Ada orang yang pergi dari kampung halaman untuk mencari ilmu. Ada pula yang pergi, lalu bertahun-tahun kemudian pulang membawa pengalaman.
Fajar Junaedi termasuk yang kedua. Putra Madiun kelahiran 1979 itu kini kembali ke kota tempat jejak akademiknya bermula. Bukan sekadar pulang untuk bernostalgia. Ia pulang membawa amanah.
Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengangkatnya sebagai Wakil Rektor Bidang Akademik, Sumber Daya Manusia, dan Kemahasiswaan Universitas Muhammadiyah Jawa Timur (UMJT) Madiun.
Kepulangannya terasa istimewa karena kampus yang kini menjadi tempat pengabdiannya sedang berada dalam fase penting: bertransformasi dari Universitas Muhammadiyah Madiun (Ummad) menjadi Universitas Muhammadiyah Jawa Timur (UMJT).
Fajar Junaedi—yang akrab dipanggil Fajarjun—datang bukan dengan tangan kosong. Dia membawa pengalaman lebih dari dua dekade sebagai akademisi, peneliti, pengelola program studi, asesor kompetensi, penulis, aktivis organisasi profesi, sekaligus pegiat Muhammadiyah.
Namun, lebih dari sederet jabatan itu, ada satu modal yang mungkin paling penting: ia mengenal Madiun sebagai rumah.
Jauh sebelum dikenal sebagai akademisi komunikasi dan pengkaji olahraga, Fajarjun sudah akrab dengan prestasi. Dia menempuh pendidikan dasar di SD Golan. Kemudian SMP Negeri Sawahan dan SMA Negeri 3 Madiun.
Sejak sekolah, namanya sudah menonjol. Pada 1991, ia dinobatkan sebagai Pelajar Teladan SD Kabupaten Madiun. Enam tahun kemudian, predikat itu kembali diraihnya. Kali ini sebagai Pelajar Teladan SMA Kota Madiun.
Setelah tamat SMA, dia meninggalkan Madiun. Merantau. Menjadi diaspora Madiun. Tujuan berikutnya adalah Semarang. Di Universitas Diponegoro, ia memilih Ilmu Komunikasi.
Prestasi kembali menyertainya. Pada 2001, ia terpilih sebagai Mahasiswa Berprestasi Universitas Diponegoro. Setahun kemudian, gelar sarjana diraihnya.
Perjalanan akademiknya berlanjut. Fajarjun mengambil magister Ilmu Komunikasi di Universitas Sebelas Maret dan menyelesaikannya pada 2005. Kemudian doktor Kajian Budaya dan Media di Universitas Gadjah Mada pada 2019.
Dari Madiun, Semarang, Solo, hingga Yogyakarta. Jalurnya panjang. Tetapi arahnya jelas: ilmu, riset, pengabdian.
Dua Puluh Tiga Tahun Bersama UMY
Sejak 2003, Fajarjun mengajar di Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Lebih dari dua dekade ia tumbuh bersama kampus itu.
Kini dia menyandang jabatan fungsional Lektor Kepala. Pengalamannya bukan hanya berada di ruang kelas.
Dia pernah dipercaya menjadi Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi UMY. Pada masa kepemimpinannya, program studi tersebut meraih dua penghargaan pada 2024: sebagai unit kerja dengan capaian Indeks Kinerja Strategis tertinggi dan unit kerja dengan laporan keuangan terbaik.
Fajarjun juga terlibat dalam pendirian Lembaga Sertifikasi Profesi UMY. Pada awal berdirinya LSP UMY pada 2021, ia dipercaya menjadi manajer sertifikasi. Sampai sekarang, dia masih tercatat sebagai asesor kompetensi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
Pengalaman itu memperlihatkan satu hal. Fajarjun tidak hanya mengajar ilmu komunikasi. Ia juga belajar bagaimana sebuah institusi pendidikan dikelola. Pengalaman itu pula yang kini dibawanya ke Madiun.
Ada sisi lain dari Fajarjun yang membuat perjalanan akademiknya berbeda. Dia memilih komunikasi olahraga. Bidang yang relatif belum banyak digarap secara serius di Indonesia.
Bagi Fajarjun, sepak bola bukan semata-mata soal 90 menit di lapangan. Di balik pertandingan ada identitas. Ada fanatisme. Ada komunitas. Ada media. Ada industri. Bahkan ada gerakan sosial.
Buku Bonek: Komunitas Suporter Pertama dan Terbesar di Indonesia yang terbit pada 2012, menjadi salah satu karya yang memperlihatkan konsistensinya.
Kemudian lahir Merayakan Sepakbola: Fans, Identitas, dan Media jilid 1 dan 2. Ada pula Bola Kita (2020), yang ditulis bersama jurnalis olahraga Miftakhul FS.
Terbaru, pada 2026, dia menerbitkan Komunikasi Olahraga Era Media Digital. Buku ini memperluas kajiannya. Olahraga dibaca dalam kaitannya dengan media, audiens, pemasaran, sponsorship, identitas, hingga krisis di era digital.
Penelitiannya pun tidak berhenti di rak buku. Pada Agustus 2025, makalahnya mengenai zine suporter sepak bola Indonesia meraih Best Presenter pada 14th International Malaysian Studies Conference di Sarawak.
Zine ia lihat bukan sekadar media alternatif. Dia membacanya sebagai bentuk literasi media akar rumput dan bagian dari gerakan sosial baru.
Sejumlah hasil risetnya tentang sepak bola dan komunikasi juga telah diterbitkan dalam jurnal dan book chapter. Sebagian di antaranya terindeks Scopus.
Di sinilah kekhasan Fajarjun terlihat. Dia membaca sepak bola dengan kacamata komunikasi. Dan membaca komunikasi dengan melihat kehidupan sosial yang nyata.
Fajarjun juga dikenal produktif menulis. Buku-bukunya mencakup berbagai bidang komunikasi. Di antaranya Komunikasi Politik: Teori, Aplikasi, dan Strategi di Indonesia, Manajemen Media Massa, Jurnalisme Penyiaran dan Reportase Televisi, serta Etika Komunikasi di Era Siber.
Dia juga menjadi editor sejumlah buku yang diterbitkan melalui jejaring ASPIKOM dan ICA, terutama mengenai media digital, pendidikan komunikasi, dan revolusi industri 4.0.
Jejak tulisannya tidak hanya berada di dunia akademik. Dia menulis di berbagai media digital, antara lain Football Fandom dan Mojok.
Jauh sebelum media digital berkembang seperti sekarang, tulisannya sudah menghiasi sejumlah media cetak. Kedaulatan Rakyat, Jawa Pos, Kompas, Solopos, Joglosemar, dan sejumlah media lainnya pernah menjadi ruang artikelnya.
Dengan demikian, dunia yang digelutinya cukup lengkap. Kampus ia kenal. Media ia masuki. Industri kreatif ia pelajari. Olahraga ia teliti. Dunia digital ia ikuti.
Perjalanan Fajarjun juga tidak bisa dilepaskan dari organisasi profesi. Di Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi (Aspikom), dia pernah berada di Divisi Penelitian dan Pengembangan serta menjadi Wakil Sekretaris Jenderal pada periode 2011–2022.
Di Asosiasi Pendidikan Ilmu Komunikasi Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (APIK PTMA), dia menjadi salah satu pendiri sejak 2013. Di Asosiasi Profesi Media Digital, Komunikasi, dan Kreatif Indonesia (Amikraf ), kiprahnya kini semakin besar.
Dalam Munas ke-2 pada Februari 2026 di Bantul, ia terpilih sebagai Ketua Umum periode 2026–2031. Organisasi ini menjadi ruang pertemuan akademisi, praktisi, media digital, dan industri kreatif.
Di tingkat internasional, Fajarjun juga masuk dalam Board of Committee ICA Chapter Indonesia. ICA Indonesia merupakan chapter pertama International Communication Association di dunia.
Jejaring itu menjadi modal lain yang dibawanya ke UMJT. Sebab membangun perguruan tinggi hari ini tidak cukup hanya dengan mengandalkan gedung dan ruang kuliah.
Kampus membutuhkan jejaring. Membutuhkan kolaborasi. Membutuhkan reputasi. Dan membutuhkan orang-orang yang mampu membuka pintu kerja sama.
Di lingkungan Muhammadiyah, Fajarjun juga bukan nama baru. Dia dipercaya menjadi Sekretaris Lembaga Pengembangan Olahraga (LPO) Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2022–2027.
Pada 2026, Muhammadiyah Games untuk pertama kalinya digelar dengan mempertandingkan enam cabang olahraga. Di ajang yang digelar LPO tersebut, Fajarjun berperan sebagai sekretaris. Dia juga aktif di Pusat Syiar Digital Muhammadiyah. Di sinilah dua dunianya bertemu. Komunikasi digital dan dakwah persyarikatan.
Olahraga dan pembinaan generasi muda. Akademik dan pengabdian. Semuanya beririsan. Dan kini irisan itu menemukan tempat baru: UMJT Madiun.
Pulang Saat Kampus Sedang Berubah
UMJT sedang berada di persimpangan penting. Transformasi dari UMMAD menuju UMJT bukan hanya pergantian nama.
Ada pekerjaan yang jauh lebih besar: membangun reputasi, memperkuat akademik, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, mengembangkan kemahasiswaan, memperluas jejaring, dan memastikan kampus memiliki daya saing di tingkat Jawa Timur bahkan lebih luas.
Karena itu, penunjukan Fajarjun sebagai Wakil Rektor Bidang Akademik, Sumber Daya Manusia, dan Kemahasiswaan memiliki konteks yang kuat. Pengalaman akademiknya bersentuhan dengan kurikulum, publikasi, penelitian, dan jejaring perguruan tinggi. Pengalaman kelembagaannya memberi bekal untuk mengelola sumber daya manusia.
Sementara pengalaman di bidang komunikasi, olahraga, organisasi, dan pembinaan mahasiswa menjadi modal untuk mengembangkan kehidupan kemahasiswaan.
Namun, ada satu hal yang tidak bisa diperoleh dari buku atau jabatan. Rasa memiliki. Itulah yang dibawa Fajarjun ketika pulang ke Madiun. Kota yang dulu menjadi titik awal.
Kini menjadi tempat ia kembali mengabdikan diri. Dia pulang bukan sebagai anak muda yang hendak mencari jalan.
Dia pulang sebagai akademisi yang telah menempuh jalan panjang. Membawa ilmu. Membawa jejaring. Membawa pengalaman. Dan, tentu saja, membawa amanah.
Kini perhatiannya tertuju pada satu pekerjaan besar: membantu UMJT bangkit dan segera melakukan take off.
Bagi Fajarjun, jejaring adalah salah satu kuncinya. Sebab kampus yang ingin terbang tidak cukup hanya memiliki sayap. Dia harus tahu ke mana akan terbang. Dan harus punya banyak tangan yang bersedia mendorongnya dari landasan.
Madiun pernah menjadi tempat Fajarjun tumbuh. Kini ia kembali. Bukan untuk berhenti. Tetapi untuk ikut membuat sebuah kampus tumbuh. Dari kota kelahirannya sendiri. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments