Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Dakwah Komunitas Jadi Instrumen Mobilisasi Masyarakat dalam Perspektif Kebangsaan

Iklan Landscape Smamda
Dakwah Komunitas Jadi Instrumen Mobilisasi Masyarakat dalam Perspektif Kebangsaan
Dakwah Komunitas Jadi Instrumen Mobilisasi Masyarakat dalam Perspektif Kebangsaan
pwmu.co -

Dakwah komunitas memiliki peran strategis dalam menggerakkan masyarakat sekaligus memperkuat kehidupan kebangsaan di tengah berbagai tantangan sosial yang semakin kompleks.

Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua Fraksi PAN DPRD Jawa Timur sekaligus Wakil Ketua MPID PWM Jawa Timur, Dr. H. Suli Da’im, M.M., saat menjadi narasumber dalam Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) PWM Jawa Timur yang berlangsung di Aula Mas Mansur PWM Jawa Timur, Ahad (21/6/2026).

Kegiatan yang diikuti para pegiat dakwah komunitas dari berbagai daerah di Jawa Timur itu berlangsung gayeng dan penuh antusiasme. Hadir dalam acara tersebut Ketua LDK PWM Jawa Timur KH. Akhmad Tolhah, M.Ag., serta Sekretaris LDK PWM Jawa Timur Ahmad Rosyidi yang bertindak sebagai moderator.

Peserta yang memadati Aula Mas Mansur tampak serius menyimak paparan yang disampaikan Suli Da’im. Bahkan Ahmad Rosyidi menilai materi yang disampaikan sangat kaya perspektif dan relevan dengan tantangan dakwah saat ini.

“Materinya daging semua. Sangat kaya perspektif dan relevan dengan tantangan dakwah saat ini,” ujar Ahmad Rosyidi.

Dalam paparannya yang berjudul “Syiar Dakwah Komunitas terhadap Mobilisasi Masyarakat dalam Perspektif Kebangsaan”, Suli Da’im menegaskan bahwa Muhammadiyah sejak awal berdirinya tidak hanya berfokus pada penguatan akidah dan ibadah, tetapi juga membangun kehidupan sosial, pendidikan, kesehatan, ekonomi, hingga peradaban.

Menurut mantan Ketua Umum PW Pemuda Muhammadiyah Jawa Timur tersebut, dakwah Muhammadiyah merupakan dakwah pencerahan yang mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan kemajuan masyarakat.

“Dakwah Muhammadiyah adalah dakwah yang menghadirkan solusi. Tidak hanya mengajak umat menjadi saleh secara individual, tetapi juga membangun masyarakat yang berkemajuan,” ujarnya.

Suli Da’im menjelaskan bahwa dakwah saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Revolusi digital, polarisasi sosial, menurunnya solidaritas masyarakat, maraknya hoaks keagamaan, hingga menguatnya individualisme menjadi tantangan nyata yang harus dihadapi para dai dan aktivis dakwah.

Karena itu, keberadaan LDK PWM Jawa Timur dinilai sangat strategis dalam mengembangkan dakwah berbasis komunitas, baik pada komunitas marginal, profesi, hobi, komunitas digital, maupun kelompok masyarakat yang belum tersentuh secara optimal oleh dakwah formal.

“Dakwah harus hadir di tengah masyarakat yang terus berubah. Dakwah tidak boleh tertinggal dari perkembangan zaman,” kata anggota DPRD Jawa Timur empat periode tersebut.

Mengutip QS Ali Imran ayat 110, Suli Da’im menegaskan bahwa dakwah memiliki dimensi sosial dan kebangsaan yang sangat kuat. Dakwah tidak hanya bertujuan membangun kesalehan individual, tetapi juga kesalehan sosial dan kebangsaan.

Ia menjelaskan terdapat lima prinsip utama dakwah dalam perspektif kebangsaan, yaitu:

SMPM 5 Pucang SBY

  1. Menjaga persatuan bangsa.
  2. Menguatkan moderasi beragama.
  3. Menumbuhkan cinta tanah air.
  4. Membangun keadilan sosial.
  5. Mengembangkan solidaritas kemanusiaan.

Menurutnya, Muhammadiyah sejak awal telah menempatkan Indonesia sebagai Darul Ahdi wa Syahadah, yaitu negara hasil konsensus nasional yang wajib dijaga bersama.

Lebih lanjut, Suli Da’im menjelaskan bahwa mobilisasi masyarakat bukan sekadar menggerakkan massa, melainkan membangun kesadaran, partisipasi, dan perubahan sosial.

Menurutnya, dakwah komunitas memiliki kekuatan karena dekat dengan masyarakat, memahami kebutuhan komunitas, menggunakan pendekatan humanis, memiliki jaringan sosial yang kuat, serta mampu membangun kepercayaan.

Komunitas sasaran dakwah tersebut meliputi komunitas nelayan, petani, pekerja, perempuan, pemuda, penyandang disabilitas, komunitas digital, hingga komunitas profesi.

“Melalui dakwah komunitas, masyarakat tidak hanya menerima pesan agama, tetapi juga memperoleh solusi atas persoalan kehidupan mereka,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Suli Da’im juga memaparkan lima strategi penguatan dakwah komunitas, yaitu:

  1. Konsolidasi organisasi.
  2. Peningkatan kapasitas dai.
  3. Pemetaan komunitas.
  4. Penguatan dakwah digital.
  5. Kolaborasi multipihak.

Menurutnya, Muhammadiyah memiliki modal sosial yang sangat besar berupa jaringan organisasi, amal usaha, kader di berbagai profesi, budaya filantropi, serta tingkat kepercayaan publik yang tinggi.

Modal sosial tersebut harus dikonsolidasikan menjadi kekuatan dakwah komunitas yang terintegrasi dan berdampak luas bagi masyarakat.

“Dakwah komunitas harus mampu melahirkan masyarakat yang religius, cerdas, sehat, sejahtera, produktif, moderat, dan cinta tanah air. Mobilisasi masyarakat dalam perspektif kebangsaan bukanlah mobilisasi politik praktis, melainkan mobilisasi nilai, partisipasi, dan gotong royong untuk kemajuan bangsa,” tegasnya.

Di akhir paparannya, Suli Da’im menegaskan bahwa masa depan dakwah Muhammadiyah tidak ditentukan oleh banyaknya ceramah yang disampaikan, melainkan sejauh mana dakwah mampu mengubah kehidupan masyarakat menjadi lebih baik.

“Lembaga Dakwah Komunitas PWM Jawa Timur harus menjadi pelopor gerakan dakwah yang mampu menggerakkan masyarakat, memperkuat persatuan bangsa, serta menghadirkan solusi bagi persoalan umat,” pungkasnya.

Revisi Oleh:
  • Satria - 21/06/2026 16:30
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu