Pertanian menjadi salah satu mata pencaharian utama masyarakat Desa Banyulegi, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto. Dalam kegiatan bertani, penebaran pupuk menjadi salah satu proses penting yang harus dilakukan untuk menunjang pertumbuhan tanaman. Namun, proses tersebut masih dilakukan secara manual oleh sebagian petani sehingga membutuhkan tenaga dan waktu yang cukup besar.
Kondisi tersebut terutama dirasakan oleh petani yang mengelola tanaman lahan kering seperti jagung, tembakau, dan tebu. Dalam proses penebaran pupuk secara manual, petani harus mengambil dan menakar pupuk menggunakan tangan sambil membungkuk, kemudian menebarkannya secara bertahap di sepanjang lahan. Selain melelahkan, cara tersebut juga dinilai kurang efisien apabila dilakukan pada lahan yang cukup luas.
Melihat permasalahan tersebut, mahasiswa Kelompok 14 Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) menghadirkan sebuah inovasi berupa alat penebar pupuk padat, Senin (7/9/2026). Alat tersebut menjadi salah satu program kerja utama Kelompok 14 KKN Desa Banyulegi yang ditujukan untuk membantu meringankan pekerjaan petani dalam proses pemupukan.
Setelah proses pembuatan alat selesai, mahasiswa kemudian melakukan sosialisasi dan demonstrasi penggunaan alat kepada masyarakat Desa Banyulegi. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada 7 September 2026 pukul 19.30 WIB dan bertempat di Balai Desa Banyulegi.
Kegiatan sosialisasi turut dihadiri oleh sejumlah tokoh dan perwakilan masyarakat desa, di antaranya perangkat Desa Banyulegi, Ketua BPD Banyulegi, Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Banyulegi, kelompok tani, serta para kepala dusun dari empat dusun yang berada di Desa Banyulegi.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa menjelaskan latar belakang pembuatan alat, fungsi, serta cara penggunaannya. Mahasiswa juga memperagakan secara langsung bagaimana alat digunakan untuk menebarkan pupuk sehingga masyarakat dapat memahami cara pengoperasiannya.
Smart Farming untuk Kebutuhan Masyarakat
Ketua Kelompok 14 KKN Desa Banyulegi, An Najmul Aal, menjelaskan bahwa inovasi tersebut dibuat berdasarkan kondisi dan kebutuhan masyarakat, khususnya para petani.
“Biasanya kan petani ketika menebar pupuk di ladang harus membungkuk agar bisa menakar pupuk sesuai kebutuhan. Dengan adanya alat ini kami berharap dapat meringankan petani di sini ketika sedang menebar pupuk karena bisa dilakukan sambil berjalan, sehingga bisa memangkas waktu menjadi lebih efisien juga,” ujar Aal.
Menurutnya, pemilihan program kerja tersebut tidak hanya didasarkan pada aspek inovasi, tetapi juga pada upaya mahasiswa untuk menghadirkan solusi yang dapat menjawab permasalahan nyata yang dihadapi masyarakat Desa Banyulegi.
Respons positif juga disampaikan oleh masyarakat dan tokoh desa yang hadir dalam kegiatan sosialisasi. Kepala Dusun Glagah menilai program kerja yang dilakukan Kelompok 14 KKN tersebut telah berhasil dan tepat sasaran karena memiliki tujuan yang jelas serta berkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat, khususnya para petani.
Hal senada disampaikan oleh Ketua BPD Banyulegi. Seusai kegiatan, ia memberikan apresiasi terhadap inovasi yang diperkenalkan mahasiswa dengan singkat, “JOSS mas,” sembari memberikan gestur jempol.
Melalui inovasi alat penebar pupuk tersebut, Kelompok 14 KKN UMG berharap alat yang telah dibuat tidak berhenti sebagai program kerja selama masa KKN, tetapi dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara berkelanjutan. Kehadiran alat tersebut diharapkan mampu membantu petani mengurangi beban pekerjaan, menghemat waktu, serta membuat proses pemupukan menjadi lebih praktis dan efisien. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments