Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Sebab-Sebab Kehancuran dan Kebinasaan Umat

Iklan Landscape Smamda
Sebab-Sebab Kehancuran dan Kebinasaan Umat
Moh. Helman Sueb. (Istimewa/PWMU.CO)
Oleh : Moh. Helman Sueb Pembina Pesantren Muhammadiyah Babat, Lamongan

Dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa kehancuran dan kebinasaan umat terjadi karena mereka mendustakan para utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala beserta ajaran dan mukjizat yang dibawanya. Kebinasaan tersebut bukanlah tanpa sebab, melainkan merupakan bentuk hukuman dari Allah atas perbuatan manusia itu sendiri.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surat Ar-Rum ayat 41:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Ayat ini menegaskan bahwa kerusakan yang terjadi di muka bumi sejatinya merupakan konsekuensi dari ulah manusia. Oleh karena itu, manusia memiliki peran besar dalam menentukan arah peradaban: menuju kebaikan atau kehancuran.

Dalam Surat Hud ayat 116, Allah juga menjelaskan:

 “Maka mengapa tidak ada dari umat-umat sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang dari perbuatan kerusakan di muka bumi, kecuali sebagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka. Dan orang-orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa.”

Dari ayat tersebut, setidaknya terdapat tiga penyebab utama kehancuran umat:

Pertama, tidak adanya upaya mencegah kerusakan.

Ketika kemaksiatan dan perbuatan merusak dibiarkan tanpa ada yang mengingatkan atau mencegah, maka kerusakan akan meluas dan menimbulkan kekacauan dalam masyarakat. Islam dengan tegas melarang perbuatan merusak, sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-Qashash ayat 77:

 “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia; dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Ayat ini mengajarkan keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat, serta pentingnya berbuat baik dan menjauhi kerusakan sebagai fondasi kehidupan umat yang sehat dan beradab.

Kedua, tenggelam dalam kenikmatan dunia.

Dunia adalah tempat sementara untuk mempersiapkan bekal menuju akhirat. Kenikmatan dunia boleh dinikmati, namun tidak boleh melalaikan dari tujuan utama kehidupan. Banyak manusia terjebak dalam ambisi mengumpulkan harta tanpa memperhatikan halal dan haram, serta mengabaikan kepedulian sosial.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan kondisi ini dalam sebuah hadis:

“Hampir saja umat-umat lain mengerumuni kalian seperti orang-orang yang mengerumuni hidangan.”

SMPM 5 Pucang SBY

Para sahabat bertanya, “Apakah karena jumlah kami sedikit saat itu?”

Beliau menjawab, “Bahkan kalian banyak, tetapi seperti buih di lautan. Allah akan mencabut rasa takut dari hati musuh-musuh kalian dan menanamkan dalam hati kalian ‘wahn’.”

Ditanya, “Apakah ‘wahn’ itu?”

Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad)

Hadis ini menjadi peringatan bahwa kecintaan berlebihan terhadap dunia dapat melemahkan umat secara moral dan spiritual.

Ketiga, gemar berbuat dosa.

Dosa merupakan bentuk pelanggaran terhadap ketentuan Allah yang akan mendatangkan konsekuensi buruk. Dalam Surat Al-An’am ayat 65, Allah berfirman:

“Katakanlah: Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu, atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan yang saling bertentangan dan merasakan kepada sebagian kamu keganasan sebagian yang lain…”

Demikian pula dalam Surat Al-Ankabut ayat 40:

“Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya; di antara mereka ada yang Kami timpakan hujan batu kerikil, ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan ada yang Kami tenggelamkan. Allah tidak menzalimi mereka, tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri.”

Ayat-ayat ini menegaskan bahwa setiap dosa memiliki konsekuensi, baik dalam bentuk azab langsung maupun kerusakan sosial yang meluas.

Sebagai penutup, memahami sebab-sebab kehancuran umat hendaknya menjadi pelajaran berharga bagi kita. Umat Islam dituntut untuk senantiasa memperbaiki diri, memperkuat keimanan, serta aktif dalam amar ma’ruf nahi munkar. Selain itu, penting untuk menjaga hubungan baik dengan sesama, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran, serta mempersiapkan bekal terbaik untuk kehidupan akhirat.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membimbing kita semua menjadi bagian dari umat yang selamat dan diridhai-Nya. Wallahu a’lam bishawab. (*)

Revisi Oleh:
  • Nadjib Hamid - 29/04/2026 21:07
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡