bukan hanya menyangkut kesejahteraan dan kompetensi guru, tetapi juga kondisi sarana dan prasarana sekolah yang menjadi penunjang utama proses pembelajaran.
Suli menyebut sejumlah kebutuhan yang masih harus diperkuat, antara lain rehabilitasi ruang kelas, laboratorium, perpustakaan, sanitasi, serta berbagai fasilitas pembelajaran.
“Keberpihakan anggaran harus dirasakan sampai ke ruang kelas. Jangan kita bicara transformasi pendidikan, tetapi masih ada sekolah yang sarana-prasarananya belum memadai,” ujar dosen akultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammasiyah Surabaya (Umsura) itu.
Karena itu, Suli meminta proses efisiensi dilakukan secara transparan, terukur, dan berbasis prioritas. Pengurangan anggaran, kata dia, harus dipastikan tidak menyentuh program-program yang memberikan dampak langsung kepada guru dan peserta didik.
Bagi Suli, efisiensi anggaran bukan persoalan sekadar mengurangi angka belanja. Yang jauh lebih penting adalah memastikan setiap rupiah yang dialokasikan tetap mampu menjawab kebutuhan pendidikan di lapangan.
Wakil Ketua Majelis Pustaka, Informasi dan Digitalisasi (MPID) PWM Jatim itu, mendorong agar pembahasan Perubahan APBD Jatim 2026 tetap menempatkan pendidikan sebagai salah satu prioritas pembangunan sumber daya manusia.
Dia menilai ukuran keberhasilan anggaran pendidikan semestinya tidak berhenti pada besarnya anggaran yang terserap. Ukuran yang lebih penting adalah perubahan yang dirasakan guru, siswa, dan sekolah.
“Ukuran keberhasilan anggaran pendidikan bukan hanya berapa yang dibelanjakan, tetapi apa dampaknya: guru lebih sejahtera, sekolah lebih layak, pembelajaran lebih berkualitas, dan masa depan anak-anak Jawa Timur semakin baik,” pungkas anggota DPRD Jatim dari Dapil IX, yang meliputi Ponorogo, Ngawi, Magetan, Trenggalek, dan Pacitan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments