Misbachul Munir, yang kini dikenal sebagai salah seorang tokoh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (Pimda) Tapak Suci Kota Madiun, menyimpan kekaguman tersendiri terhadap ayahnya.
Menurutnya, keluarga sangat bangga terhadap seluruh pengorbanan dan perjuangan yang telah dilakukan Zaini Dahlan.
“Saya dan keluarga sangat bangga kepada beliau, atas segala pengorbanan serta perjuangannya,” ujarnya.
Kalimat itu terasa sederhana. Namun, jika ditempatkan dalam keseluruhan perjalanan hidup Zaini Dahlan, maknanya menjadi jauh lebih dalam.
Ada seorang anak yang melihat ayahnya bukan sekadar sebagai guru. Ada keluarga yang melihat seorang ayah pernah berpindah-pindah daerah demi tugas. Ada anak-anak yang mengetahui ayah mereka pernah aktif dalam gerakan Muhammadiyah dan politik umat.
Ada pula keluarga yang menyaksikan bagaimana sang ayah harus melewati dua tahun di tahanan militer akibat tuduhan yang menurut mereka tidak terbukti. Dan setelah semua itu, ia tetap kembali ke dunia pendidikan.
Selembar Kartu dan Sebuah Ingatan
Barangkali, salah satu cara paling sederhana untuk mengingat Zaini Dahlan adalah melalui selembar kartu anggota Pemuda Muhammadiyah. Nomor 2151. Tanggal 1 Maret 1962. Nama Zaini Dahlan.
Secara administratif, kartu itu mungkin hanya menunjukkan bahwa seseorang pernah menjadi anggota sebuah organisasi. Tetapi dalam perspektif sejarah, selembar kartu tersebut menjadi pintu masuk untuk membaca perjalanan satu generasi.
Generasi yang tumbuh ketika Indonesia masih mencari bentuknya sebagai negara baru. Generasi yang menjalani pergulatan politik dengan segala kompleksitasnya. Generasi yang menjadikan sekolah, organisasi, dan gerakan sosial sebagai ruang pengabdian.
Zaini Dahlan adalah salah satu nama dari generasi tersebut. Namanya mungkin tidak banyak dikenal oleh kader Muhammadiyah Magetan hari ini. Wajar, sebab sebagian besar perjalanan pengabdiannya justru berlangsung di luar Magetan.
Namun, akar sejarahnya tetap berada di sebuah desa kecil bernama Tegalarum. Dari sana, seorang anak Magetan bergerak ke berbagai daerah.
Dia menjadi guru, aktif dalam Pemuda Muhammadiyah, terlibat dalam politik umat, membangun keluarga dalam lingkungan Muhammadiyah, melewati masa penahanan, mengalami stigma, kemudian mengakhiri masa pengabdiannya sebagai guru di Jakarta Selatan.
Perjalanan itu memperlihatkan satu hal penting: sejarah Persyarikatan tidak hanya dibangun oleh nama-nama besar yang tercatat dalam buku sejarah.
Dia juga disusun oleh orang-orang yang bekerja dalam senyap. Oleh guru yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Oleh aktivis yang mengurus organisasi di tingkat cabang. Oleh orang-orang yang pernah mengambil risiko ketika zaman sedang tidak mudah.
Dan oleh keluarga yang bertahun-tahun kemudian masih menyimpan cerita tentang perjuangan orang tuanya.
Zaini Dahlan mungkin tidak meninggalkan banyak jejak yang kasatmata di Magetan. Tetapi dari Tegalarum, jejaknya bergerak jauh—ke Rembang, Madiun, hingga Jakarta.
Kini, setelah puluhan tahun berlalu, sebuah kartu anggota Pemuda Muhammadiyah yang diterbitkan pada 1962 kembali membuka pintu ingatan.
Dari selembar dokumen itulah kita belajar bahwa sejarah sering kali tidak berteriak. Ia hanya menunggu seseorang membacanya.
Dan ketika dibaca, nama Zaini Dahlan perlahan muncul kembali sebagai bagian dari sejarah panjang Muhammadiyah: seorang putra Tegalarum yang mengabdikan hidupnya sebagai guru, aktivis, dan pejuang di tengah zaman yang tidak selalu ramah kepada orang-orang yang memilih jalan pengabdian. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments