Ada keistimewaan tersendiri menjadi bagian dari kloter haji terakhir. Pengalaman itulah yang dirasakan jamaah KBIHU Jabal Nur pada musim haji 1447 H/2026 M. Sejak keberangkatan hingga menjelang akhir perjalanan, berbagai pengalaman istimewa mengiringi langkah para tamu Allah tersebut.
Keistimewaan itu sudah terasa sejak keberangkatan dari Embarkasi Surabaya. Saat itu jamaah dilepas langsung oleh Gubernur Jawa Timur. Setibanya di Bandara Jeddah, jamaah kembali mendapat sambutan khusus dari Kementerian Haji Arab Saudi dan Makkah Route.
Para jamaah disambut dengan taburan bunga mawar, pemberian bunga dan kue, serta pasukan penyambut yang berjajar rapi dengan senyum ramah menyambut kedatangan para tamu Allah.
Begitu tiba di Makkah, jamaah tidak memiliki banyak waktu untuk beristirahat. Setelah melaksanakan tawaf qudum, rangkaian puncak ibadah haji segera dimulai.
Mereka mengikuti Tarwiyah di Mina, wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, lalu kembali ke Mina untuk menjalani mabit dan melempar jumrah selama hari-hari tasyrik. Setelah seluruh rangkaian Armuzna selesai, jamaah kembali ke Makkah untuk menuntaskan tawaf ifadah, sa’i, dan memperbanyak ibadah di Masjidil Haram.
Hingga akhirnya tiba saat yang cukup berat: meninggalkan Kota Suci Makkah menuju Madinah Al-Munawwarah, Senin (22/6/2026).
Dilepas Petugas dengan Lambaian Perpisahan
Keberangkatan menuju Madinah menjadi momen yang mengharukan. Seluruh jamaah KBIHU Jabal Nur dilepas oleh para petugas haji yang selama ini mendampingi mereka di sektor 4 dan sektor 5.
Para petugas berdiri di sekitar hotel dan jalan keberangkatan sambil melambaikan tangan kepada jamaah yang akan meninggalkan Makkah.
Pemandangan itu meninggalkan kesan mendalam. Selama lebih dari 40 hari para petugas telah menjadi sahabat, pelayan, sekaligus penolong bagi jamaah dalam menjalani ibadah di Tanah Suci.
Sistem keberangkatan menuju Madinah pun berlangsung tertib. Seluruh koper besar dan koper kecil dimasukkan ke bagasi bus oleh petugas sektor.
Jamaah tidak diperkenankan mengatur penempatan barang sendiri. Semua sudah ditangani secara profesional oleh petugas yang bertugas mengelola logistik.
“Tugas jamaah hanya memastikan barangnya ada dan duduk di dalam bus sesuai rombongan,” ujar salah satu jamaah.
Setelah seluruh barang masuk ke bagasi, petugas melakukan pemeriksaan kartu Nusuk dan mencocokkan jumlah penumpang satu per satu. Tidak boleh ada kesalahan penempatan jamaah dalam bus.
Pada rombongan tiga, misalnya, sempat diketahui ada dua jamaah yang berada di sektor berbeda. Bus pun harus menjemput kedua jamaah tersebut terlebih dahulu agar seluruh anggota rombongan lengkap sesuai manifest keberangkatan.
Setelah seluruh data sesuai dan jumlah jamaah lengkap, bus akhirnya bergerak meninggalkan Kota Makkah menuju Madinah.
Air Mata Perpisahan
Perjalanan meninggalkan Makkah menjadi momen yang sulit dilupakan.
Di balik rasa syukur karena telah menyelesaikan rangkaian ibadah haji, tersimpan kesedihan yang mendalam saat harus berpisah dengan kota yang selama ini menjadi pusat kerinduan umat Islam di seluruh dunia.
Jamaah memandang keluar jendela bus, menyaksikan bangunan-bangunan Kota Makkah perlahan menjauh.
Air mata pun tak terbendung.
Di kota inilah mereka bertawaf mengelilingi Ka’bah, bersujud di Masjidil Haram, meminum air zamzam, serta menghabiskan hari-hari yang penuh doa dan harapan.
Namun perjalanan belum selesai.
Masih ada satu kota suci yang menunggu untuk dikunjungi: Madinah Al-Munawwarah, kota tempat Rasulullah SAW dimakamkan.
Kerinduan kepada Rasulullah semakin menguat sepanjang perjalanan.
Lantunan shalawat terdengar dari sejumlah jamaah yang larut dalam suasana haru.
“Ya Rasulullah, kami datang mengunjungimu.”
Kalimat itu seolah menjadi doa yang mengiringi perjalanan panjang menuju Kota Nabi.
Bagi para jamaah, perjalanan ke Madinah bukan sekadar perpindahan kota. Perjalanan ini adalah perjalanan hati, menuju tempat yang menjadi saksi perjuangan Rasulullah SAW dalam menegakkan Islam.
Dengan penuh harap mereka berdoa agar diberi kesempatan menziarahi Masjid Nabawi, menyampaikan salam kepada Rasulullah SAW, serta memperoleh syafaat beliau kelak di hari kiamat.
“Ya Rasulullah, kami datang sebagai umatmu. Terimalah salam kami. Semoga Allah menjadikan kami bagian dari umat yang istiqamah mengikuti ajaranmu hingga akhir hayat.”





0 Tanggapan
Empty Comments