Ada cara sederhana untuk merawat persaudaraan: makan bersama. Tidak perlu pidato panjang. Tidak harus duduk di ruang berpendingin. Kadang cukup semangkuk bakso hangat, beberapa pentol, sambal, dan obrolan ringan. Dari situlah ukhuwah bisa tumbuh.
Pemandangan sederhana itu terlihat di tengah hiruk-pikuk Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, 27–31 Agustus 2026.
Lazismu Jawa Timur hadir dengan BaksoMu. Sebanyak 10.000 porsi bakso dan telur gratis disiapkan untuk peserta muktamar dan masyarakat sekitar.
Sekilas, ini hanya urusan makanan. Tetapi kalau kita melihat lebih dalam, ada pesan yang jauh lebih besar. Ada dakwah yang sedang bekerja. Ada ukhuwah yang sedang dirawat. Dan ada kebangsaan yang sedang dipraktikkan.
Muhammadiyah tidak sedang datang ke Muktamar NU untuk sekadar menjadi tamu. Lazismu hadir membawa sesuatu yang sederhana, tetapi nyata: makanan.
Tidak ada sekat organisasi ketika seseorang datang ke meja BaksoMu. Tidak ditanya dari cabang mana. Tidak ditanya warga organisasi apa. Tidak ditanya dari daerah mana. Semua sama. Antre. Duduk. Makan. Tersenyum. Berbincang.
Justru dalam kesederhanaan semacam itulah persaudaraan menemukan bentuknya yang paling manusiawi. Sebab ukhuwah tidak selalu lahir dari forum resmi. Ia bisa tumbuh dari percakapan pendek sembari menunggu bakso matang.
Bisa muncul dari senyum seorang pelayan kepada orang yang baru dikenalnya. Bisa pula lahir dari semangkuk bakso yang dimakan bersama.
Mungkin karena itu makanan memiliki kekuatan sosial yang luar biasa. Ia mendekatkan yang jauh. Mencairkan yang kaku. Dan membuka percakapan yang sebelumnya mungkin sulit dimulai.
Ukhuwah Bukan Sekadar Slogan
Kita sering berbicara tentang persatuan. Tentang toleransi. Tentang kebangsaan. Tentang ukhuwah.
Namun bangsa ini membutuhkan lebih dari sekadar kata-kata. Kita membutuhkan tindakan. Di situlah BaksoMu menjadi menarik.
Seporsi bakso memang tidak akan menyelesaikan seluruh persoalan bangsa. Tetapi ia menunjukkan satu hal penting: persatuan harus dirawat melalui tindakan-tindakan kecil yang dilakukan dengan tulus.
Muktamar NU adalah momentum besar. Ribuan peserta datang dari berbagai penjuru Indonesia. Mereka membawa pikiran, pengalaman, dan harapan yang beragam.
Di tengah keragaman itu, Muhammadiyah memilih hadir dengan cara yang menggembirakan. Memberi makan. Melayani. Menyapa. Menunjukkan kepedulian. Inilah wajah dakwah yang membumi.
Dakwah tidak selalu berada di atas mimbar. Kadang ia berada di balik panci bakso. Kadang berada di tangan relawan yang menyodorkan semangkuk makanan. Kadang hadir dalam senyum orang yang melayani tanpa bertanya siapa yang sedang dilayani.
Kehadiran Lazismu Jawa Timur di Jombang juga tidak bisa dilepaskan dari kerja-kerja kemanusiaan yang sedang berlangsung.
Belum selesai penanganan dampak gempa Nusa Tenggara Timur, Lazismu terus bergerak membantu masyarakat yang membutuhkan.
Kini gerakan itu hadir di Jombang. Konteksnya memang berbeda. Di NTT, bantuan dibutuhkan karena bencana. Di Jombang, makanan disajikan untuk peserta muktamar dan masyarakat.
Tetapi ruhnya sama: melayani manusia. Di situlah nilai kemanusiaan menjadi lebih luas daripada sekadar batas-batas organisasi. Muhammadiyah memiliki Lazismu. NU memiliki berbagai lembaga filantropi dan kemanusiaan.
Keduanya memiliki sejarah panjang dalam membantu masyarakat. Dan ketika dua kekuatan besar umat Islam ini saling menguatkan, yang mendapatkan manfaat bukan hanya warga Muhammadiyah atau Nahdliyin. Tetapi Indonesia.
Semangkuk Bakso, Sejuta Percakapan
Ada sesuatu yang menarik dari makan bersama. Orang yang sebelumnya tidak saling mengenal bisa tiba-tiba berbicara.
“Dari mana?”
“Surabaya.”
“Jombang?”
“Bukan. Dari luar Jawa.”
Percakapan kecil itu kemudian melebar. Tentang organisasi. Tentang muktamar. Tentang pendidikan. Tentang bangsa. Tentang masa depan.
Begitulah persaudaraan sering bekerja. Tidak selalu dramatis. Tidak selalu membutuhkan panggung. Ia tumbuh perlahan dari interaksi manusia dengan manusia.
Semangkuk bakso hanya menjadi pintunya. Di baliknya ada penghormatan. Ada kepedulian. Ada kesediaan untuk mendengar. Dan ada kesadaran bahwa perbedaan tidak harus berakhir dengan pertentangan.
Muhammadiyah dan NU boleh memiliki sejarah, tradisi, dan corak gerakan yang berbeda. Tetapi keduanya memiliki rumah yang sama: Indonesia. Keduanya juga memiliki pengalaman panjang dalam menjaga bangsa ketika situasi tidak mudah.
Karena itu, ukhuwah Muhammadiyah dan NU bukan sekadar hubungan antarlembaga keagamaan. Ia adalah modal sosial bangsa.
BaksoMu, Rasa Indonesia
Barangkali itu yang membuat BaksoMu terasa berbeda di Muktamar NU. Rasanya mungkin tidak jauh berbeda dengan bakso lainnya. Ada pentol. Ada kuah. Ada mi atau pelengkap. Ada sambal bagi yang menyukai rasa pedas.
Tetapi suasananya berbeda. Ada peserta muktamar yang datang dari berbagai daerah. Ada warga sekitar. Ada relawan. Ada warga Muhammadiyah. Ada warga Nahdliyin.
Mereka bertemu dalam satu antrean. Tidak ada yang lebih tinggi. Tidak ada yang lebih rendah. Semua menunggu giliran. Semua menikmati makanan yang sama.
Inilah Indonesia dalam bentuk yang paling sederhana. Berbeda, tetapi bisa duduk bersama. Beragam, tetapi bisa berbagi. Tidak harus seragam untuk bisa bersaudara.
Dan mungkin itulah pelajaran penting dari seporsi BaksoMu. Persatuan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Ia bisa dimulai dari kesediaan berbagi. Dari seporsi makanan. Dari sebuah senyum. Dari sapaan. Dari tangan yang melayani.
Lalu perlahan menjadi kepercayaan. Dari kepercayaan tumbuh persaudaraan. Dari persaudaraan lahir kekuatan untuk menjaga Indonesia.
Puluhan ribu pentol yang disajikan dalam berbagai kesempatan kemanusiaan mungkin akan habis dalam hitungan hari. Tetapi pesan yang dibawanya semoga tidak ikut habis.
Bahwa dakwah bisa menggembirakan. Bahwa filantropi bisa mendekatkan. Bahwa ukhuwah bisa diwujudkan. Dan bahwa Muhammadiyah serta NU dapat terus berjalan bersama untuk merawat persatuan Indonesia.
Sebab pada akhirnya, bangsa ini tidak hanya membutuhkan orang-orang yang pandai berbicara tentang persatuan.
Bangsa ini membutuhkan orang-orang yang mau mempraktikkannya. Kadang dengan gagasan. Kadang dengan kerja kemanusiaan. Dan kadang, sesederhana dengan menyodorkan semangkuk bakso kepada saudara sebangsa.
BaksoMu mungkin hanya seporsi. Tetapi ukhuwah yang lahir darinya bisa jauh lebih panjang daripada rasa yang tertinggal di lidah.
Selamat dan sukses Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments