Sabtu (19/9/2026), suasana pagi di Blitar terasa hening, tenang, dan sejuk. Pagi yang tidak terlalu dingin, dengan halaman yang telah disiram air sehingga tidak berdebu.
Udara segar membuat jama’ah masjid At Taqwa Muhammadiyah Kota Blitar, lebih khusyu dalam melaksanakan salat subuh berjama’ah.
Setelah Adzan dikumandangkan, 10 menit kemudian diserukan Iqomah dilanjutkan salat subuh berjama’ah disambung dengan kuliah subuh.
Pada Sabtu yang bertepatan dengan 08 Rabiul Akhir 1448 H itu, drh Sri Widodo bertugas sebagai pemateri.
Dua Dimensi yang Berkaitan
Ketua Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Blitar itu membawakan tema: “Penyebab Hujan Tidak Turun Menurut Muhammadiyah”.
“Menurut pandangan Muhammadiyah penyebab hujan tidak turun atau kemarau panjang ditinjau dari dua dimensi yang saling berkaitan yaitu dimensi teologis dan dimensi ekologis (kerusakan alam)” terangnya.
Menurutnya, Muhammadiyah menekankan bahwa tidak turunnya hujan dan kekeringan yang ekstrem seringkali merupakan dampak langsung dari ulah manusia yang merusak alam. Hal ini sesuai dengan Al-Qur’an surah Ar-Rum ayat 41.
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka agar mereka kembali ke jalan yang benar”.
Menurut drh Sri Widodo, terdapat beberapa faktor ekologis yang menyebabkan hujan tidak turun. Salah satunya alih fungsi lahan yang masif.
Pakar teknik Keairan dan Lingkungan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta menjelaskan bahwa maraknya konvensi alam Hijau menjadi kawasan permukiman dan industri membuat daerah resapan hilang akibatnya siklus hidrologi terganggu.
Adanya tindakan membakar hutan yang secara ilegal untuk membuka lahan memicu emisi karbon tinggi dan merusak ekosistem membentuk awan hujan.
“Di samping itu pencemaran lingkungan berupa perilaku membuang sampah ke sungai dan pencemaran sumber mata air menghancurkan cadangan air bersih bumi” ujarnya.
Faktor Teologis dan Spiritual
Lebih lanjut, tertahannya hujan merupakan bentuk peringatan dari Allah agar manusia melakukan muhasabah alias introspeksi diri.
Selanjutnya berdasarkan dalil-dalil syar’i, faktor spiritual meliputi banyaknya kemaksiatan, kelalaian, maupun perbuatan dosa yang dilakukan secara terang-terangan tanpa adanya rasa bersalah. Hal tersebut, ujar Sri, dapat menjadi penggalang turunnya rahmat dan berkah berupa hujan.
Faktor yang kedua adalah enggan mengeluarkan zakat. Sumbernya merujuk pada hadist Riwayat Ibnu Majah yang artinya:
“Tidaklah mereka mengurangi timbangan dan takaran kecuali mereka akan disiksa dengan kemarau berkepanjangan paceklik atau susahnya penghidupan dan kendaliman penguasa atas mereka Dan tidaklah mereka enggan menunaikan Zakat harta mereka melalaikan mereka akan ditahan dari hujan yang tidak yang ada di langit kalau bukan karena hewan-hewan biasanya mereka tidak akan diberi hujan”.
Mengurangi timbangan dan takaran, hingga enggan membayar zakat, lanjut Sri, merupakan penyebab Allah SWT tidak menurunkan hujan.
Faktor spiritual yang ketiga adalah putusnya rasa syukur. Kebanyakan manusia yang menganggap remeh nikmat air yang ada dan tidak mau merawat titipan dari Allah.
Majelis tarjih dan Tajdid memberikan solusi mengatasi kemarau panjang karena hujan tidak turun adalah dengan salat Istisqa memohon hujan.
Kendati demikian, ritual ini harus dibarengi dengan memperbanyak istighfar, bertaubat dari dosa ekologis serta berkomitmen melakukan konservasi air di lingkungan sekitarnya.
Sesuai dengan Al-Qur’an surah Nuh ayat 10 sampai 11 yang artinya ” Maka aku berkata (kepada mereka), “mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sungguh Dia maha pengampun niscaya dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit padamu.
“Allah SWT akan menurunkan hujan bila umatnya mau beristighfar dan bertaubat” tegas Sri.





0 Tanggapan
Empty Comments