Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Zaini Dahlan, Putra Tegalarum yang Menorehkan Jejak Muhammadiyah di Rembang

Iklan Landscape Smamda
Zaini Dahlan, Putra Tegalarum yang Menorehkan Jejak Muhammadiyah di Rembang
Zaini Dahlan, anggota pemuda Muhammadiyah Magetan era 1960. Foto: Dok. Samsul Hidayat/PWMU.CO

Kisah hidup Zaini Dahlan memperlihatkan bahwa menjadi guru pada masa itu tidak selalu berarti memiliki kehidupan yang menetap.

Menurut Misbachul Munir, ayahnya justru dikenal sebagai sosok yang terus berpindah dan berkeliling dari satu daerah ke daerah lain untuk menjalankan tugas sebagai guru.

Dia tidak pernah benar-benar hidup di Magetan setelah menjalani masa pengabdiannya.

“Bapak selalu berkeliling ke berbagai daerah menjalankan tugasnya sebagai guru,” kata Munir.

Kalimat pendek tersebut seolah menggambarkan seluruh perjalanan hidup Zaini Dahlan.

Dia lahir di Tegalarum, tetapi kehidupannya tidak berhenti di Tegalarum. Memiliki akar keluarga di Magetan, tetapi pengabdiannya melintasi banyak daerah.

Dia aktif dalam Muhammadiyah di Rembang, terlibat dalam politik umat, lalu kembali bergerak mengikuti penugasan sebagai guru.

Bagi seorang pendidik, perpindahan tempat mungkin merupakan bagian dari pekerjaan. Namun bagi Zaini Dahlan, perpindahan itu justru menjadi jalan untuk memperluas ruang pengabdian.

Dua Tahun di Rumah Tahanan Militer

Perjalanan Zaini Dahlan ternyata tidak selalu berjalan mulus. Ada satu fase paling pahit dalam hidupnya yang hingga kini masih diingat oleh keluarga: dua tahun berada di Rumah Tahanan Militer (RTM) Madiun.

SMPM 5 Pucang SBY

Menurut Misbachul Munir, ayahnya pernah ditahan karena difitnah terlibat dalam kasus yang dikait-kaitkan dengan Komando Jihad.

Dua tahun tentu bukan waktu yang sebentar. Bagi seorang guru dan kepala keluarga, masa tersebut berarti kehilangan waktu bersama keluarga, kehilangan kebebasan, sekaligus harus menghadapi stigma yang dapat melekat jauh lebih lama daripada masa penahanan itu sendiri.

Namun, menurut keluarga, tuduhan tersebut pada akhirnya tidak terbukti. Peristiwa itu kemudian membawa konsekuensi lain dalam kehidupan Zaini Dahlan. Namanya sempat masuk dalam daftar hitam di Jawa Timur karena dikait-kaitkan dengan isu keterlibatan dalam Komando Jihad.

Karier dan kehidupannya pun harus kembali bergerak. Alih-alih berhenti mengajar, Zaini Dahlan kemudian melanjutkan pengabdiannya di tempat lain. Ia menghabiskan masa akhir purnanya sebagai guru di PGAN Pondok Pinang, Jakarta Selatan.

Ada ironi dalam perjalanan tersebut. Seorang lelaki yang sejak awal memilih jalan pendidikan dan pengabdian organisasi justru harus melewati masa ketika namanya dikaitkan dengan sebuah tuduhan serius.

Dia harus menanggung akibat sosial dan profesional dari tuduhan yang, menurut keluarganya, tidak pernah terbukti. Namun, dia tidak berhenti menjadi guru. Kebanggaan yang Tersisa dalam Keluarga

Kini, kisah Zaini Dahlan lebih banyak hidup melalui cerita anak-anaknya. Bagi keluarga, pengalaman pahit yang pernah dialami sang ayah tidak menghapus kebanggaan mereka.

Justru sebaliknya, berbagai ujian tersebut menjadi bagian dari cerita pengabdian yang membuat mereka semakin menghargai sosok Zaini Dahlan.

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 01/08/2026 18:45
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu