Nama Zaini Dahlan mungkin masih terdengar asing bagi sebagian kader dan simpatisan Muhammadiyah di Magetan. Padahal, lelaki kelahiran Desa Tegalarum, Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan, itu pernah menjadi bagian penting dari denyut gerakan Muhammadiyah pada era 1950–1960-an.
Ironisnya, jejak perjuangan Zaini Dahlan justru lebih banyak ditemukan jauh dari tanah kelahirannya. Ia menghabiskan sebagian besar masa pengabdiannya di berbagai daerah, terutama Rembang. Di kota itulah namanya tercatat dalam sejarah pergerakan kepemudaan Muhammadiyah dan aktivitas politik umat pada masa yang penuh dinamika.
Zaini Dahlan bukan tipe tokoh yang meninggalkan banyak jejak dalam bentuk monumen atau nama jalan. Jejaknya lebih banyak tersimpan dalam dokumen, cerita anak-anaknya, dan ingatan orang-orang yang pernah bersentuhan dengan perjalanan hidupnya.
Salah satu bukti paling penting adalah kartu anggota Pemuda Muhammadiyah yang masih tersimpan hingga kini.
Dalam dokumen asli tersebut, Zaini Dahlan tercatat sebagai anggota Pemuda Muhammadiyah dengan nomor anggota 2151. Kartu itu ditandatangani Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah pada 1 Maret 1962.
Selembar kartu anggota yang tampak sederhana itu ternyata menyimpan cerita panjang. Di balik nama dan nomor keanggotaan tersebut terdapat perjalanan seorang putra Magetan yang memilih mengabdikan hidupnya melalui pendidikan, politik, dan Persyarikatan Muhammadiyah.
Zaini Dahlan lahir di Desa Tegalarum, Kecamatan Bendo, Magetan. Namun, sebagaimana dituturkan anak-anaknya, hidupnya tidak banyak dihabiskan di tanah kelahiran.
Tugas sebagai guru membuatnya berpindah dari satu daerah ke daerah lain. Mobilitas itu kemudian mempertemukannya dengan berbagai lingkungan sosial dan organisasi. Rembang menjadi salah satu tempat penting dalam perjalanan hidupnya.
Di sana, Zaini Dahlan tidak sekadar menjalani profesi sebagai pendidik. Ia juga aktif dalam pergerakan kepemudaan dan politik umat.
Informasi tersebut disampaikan putranya, Misbachul Munir, dalam komunikasi dengan penulis pada Rabu (23/4/2023).
Menurut Munir, pada sekitar 1962 ayahnya dikenal sebagai tokoh Pemuda Muhammadiyah di Rembang. Sebelumnya, pada 1960, Zaini Dahlan dipercaya menjadi Ketua Umum Partai Muslimin Indonesia (Parmusi) Tjabang Rembang.
Dua aktivitas itu menunjukkan bahwa ruang pengabdian Zaini Dahlan cukup luas. Ia berada di antara dunia pendidikan, kepemudaan Muhammadiyah, dan dinamika politik umat yang berkembang pada masa tersebut.
Bagi generasi sekarang, situasi politik dan organisasi pada awal 1960-an mungkin terasa begitu jauh. Namun, pada masa itu, keterlibatan seorang guru dalam gerakan sosial dan politik bukanlah sesuatu yang sederhana.
Di tengah perubahan politik nasional yang cepat, organisasi keagamaan dan kelompok masyarakat turut mencari ruang untuk menyuarakan aspirasi. Zaini Dahlan menjadi salah seorang yang mengambil bagian dalam dinamika tersebut.
Muhammadiyah dalam Lingkar Keluarga
Keterlibatan Zaini Dahlan dalam Muhammadiyah rupanya tidak muncul dari ruang kosong.
Ada jejak Muhammadiyah dalam keluarga istrinya. Zaini Dahlan menikah dengan Siti Nurjati, putri Siswosudarmo, seorang mantri guru agama di Karangmojo. Siswosudarmo sendiri dikenal sebagai salah seorang tokoh Muhammadiyah Barat pada era 1940–1950-an.
Informasi mengenai latar belakang keluarga tersebut disampaikan oleh Zakarija Achmat, anak keenam Zaini Dahlan, ketika berkomunikasi dengan penulis pada Selasa (13/12/2022).
Zakarija yang kemudian menjadi dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu menegaskan bahwa ayahnya memang berasal dari Magetan.
“Bapak berasal dari Desa Tegalarum, Bendo, Magetan. Beliau menikah dengan Ibu Siti Nurjati, anak seorang mantri guru agama di Karangmojo yang bernama Siswosudarmo,” tuturnya.

Foto: Dok. Munir/PWMU.CO
Kedekatan keluarga dengan Muhammadiyah itu rupanya ikut menjadi bagian dari perjalanan pendidikan anak-anak Zaini Dahlan.
Zakarija, misalnya, pernah mengenyam pendidikan di TK ‘Aisyiyah 6 Karangmojo (Barat) dan menyelesaikan pendidikannya di sana pada 1975.
Ada sesuatu yang menarik dari kisah ini. Muhammadiyah bagi keluarga Zaini Dahlan bukan hanya organisasi yang berada di luar rumah. Ia menjadi lingkungan sosial yang turut membentuk perjalanan keluarga, pendidikan anak, sekaligus cara mereka memandang pengabdian.
Jika ayahnya aktif dalam pergerakan, anak-anaknya tumbuh dalam ekosistem pendidikan Muhammadiyah. Jejak itu kemudian berlanjut dalam bentuk yang berbeda.





0 Tanggapan
Empty Comments