Ada dosa yang tampak kecil di mata manusia, tetapi ternyata sangat besar di hadapan Allah. Ada sesuatu yang nilainya mungkin tidak seberapa. Hanya sehelai kain. Tidak mahal. Tidak mewah.
Namun, ketika diambil dari sesuatu yang bukan menjadi haknya, benda kecil itu bisa menjadi sebab seseorang masuk neraka.
Inilah pelajaran menggetarkan dari sebuah hadis Rasulullah saw. Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:
“Dibawa kepada Rasulullah saw seorang laki-laki yang terbunuh pada hari (perang) Khaibar. Mereka berkata, ‘Ini adalah seorang syahid.’ Maka Rasulullah saw bersabda, ‘Tidak! Sesungguhnya aku melihatnya berada di dalam neraka karena sehelai kain (mantel) atau selimut yang ia ambil secara curang dari harta rampasan perang sebelum dibagi.’” (HR Muslim, no. 183)
Bayangkan. Orang-orang di sekelilingnya melihat dia sebagai seorang pejuang. Mereka menyebutnya syahid. Tetapi Rasulullah ﷺ justru memberikan peringatan yang sangat keras: ada pengkhianatan terhadap harta yang membuatnya mendapatkan siksa.
Di sinilah Islam mengajarkan bahwa ukuran kemuliaan seseorang tidak hanya dilihat dari apa yang tampak di hadapan manusia.
Bisa saja seseorang dikenal rajin beribadah. Bisa saja ia pandai berbicara tentang agama. Bisa saja ia memiliki jabatan tinggi. Bisa saja ia berjasa kepada banyak orang.
Tetapi jika di balik semua itu terdapat pengkhianatan terhadap amanah, persoalannya menjadi sangat serius.
Sehelai Kain dan Godaan yang Bernama “Sedikit”
Ghulul adalah mengambil secara diam-diam sesuatu dari harta bersama atau harta yang dipercayakan kepada seseorang sebelum pembagian atau tanpa hak.
Dalam konteks kehidupan sekarang, maknanya dapat menjadi pelajaran penting tentang korupsi, penyelewengan dana, penggelapan aset, manipulasi keuangan, maupun mengambil sesuatu yang bukan hak kita.
Sering kali masalah dimulai dari kalimat yang terdengar sederhana:
“Ah, cuma sedikit.”
“Tidak akan ada yang tahu.”
“Yang lain juga melakukan.”
“Ini hanya fasilitas kantor.”
“Tidak apa-apa, toh bukan uang pribadi.”
Padahal, dosa tidak menjadi halal hanya karena jumlahnya kecil.
Bayangkan seorang bendahara menerima uang untuk sebuah kegiatan. Ada sisa Rp500 ribu. Tidak ada yang mengetahui. Ia kemudian berpikir, “Daripada dikembalikan, ambil saja sedikit.”
Hari berikutnya mungkin tidak ada yang datang menagih. Tidak ada polisi. Tidak ada pemeriksaan. Tidak ada berita. Tidak ada yang tahu.
Namun, ada satu yang tidak pernah luput: Allah. Di sinilah letak persoalannya. Manusia bisa gagal melihat. Sistem bisa kecolongan. Audit bisa terlewat. Tetapi Allah tidak pernah lengah.
Karena itu, amanah bukan sekadar urusan administrasi. Amanah adalah urusan pertanggungjawaban kepada Allah.
Ketika Harta Haram Dibawa Pulang
Ada kisah sederhana yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang membawa pulang barang milik kantor karena merasa dirinya sudah bekerja keras. Ia menganggapnya sebagai “tambahan kecil” atas jerih payahnya.
Yang lain menggunakan uang kegiatan untuk kepentingan pribadi karena berpikir nanti akan diganti.
Ada pula yang memanfaatkan jabatan untuk memperoleh keuntungan yang tidak semestinya. Semua mungkin terlihat biasa. Bahkan kadang dilakukan tanpa rasa bersalah.
Tetapi Islam mengajarkan kita untuk melihat sesuatu bukan hanya dari nilainya, melainkan dari hak siapa yang kita ambil.
Uang seribu rupiah yang bukan hak kita tetap bukan hak kita. Barang jutaan rupiah yang dipercayakan kepada kita tetap merupakan amanah. Sebab yang akan ditanyakan bukan hanya, “Berapa banyak yang kamu ambil?”
Tetapi juga, “Mengapa kamu mengambil sesuatu yang bukan hakmu?”
Harta Itu Akan Dibawa ke Hadapan Allah
Al-Qur’an memberikan peringatan yang sangat tegas: “Tidak mungkin seorang nabi berkhianat. Barang siapa berkhianat, niscaya pada hari Kiamat dia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu. Kemudian setiap orang akan diberi balasan yang sempurna sesuai dengan apa yang dikerjakannya dan mereka tidak dizalimi.” (QS Ali Imran: 161)
Ayat ini menghadirkan gambaran yang menggetarkan. Apa yang kita kira sudah selesai ternyata belum selesai. Apa yang kita sembunyikan di dunia akan terbuka di akhirat. Apa yang kita ambil diam-diam akan dipertanggungjawabkan.
Apa yang kita anggap “tidak ada yang tahu” akan menjadi sesuatu yang diketahui oleh seluruh makhluk ketika Allah membukanya.
Karena itu, jangan hanya bertanya apakah sebuah tindakan bisa lolos dari pemeriksaan manusia.
Tanyakan pula: Apakah tindakan ini akan selamat ketika diperiksa oleh Allah?
Semakin besar amanah, semakin besar pula tanggung jawabnya. Seorang pemimpin memegang amanah rakyat. Seorang bendahara memegang amanah organisasi. Seorang pegawai memegang amanah kantor. Seorang pengurus memegang amanah umat.
Bahkan seorang anak yang diberi uang oleh orang tuanya untuk membeli sesuatu juga sedang belajar tentang amanah.
Karena itu, pendidikan antikorupsi sesungguhnya tidak harus dimulai dari gedung pemerintahan. Ia bisa dimulai dari rumah. Dari anak yang belajar mengembalikan uang kembalian. Dari siswa yang tidak mencontek. Dari pengurus yang mencatat keuangan dengan jujur.
Dari bendahara yang mengembalikan sisa dana. Dari pejabat yang menolak mengambil sesuatu yang bukan haknya.
Sebab karakter jujur dibangun dari kebiasaan-kebiasaan kecil. Sebaliknya, kebiasaan mengambil yang bukan hak, meskipun kecil, dapat menjadi pintu menuju pengkhianatan yang lebih besar.
Jangan Tertipu oleh Besarnya Amal
Hadis tersebut juga memberikan pelajaran yang sangat dalam. Jangan sampai kita merasa amal yang banyak menjadi alasan untuk meremehkan dosa.
Rajin salat, tetapi mengambil hak orang lain. Rajin bersedekah, tetapi menyelewengkan amanah. Pandai berdakwah, tetapi tidak jujur dalam mengelola harta. Aktif dalam kegiatan sosial, tetapi menggunakan uang organisasi untuk kepentingan pribadi.
Semua itu adalah peringatan bagi kita. Bukan berarti amal kebaikan tidak penting. Justru sebaliknya, amal harus berjalan bersama kejujuran dan amanah.
Ibadah kepada Allah tidak boleh dipisahkan dari akhlak kepada manusia. Sebab ada hak Allah yang harus ditunaikan dan ada hak manusia yang harus dijaga.
Pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa banyak harta yang berhasil kita kumpulkan. Hidup adalah tentang dari mana harta itu diperoleh dan ke mana ia membawa kita.
Mungkin rumah kita sederhana. Kendaraan kita biasa saja. Penghasilan kita tidak sebesar orang lain.
Tetapi jika semuanya diperoleh dengan cara halal, ada ketenangan yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Sebaliknya, harta yang berlimpah tetapi diperoleh melalui pengkhianatan dapat menjadi beban yang panjang.
Maka, ketika mendapatkan amanah, jagalah. Ketika mengelola uang, jujurlah. Ketika menemukan kelebihan yang bukan hak kita, kembalikan. Ketika memiliki kesempatan untuk mengambil sesuatu secara diam-diam, ingatlah bahwa Allah melihat.
Sebab boleh jadi manusia tidak mengetahui apa yang kita ambil. Tetapi Allah mengetahui. Dan boleh jadi benda yang kita anggap kecil di dunia, justru menjadi perkara besar ketika kita berdiri di hadapan-Nya.
Jangan sampai tangan kita pulang membawa sesuatu yang bukan hak kita, tetapi kelak hati kita harus mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah.
Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang amanah, jujur, bersih dalam mencari rezeki, dan mampu menjaga setiap titipan yang dipercayakan kepada kita. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments