Tim dosen lintas disiplin ilmu Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) menggelar edukasi pencegahan stroke di Masjid Syuhada Bebekan, Sepanjang, Sidoarjo, Jumat (4/9/2026).
Kegiatan tersebut menyasar pimpinan, pengurus, dan anggota Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA) Bebekan. Edukasi kesehatan ini merupakan penuntasan Rencana Tindak Lanjut (RTL) dari program Baitul Arqam Dosen Batch 1.
“Di lapangan kita masih sering menemukan pasien stroke terlambat dibawa ke medis karena dianggap cuma angin duduk atau kecapekan biasa, lalu malah dibawa ke tukang pijat. Padahal pembuluh darah otaknya sedang bermasalah. Begitu lewat dari empat setengah jam, jaringan otaknya sudah banyak yang mati dan efeknya bisa bikin cacat permanen,” beber Heru.
Tim pengabdian tersebut menggabungkan akademisi dari tiga fakultas. Jajaran pemateri terdiri atas Dr. dr. Heru Suswojo, M.Kes. dari Fakultas Kedokteran, Ida Agustiningsih, Nurul Fajri Romadhona, serta Eka Amalia Suciati dari Fakultas Ilmu Kesehatan, dan Rahila Amanatul Ummah dari Fakultas Studi Islam dan Peradaban.
Kehadiran tim lintas disiplin ini dirancang untuk menyajikan materi medis sekaligus pendekatan spiritual secara komprehensif bagi para jamaah.
Ketua kelompok pengabdian menyebut agenda tersebut sebagai bentuk tanggung jawab moral dan akademik kampus.
“Kegiatan edukasi kesehatan ini merupakan Rencana Tindak Lanjut dari Baitul Arqam Dosen Batch 1 yang telah kami ikuti. Kami berharap sinergi lintas fakultas ini menjadi wujud nyata pengabdian kami agar ilmu yang dimiliki berdampak langsung pada peningkatan kualitas kesehatan warga Persyarikatan, khususnya ibu-ibu Aisyiyah di Ranting Bebekan,” tuturnya di sela kegiatan.
Dalam sesi pemaparan teknis, Dr. dr. Heru Suswojo, M.Kes. membeberkan bahaya fisiologis di balik serangan otak. Otak manusia memiliki peranan vital karena membutuhkan asupan oksigen hingga 20 persen harian, meski bobot fisiknya hanya dua persen dari total berat badan.
Gangguan aliran darah akibat sumbatan atau stroke iskemik maupun pecahnya pembuluh darah atau stroke hemoragik dapat memicu kematian sel otak secara cepat.
Heru menyoroti kekeliruan yang masih kerap terjadi di masyarakat saat menangani tanda awal serangan stroke. Ia menekankan pentingnya golden period atau masa krusial untuk mendapatkan tindakan medis.
“Pasien harus segera mendapat pertolongan di rumah sakit dalam rentang waktu 4,5 jam pertama sejak gejala muncul untuk mencegah kecacatan permanen. Jangan ditunda, dan jangan malah dipijat,” tegas Heru.
Untuk mempermudah penanganan darurat di tingkat keluarga, peserta diajarkan panduan deteksi dini menggunakan metode BE FAST.
Metode tersebut memandu warga mengenali enam gejala utama yang muncul secara mendadak, yakni Balance atau kehilangan keseimbangan, Eyes atau gangguan penglihatan, Face atau wajah mencong sebelah, Arms atau kelemahan anggota gerak, Speech atau bicara pelo, hingga Time yang menekankan kesegeraan membawa pasien ke fasilitas kesehatan.
“Ibu-ibu ‘Aisyiyah di tingkat ranting ini kan garda terdepan keluarga. Kalau mereka paham cara mengenali tanda-tanda stroke sejak dini, penanganan di rumah bisa jauh lebih cepat. Jadi ilmu dari kampus tidak cuma mandek di ruang kuliah, tapi benar-benar dirasakan manfaatnya oleh warga,” kata ketua tim pengabdian.
Selain tindakan darurat, tim dosen juga membekali jamaah dengan langkah preventif berkelanjutan. Warga didorong memantau secara berkala tiga indikator utama kesehatan, yakni tekanan darah, kadar gula darah, dan kolesterol.
Gaya hidup sehat juga terus digaungkan melalui penghentian kebiasaan merokok, penyesuaian pola makan, kecukupan istirahat, manajemen stres, serta aktivitas fisik minimal 150 menit per minggu.
Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 13.00 WIB tersebut mendapat respons interaktif dari jamaah PRA Bebekan.
Acara ditutup dengan perumusan komitmen bersama untuk menjaga kesehatan organ vital keluarga melalui slogan yang diusung: “Sehat Otak, Bahagia Keluarga, Berkah Hidup Bersama Allah.”





0 Tanggapan
Empty Comments