Tangan Aris Budi Prasetyo terus bergerak. Menunjuk. Mengayun. Memanggil pemain. Lalu menunjuk lagi.
“Jangan ambil sekali!”
“Fokus!”
“Cepat kembali!”
Suaranya keras. Tegas. Kadang terdengar lebih keras daripada suara penonton di Stadion Soepriyadi, Blitar.
Siang itu, PSHW Ponorogo U-17 sedang bertanding melawan Arema FC U-17. Babak 16 besar Piala Soeratin 2026. Pertandingan penting.
Aris tahu itu. Anak-anak asuhnya juga tahu. Maka dia tidak banyak duduk. Dia lebih sering berdiri. Mengawasi. Memberi aba-aba. Mengoreksi posisi. Sesekali memanggil asistennya.
Di lapangan, pemain-pemain itu masih muda. Sebagian besar bahkan belum pernah merasakan atmosfer pertandingan besar.
Di pinggir lapangan, pelatih mereka sudah kenyang pengalaman. Aris Budi Prasetyo. Mantan pemain Timnas Indonesia. Pernah tampil di Piala Asia 2004.
Pernah mengangkat trofi. Pernah menjadi Pemain Terbaik Copa Indonesia. Dan kini usianya hampir 50 tahun. Menariknya, dia bukan hanya pelatih. Dia juga pemain.
Klub sepak bola milik Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Ponorogo itu, menang. Bukan tipis. Tiga gol. Arema FC U-17 pulang dengan kekalahan 0-3. Ada kejutan di Stadion Soepriyadi hari itu.
Tetapi kejutan sebenarnya bukan cuma skor. Melainkan orang di pinggir lapangan itu.
***
Aris Budi Prasetyo masih mau bermain. Tepatnya, di Liga 4 Jawa Timur 2024/2025. Usianya sudah hampir setengah abad. Usia ketika banyak pesepak bola memilih duduk di pinggir lapangan. Bercerita tentang masa lalu.
Aris berbeda. Dia masih ingin merasakan rumput. Masih ingin berduel. Masih ingin menendang bola. Seolah-olah usia belum memberinya alasan untuk berhenti.
Yang berubah hanya satu. Cara bermainnya. Dulu mengandalkan tenaga. Sekarang mengandalkan pengalaman.
“Usia tak bisa bohong,” katanya. Dia tertawa kecil.
“Saya hanya bermain taktis.”
Kecepatan memang sudah berkurang. Banyak. Tetapi insting masih ada.
“Itu yang belum hilang.”
Untuk kembali ke lapangan, Aris tidak asal nekat. Dia mempersiapkan tubuhnya. Delapan bulan. Berat badannya 88 kilogram. Turun menjadi 76 kilogram.
Dua belas kilogram. Caranya sederhana. Pola makan dijaga. Lalu joging. Minimal lima kilometer setiap hari.
“Saya jaga pola makan. Plus selama delapan bulan, saya rutin joging minimal 5 kilometer setiap hari.”
Dia tahu tubuhnya sudah berbeda. Dia juga tahu ada sejarah cedera.
Pada 2010, lutut kirinya mengalami cedera ACL. Harus dioperasi. Cedera itu pula yang mengakhiri kariernya sebagai pemain profesional. Usianya ketika itu 35 tahun. Sudah 15 tahun berlalu.
Lalu ia kembaliBukan di Liga 1. Bukan di Liga 2. Bukan pula di klub dengan kontrak jutaan rupiah. Liga 4. Kasta terbawah. Di sana ia berlari bersama anak-anak muda.
Mengapa?
Pertanyaan itu sebenarnya sederhana. Jawabannya juga sederhana. Anak muda.
“Saya ingin memberikan ilmu.” Begitu kira-kira intinya.
Sebagai pelatih, ia mengajarkan cara bermain. Sebagai pemain, ia memberikan contoh. Bukan cuma berkata. Tetapi melakukan. Itulah sebabnya ia ikut turun.
“Sebagai pelatih, saya memberikan ilmu cara bermain bola yang benar. Sebagai pemain, saya memotivasi anak-anak muda bagaimana ingin jadi pemain sukses. Makanya saya harus ikut bermain di pertandingan.”
Aris ingin anak-anak itu melihat langsung. Bahwa sepak bola membutuhkan disiplin.
Bukan hanya bakat. Bukan hanya sepatu bagus. Bukan hanya ikut latihan. Harus ada latihan tambahan. Harus ada kemauan. Harus ada keseriusan.
Aris melihat persoalan itu pada pemain muda Indonesia. Menurutnya, banyak yang belum serius menambah porsi latihan sendiri. Padahal persaingan semakin berat.
“Kalau seperti itu terus, bagaimana bisa bersaing dengan pemain naturalisasi?”
Pertanyaan itu ia lontarkan dengan serius.
***
Cerita PSHW Ponorogo sebenarnya juga bukan cerita tentang klub dengan uang berlimpah. Justru sebaliknya. Waktu persiapannya pendek. Pemain belum lengkap. Dana terbatas.
Aris menerima tawaran Presiden PSHW Ponorogo Dr. Suli Da’im, melatih ketika kompetisi tinggal sekitar tiga pekan lagi. Dia lalu bergerak. Mencari pemain.
Sebagian dari akademinya di Pasuruan. Sebagian lagi pemain lokal Ponorogo. Namanya Aris Budi Soccer Academy. ABSA. Total 26 pemain terkumpul. Kalau Aris dihitung sebagai pemain sekaligus pelatih, menjadi 27.
Tetapi ada satu hal yang menarik. Tidak ada gaji. Mereka bermain untuk pengalaman. Aris tahu itu. Tetapi dia juga tahu anak-anak tersebut bekerja keras. Maka sesekali ia memberikan bonus.
Dari mana? Kantong sendiri.
“Konsumsi dan akomodasi ditanggung manajemen,” katanya.
“Kebutuhan lainnya seperti bonus, dari uang saya pribadi.”
Jumlahnya mungkin tidak besar. Tetapi maknanya besar.
Di pertandingan melawan Arema FC U-17, Aris bersyukur Presiden PSHW Ponorogo Dr. Suli Da’im memberi bonus tambahan. Itu bikin anak-anak semangat.
Aris sedang mengeluarkan uang untuk sesuatu yang dulu juga membesarkan dirinya. Sepak bola. Aris tahu persis arti sepak bola.
Karena hampir seluruh hidupnya datang dari sana. Pupuk Kaltim. Petrokimia Putra. Arema Malang. Persema Malang. Timnas Indonesia. Piala Asia 2004.
Dia pernah membawa PKT Bontang menjadi runner-up Liga Indonesia 1999/2000. Pernah juara bersama Petrokimia Putra.
Pernah juara bersama Arema. Pernah dua kali mengangkat trofi Copa Indonesia. Bahkan pada 2006 ia menjadi pemain terbaik Copa Indonesia.
Karier itu sudah lewat. Tetapi hasilnya masih terasa. “Semua yang saya miliki, termasuk rumah dan mobil, saya dapatkan dari sepak bola.”
Lalu ia menambahkan satu kalimat. “Bahkan saya jadi anggota dewan juga karena sepak bola.”
Kini memang ada dunia lain yang harus ia jalani. Politik. Dia menjadi anggota DPRD Kota Pasuruan. Kesibukannya bertambah. Rapat. Kunjungan. Tugas kedewanan.
Tetapi sepak bola tidak ditinggalkan. Konsekuensinya, ia tidak selalu bisa berada di lapangan.
Pernah PSHW memainkan laga penting. Aris tidak hadir. Bukan karena sakit. Bukan karena malas. Ada tugas ke Semarang. Tugas DPRD.
“Saya bilang kepada anak-anak, tugas ini tidak bisa saya tinggal karena ini adalah pekerjaan yang menghidupi saya.”
Anak-anak itu akhirnya bermain tanpa dirinya. PSHW kalah 0-3. Gagal lolos. Juru kunci grup.
***
Sepak bola memang kadang begitu. Tidak selalu sesuai harapan. Tetapi Aris tidak berhenti. Dia malah ingin mengumpulkan semua pemain. Ada yang ingin disampaikan. Dia sudah mendapat klub baru untuk musim berikutnya.
Dia akan tetap melatih. Dengan satu kesadaran. Dirinya bukan lagi pemain penuh waktu. Ada pekerjaan lain. Ada tanggung jawab lain.
Barangkali itu yang membuat perjalanan Aris menarik. Dia tidak sedang mengejar masa lalu. Dia sedang meneruskan sesuatu.
Dulu, dia mendapatkan ilmu dari senior. Sekarang ia memberikannya kepada junior.
Dulu sepak bola memberi kehidupan kepadanya. Sekarang dia mencoba memberi jalan kepada pemain-pemain muda. Semacam utang. Yang dibayar dengan cara berbeda.
Bukan dengan uang. Bukan dengan trofi. Tetapi dengan waktu. Dengan tenaga. Bahkan dengan uang pribadi.
Ada satu hal lagi yang membuatnya masih bisa menjalani semuanya. Disiplin. Aris terbiasa tidur pukul 21.30. Bangun subuh.
Kebiasaan itu sudah dilakukan sejak menjadi atlet. Dia menjaganya sampai sekarang. Tidak selalu mudah.
Apalagi sebagai anggota DPRD. Kadang ada rapat malam. Kadang ada pertemuan mendadak. Tetapi ia berusaha tetap menjaga tubuh.
Hidupnya dijalani tanpa banyak beban. “Kalau ada waktu ngelatih ya ngelatih.”
Kalimatnya sederhana. Lalu dia tertawa. “Hidup saya apa adanya.”
Mungkin Aris sudah tidak bisa berlari secepat dulu. Tidak bisa bermain selama dulu. Tidak bisa melakukan semua yang dulu bisa dilakukan.
Tetapi ada sesuatu yang belum berubah. Ketika bola mendekati pertahanan, naluri bek itu muncul. Ketika pemain muda kehilangan posisi, tangannya kembali bergerak. Menunjuk. Mengayun. Memanggil.
“Fokus!”
“Cepat kembali!”
Dan begitulah Aris. Usia boleh bertambah. Kecepatan boleh berkurang. Tetapi kecintaan kepada sepak bola tidak mengenal pensiun.
Dia pernah menjadi pemain. Kemudian menjadi pelatih. Kini menjadi wakil rakyat. Namun di dalam dirinya, rupanya masih ada seorang pesepak bola.
Yang belum selesai. Yang masih ingin berlari. Setidaknya sampai anak-anak muda itu tahu: untuk menjadi pemain besar, bakat saja tidak cukup.
Harus ada disiplin. Harus ada pengorbanan. Dan, mungkin yang paling penting: harus ada seseorang yang mau menunjukkan jalannya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments