Membangun citra diri atau personal branding tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan berbicara maupun penampilan menarik. Lebih dari itu, personal branding harus berakar pada hati yang bersih dan karakter yang mulia. Pesan inilah yang menjadi benang merah dalam Training Guru PAUD ABA Percontohan Bojonegoro bertema Personal Branding yang diselenggarakan di Mushala Sabtu (18/7/2026).
Kegiatan yang diikuti seluruh guru tersebut merupakan bagian dari program peningkatan kompetensi sekaligus pembinaan karakter pendidik agar mampu menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat.
Kepala PAUD ABA Percontohan, Dwi Anjarwati, S.Pd., mengawali kegiatan dengan memberikan apresiasi kepada seluruh guru yang selalu menunjukkan antusiasme tinggi dalam mengikuti setiap pelatihan yang diselenggarakan sekolah.
“Semangat belajar para guru menjadi kekuatan utama lembaga untuk terus berkembang. Kami berharap setiap pelatihan tidak berhenti pada penambahan wawasan, tetapi benar-benar melahirkan perubahan sikap, karakter, dan kualitas pelayanan kepada anak-anak,” tuturnya.
Perubahan Diri
Pada sesi materi, narasumber Muhammad Yahya, S.Pd., mengajak para guru memahami bahwa perubahan besar dalam kehidupan selalu dimulai dari perubahan hati.
“Kalau ingin mengubah nasib, mulailah dengan mengubah hati. Dari hati akan lahir pikiran yang baik, kemudian menjadi kebiasaan, membentuk karakter, dan akhirnya menentukan nasib seseorang,” jelasnya.
Menurutnya, langkah pertama memperbaiki kualitas diri adalah selalu mengingat Allah SWT. Sebab seluruh nikmat, mulai kesehatan, pekerjaan, hingga rezeki, merupakan karunia Allah yang telah diatur-Nya. Kesadaran tersebut akan melahirkan hati yang tenang, penuh syukur, dan jauh dari kesombongan.
Ia menegaskan bahwa hati yang baik akan menghasilkan kehidupan yang baik. Sebaliknya, hati yang dipenuhi keburukan akan membawa seseorang pada perilaku yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Dalam kesempatan itu, Muhammad Yahya memaparkan tujuh karakter utama yang perlu dimiliki seorang pendidik, yaitu selalu mengingat Allah, jujur, amanah, cerdas, pemaaf, kontributif, dan menghargai orang lain. Nilai-nilai tersebut, menurutnya, merupakan fondasi utama dalam membangun personal branding seorang guru.
“Seorang guru akan dipercaya bukan karena pencitraannya, tetapi karena integritas dan karakter yang konsisten ditunjukkan dalam kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.
Sebaliknya, ia mengingatkan agar para guru menjauhi sifat-sifat yang dapat merusak citra diri, seperti riya, gemar melakukan flexing demi pujian, berbohong, memfitnah, mengeluh berlebihan, serta membuka aib orang lain. Kebiasaan tersebut akan mengikis kepercayaan dan menghambat lahirnya pribadi yang berakhlak mulia.
Muhammad Yahya juga menambahkan bahwa orang yang dipilih mengemban amanah umumnya memiliki tiga karakter penting, yaitu kerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas. Ketiga karakter tersebut menjadi bekal penting bagi seorang guru dalam menjalankan tugas mendidik generasi masa depan.
Melalui pelatihan ini, PAUD ABA Percontohan Bojonegoro kembali menegaskan bahwa pengembangan kompetensi guru harus berjalan beriringan dengan pembentukan karakter. Sebab, guru yang memiliki hati yang baik, integritas yang kuat, dan akhlak yang mulia akan melahirkan budaya sekolah yang positif sekaligus menjadi inspirasi bagi peserta didik.
Training ini menjadi pengingat bahwa personal branding terbaik bukan dibangun melalui pencitraan, melainkan melalui keteladanan. Ketika hati dijaga, karakter dibentuk, dan amanah dijalankan dengan kerja keras, kerja cerdas, serta kerja ikhlas, maka kepercayaan masyarakat akan tumbuh dengan sendirinya.
Dari guru berkarakter itulah PAUD ABA Percontohan terus menyiapkan generasi unggul, berakhlakul karimah, dan siap menghadapi masa depan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments