Pekan kemarin, seorang teman mengirim pesan lewat aplikasi WhatApps (WA). Inti persoalannya bertanya tentang sejarah asal mula Kajian Ramadan di Muhammadiyah Jawa Timur. Katanya, untuk menambahi data penelitian kecil-kecilan yang dilakukannya.
Dikirimlah link berita dan juga sebuah foto dari sebuah buku. Dua bahan ini, bagi teman itu, katanya lumayan spesifik bernuansa sejarah tentang Kajian Ramadan. Link berisi tulisan Pemimpin Redaksi PWMU.CO, Agus Wahyudi, berjudul Kajian Ramadan, Ruang Tafakur, dan Konsolidasi Gagasan.
“Saya belum menemukan catatan resmi mengenai kapan pertama kali Kajian Ramadan PWM Jatim digelar. Namun, sejumlah pengurus Muhammadiyah memperkirakan forum ini telah berlangsung sejak dekade 1990-an,” begitu tulis Agus Wahyudi dalam link PWMU itu, yang digarisbawahi sang teman.
Kemudian foto yang dikirim berasal dari buku “Membangun Tradisi Baru: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 2000-2025”, halaman 69. Disebutkan Kajian Ramadan tertua baru tercatat pada tahun 2011. Berlangsung di Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengusung tema “Kejujuran: Pintu Gerbang Kemuliaan”.
Berkat pertanyaan teman itu, saya pun mulai membuka-buka buku atau arsip yang kira-kira pernah menulis Kajian Ramadan PWM Jatim. Hingga ketemulah Majalah Matan edisi kedua, September 2006. Menempati ¼ halaman, terpampang judul “Seruan & Undangan Kajian Ramadhan 1427”
“Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur mengundang Saudara Ketua & Anggota PDM, Pimpinan PTM, dan Pimpinan AUMKESOS se-Jawa Timur, untuk mengikuti Kajian Ramadhan 1427 H,” begitu tulis papan pengumuman di halaman 17 itu. Seruan dan undangan mencantumkan nama Ketua Prof Dr Syafiq A. Mughni, MA, serta Sekretaris Nadjib Hamid, MSi.
Jika melihat pengumuman ini, Kajian Ramadhan 1427 H seharusnya memang diselenggarakan di Kantor PWM Jatim, Jl. Kertomenanggal IV/1 Surabaya. Diselenggarakan selama 2 hari, Sabtu sampai Ahad, 7-8 November 2006. Pembukaan acara akan dilakukan oleh Gubernur Jawa Timur.
Namun, dalam perkembangannya, sebagaimana ditulis Matan Edisi November 2006, pendaftar Kajian Ramadan ternyata membludak. Tidak kurang 600 pendaftar. Aula PWM Jatim tidak muat. Sehingga acara pun dipindah ke Asrama Haji Sukolilo yang berlokasi di Jalan Manyar Kertoadi No. 6, Sukolilo, Surabaya.
Setelah menemukan catatan di Matan September dan November 2006 itu, setidaknya satu fase penting telah ketemu. Bahwa Kajian Ramadan PWM Jatim telah diselenggarakan 6 tahun sebelumnya, dari apa yang dicatat buku “Membangun Tradisi Baru: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 2000-2025”.
Tapi catatan ini tentu saja masih lebih muda dari hipotesa Agus Wahyudi. Dengan mengutip sejumlah pengurus Muhammadiyah, tulisanya, forum ini diperkirkan telah berlangsung sejak dekade 1990-an.
Untuk menguji hipotesa Agus Wahyudi, saya harus merurut pada pihak yang terlibat kepemimpinan Muhammadiyah Jatim. Pada Senin (08/06/2026), saya pun basa-basi berkirim WA pada Ketua PWM Jatim 2005-2010, Prof Syafiq A. Mughni. Menanyakan Kajian Ramadan 2006 itu sesuatu yang baru atau hanya meneruskan tradisi yang sudah ada di PWM sebelumnya.
Jawaban benderang dari Prof Syafiq baru datang keesokan harinya menjelang Subuh. Bahwa dalam perjalanan PWM Jatim 2000-2005, Kajian Ramadan belum ada. Saya menanyakan kronologi peristiwa ini pada Prof Syafiq, karena beliau juga terllibat dalam kepemimpinan Prof Fasich. Tercatat sebagai salah satu Wakil Ketua PWM Jatim periode 2000-2005.
Laporan tentang Kajian Ramadan itu tertulis di Majalah Matan Edisi November 2006 halaman 51 dan 52. Berjudul “Kajian Peneguhan Ideologi”, banyak pembicara yang hadir saat. Selain Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof Din Syamsuddin, juga ada Ketua PWM Jatim 2000-2005, Prof Fasich. Pembicara lainnya adalah –dengan gelar akademiknya saat itu– Prof Zainuddin Maliki, Dr Haedar Nashir, Prof Achmad Jainuri, Dr Muslim Abdurrahman, Muhadjir Effendy MAP, dan praktisi media Ali Murtadlo.
Dalam pandangan saya pribadi, PWM Jatim 2005-2010 memang salah satu periode yang konsen pada penguatan literasi. Meski pondasinya telah dibangun mulai akhir-akhir periode PWM 2000-2005. Terbukti dengan lahirnya magnum opus sejarah kelahiran Muhammadiyah Jawa Timur, “Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004″.
Buku Menembus Benteng Tradisi, menurut catatan pengantarnya, dikerjakan selama 23 bulan oleh sebuah tim. Prof Syafiq didaulat sebagai penanggung jawabnya, dengan ketua tim Prof Sjamsudduha dan Sekretaris Dr Ahmad Nur Fuad. Bagi saya, ini adalah buku yang otoritatif untuk menjelaskan Muhammadiyah di Jatim. Sebab, ia karya yang sangat kaya rujukan data primer. Mungkin hanya satu dua soal tidak terlalu mendasar, yang membutuhkan revisi sedikit-sedikit.
Pada saat bersamaan, juga terbit beberapa buku lainnya tentang Muhammadiyah dan juga tokohnya. Di antaranya “Pergumulan Tokoh Muhammadiyah Menuju Sufi Catatan Pemikiran Abdurrahim Nur”. Kemudian juga ada buku “Muhammadiyah Korban Kekerasan Politik” dan “Siapa dan SiApa: 50 Tokoh Muhammadiyah Jawa Timur”.





0 Tanggapan
Empty Comments