Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Rungkut bersama MI Muhammadiyah (MIM) 27 Surabaya menggelar Rapat Koordinasi Khusus Madrasah (Rakorsusma). Rapat digelar di Hotel Southern Surabaya, Sabtu (1/8/2026).
Mengusung tema “Transformasi MIM 27 Surabaya Menuju Madrasah Berkemajuan, Unggul, Berkelanjutan, dan Berdaya Saing”, kegiatan ini dihadiri jajaran pimpinan cabang, pengurus majelis, dewan guru, staf operasional, hingga perwakilan komite sekolah.
Forum strategis berskala intensif yang berlangsung sejak pukul 08.00 hingga 17.00 WIB ini difokuskan untuk mematangkan langkah perombakan fasilitas serta pembenahan mutu pendidikan madrasah secara menyeluruh.
Ketua Dikdasmen Cabang Rungkut, H. Muhammad Syaikhul Islam, S.H.I., M.H.I., membeberkan dinamika krusial yang tengah dihadapi pihak madrasah.
“Kapasitas gedung kita sudah tidak menampung karena pendaftaran tahun ini melonjak sampai 113 siswa baru. Kita terpaksa pakai area lantai tiga dulu, tapi untungnya PCM Rungkut langsung turun tangan bantu suntikan dana ratusan juta,” ujar Syaikhul.
Menurut Syaikhul, lonjakan minat masyarakat untuk menyekolahkan anaknya di MIM 27 memicu persoalan baru berupa keterbatasan ruang belajar. Kebutuhan tempat mengajar menjadi mendesak setelah lembaga tersebut menerima 113 peserta didik baru pada tahun ajaran ini, yang secara langsung menyebabkan kapasitas gedung lama mengalami kendala daya tampung.
“Kondisi di lapangan sudah melampaui kapasitas ideal. Sebagai konsekuensi logis, kami harus mengambil langkah cepat dengan membangun ruang kelas baru di lantai tiga. PCM Rungkut di bawah pimpinan Faisal Haqqi justru memberikan sokongan dana hingga ratusan juta rupiah demi menopang kemajuan MIM 27,” ujar Syaikhul.
Ia menegaskan, pembenahan fisik ini selaras dengan peta jalan “Visi 2035” yang dirancang bertahap sampai 2037 agar MIM 27 mampu berdiri sejajar dengan sekolah-sekolah Islam modern jajaran teratas.
Menanggapi hal itu, Ketua PCM Rungkut, Faisal Haqqi, S.E., menyampaikan rasa syukur dan apresiasinya atas soliditas seluruh elemen pimpinan serta tenaga pendidik. Ia optimistis kendala ruang belajar dan keterbatasan fisik dapat teratasi seiring kuatnya komitmen persyarikatan.
“Saya terharu melihat kerja keras para pengurus di Rungkut. Selama kita berjuang untuk syiar Islam, jalan keluar pasti terbuka. Ke depan, fokus kita tidak hanya berhenti pada peningkatan mutu pembelajaran, tetapi juga pembebasan lahan baru untuk perluasan fisik MIM 27,” tutur Faisal yang juga Ketua Lazismu Surabaya.
Kepala MIM 27 Surabaya, Sixtynna Eka Octaviany, S.Pd., Gr., memaparkan laporan perkembangan lembaga dalam beberapa tahun terakhir. Data operasional mencatat grafik kenaikan jumlah siswa yang konsisten. Pada tahun ajaran 2024–2025, jumlah murid tercatat sebanyak 383 anak, kemudian naik menjadi 407 anak pada periode 2025–2026, dan diproyeksikan melonjak hingga 464 siswa pada tahun ajaran 2026–2027.
“Soal lahan dan ruang kelas yang sempit ini memang jadi pekerjaan rumah kita bersama. Makanya ke depan kita tidak cuma fokus pada mutu pelajaran saja. Tapi juga mulai bergerak untuk pembebasan lahan baru demi perluasan gedung MIM 27” tambah Faisal Haqqi.
“Melihat tren ini, target jangka panjang kami adalah menjangkau 1.000 peserta didik. Oleh karena itu, pimpinan madrasah merancang skema pembukaan Kampus 2. Untuk jangka pendek, kami mengajukan pemenuhan sarana baru. Yang mencakup lima ruang kelas, laboratorium bahasa berbasis digital, ruang guru, ruang ganti siswa, koperasi, hingga area parkir permanen,” kata Sixtynna.
Ia menambahkan, keterbatasan lahan tak menyurutkan prestasi anak didiknya. Sepanjang tahun ajaran 2025/2026, siswa MIM 27 berhasil memborong 271 piala dan penghargaan. 70 persen di antaranya diraih dalam ajang tingkat nasional melalui kelas prestasi seperti Tahfidz, Badminton, serta Pencak Silat.
Sementara itu, pakar psikologi pendidikan Universitas Muhammadiyah Surabaya yang hadir sebagai pembicara utama, Dr. Mulyana AZ, S.Pd., M.Si., menguraikan 12 strategi utama dalam membesarkan dan mempertahankan mutu sekolah. Mulyana menekankan pentingnya pengembangan karakter guru, inovasi program unggulan yang tidak monoton, serta keberanian lembaga untuk bertransformasi ke arah digitalisasi.
“Membesarkan sekolah itu relatif mudah. Namun mempertahankan kualitasnya jauh lebih sulit. Sekolah yang enggan melahirkan inovasi baru akan tertinggal oleh kompetitor dan ditinggalkan wali murid. Kehadiran teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) harus disikapi sebagai tantangan untuk memperbarui metode mengajar. Bukan dianggap sebagai ancaman,” jelas Mulyana.





0 Tanggapan
Empty Comments