Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Inilah Manusia yang Dirindukan oleh Masjid

Iklan Landscape Smamda
Inilah Manusia yang Dirindukan oleh Masjid
Alfain Jalaluddin Ramadlan. (Pribadi/PWMU.CO)
Oleh : Alfain Jalaluddin Ramadlan Anggota LPCRPM PWM Jawa Timur, Wakil Sekretaris LSBO PDM Lamongan, Pengajar di Pondok Pesantren Al Mizan Muhammadiyah Lamongan

PWMU.CO- Masjid bukan sekadar bangunan fisik tempat umat Islam menunaikan salat. Masjid adalah pusat peradaban, tempat lahirnya nilai, ilmu, dan gerakan perubahan. Namun, hari ini kita dihadapkan pada pertanyaan reflektif: siapakah manusia yang sebenarnya dirindukan oleh masjid? Apakah sekadar mereka yang datang sesekali, atau mereka yang menjadikan masjid sebagai denyut kehidupan?

Dalam ajaran Islam, ada tujuh golongan istimewa yang mendapat naungan Allah pada hari kiamat, dan salah satunya adalah seorang yang hatinya bergantung ke masjid. Rasulullah Saw bersabda:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: اَلْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللهِ ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْـمَسَاجِدِ ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ اِجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ ، فَقَالَ : إِنِّيْ أَخَافُ اللهَ ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tujuh golongan yang dinaungi Allâh dalam naungan-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: (1) Imam yang adil, (2) seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allâh, (3) seorang yang hatinya bergantung ke masjid, (4) dua orang yang saling mencintai di jalan Allâh, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya, (5) seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allâh.’ Dan (6) seseorang yang bershadaqah dengan satu shadaqah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfaqkan tangan kanannya, serta (7) seseorang yang berdzikir kepada Allâh dalam keadaan sepi lalu ia meneteskan air matanya.”

Pada poin ketiga hadis ini, Rasulullah Saw menyebutkan: “wa rajulun qalbuhu mu‘allaqun fil masājid” seorang yang hatinya bergantung pada masjid. Ungkapan ini sangat dalam maknanya. Nabi tidak mengatakan “kakinya sering ke masjid”, tetapi hatinya yang terikat. Artinya, hubungan dengan masjid bukan sekadar rutinitas lahiriah, melainkan keterikatan batin yang hidup dan terus-menerus.

Kata “mu‘allaq” (tergantung) memberi gambaran seolah-olah hati itu selalu “tersangkut” di masjid. Secara fisik dia bisa saja berada di pasar, di rumah, di tempat kerja, atau di tengah kesibukan dunia, tetapi rasa rindu, ingatan, dan orientasi jiwanya tetap kembali ke masjid. Begitu keluar dari masjid, ia sudah menanti waktu untuk kembali. Ini bukan keterpaksaan, melainkan kecintaan yang tumbuh dari iman.

Keterikatan hati ini melahirkan beberapa karakter penting:

Pertama, kerinduan spiritual. Dia merasa ada yang kurang ketika jauh dari masjid. Masjid baginya bukan sekadar bangunan, tetapi tempat bertemu dengan Allah, tempat menenangkan jiwa, dan tempat mengisi ulang kekuatan iman. Ketika dunia terasa berat, ia mencari masjid. Ketika hati gundah, ia kembali ke masjid. Di sanalah ia menemukan ketenangan yang tidak bisa diberikan oleh hiruk-pikuk dunia.

Kedua, konsistensi ibadah. Orang yang hatinya bergantung pada masjid akan menjaga salat berjamaah, khususnya salat lima waktu. Ia tidak menunggu semangat, tetapi menjadikan masjid sebagai bagian dari ritme hidupnya. Bahkan dalam kondisi sibuk, ia berusaha menyesuaikan jadwal hidupnya dengan panggilan azan, bukan sebaliknya. Masjid menjadi pusat waktu, bukan sekadar selingan.

Ketiga, ikatan emosional dengan rumah Allah. Ia merasa memiliki masjid, menjaga kebersihannya, memakmurkannya, dan peduli terhadap aktivitas di dalamnya. Ia tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga bagian dari kehidupan masjid. Ketika masjid sepi, ia resah. Ketika masjid hidup dengan kajian, tilawah, dan aktivitas kebaikan, ia bahagia.

Keempat, pengaruh terhadap akhlak. Hati yang sering terhubung dengan masjid akan lebih mudah dijaga dari maksiat. Ada kontrol batin yang kuat, karena ia selalu merasa dekat dengan Allah. Masjid menjadi benteng moral yang membentuk kejujuran, kesabaran, dan ketenangan dalam bersikap.

Kelima, keseimbangan dunia dan akhirat. Orang ini tidak anti dunia, tetapi menjadikan masjid sebagai kompas hidupnya. Aktivitas dunia tetap berjalan, namun arah hidupnya tetap menuju Allah. Ia bekerja, belajar, dan berinteraksi sosial, tetapi hatinya tidak lepas dari nilai-nilai yang ia dapatkan dari masjid.

Menariknya, balasan bagi orang seperti ini sangat istimewa: naungan Allah pada hari kiamat, saat tidak ada perlindungan selain dari-Nya. Ini menunjukkan bahwa keterikatan hati dengan masjid adalah amal yang sangat dicintai Allah, karena ia mencerminkan keimanan yang tulus, istiqamah, dan mendalam.

Dari sini kita memahami bahwa “manusia yang dirindukan masjid” bukan hanya mereka yang sering hadir, tetapi mereka yang menjadikan masjid sebagai rumah kedua bagi hatinya. Ia datang bukan sekadar menggugurkan kewajiban, tetapi karena cinta. Ia kembali bukan karena kebiasaan semata, tetapi karena kebutuhan jiwa.

Maka, ukuran sejatinya bukan seberapa sering kita ke masjid, tetapi seberapa jauh hati kita merasa dekat dengannya. Jika hati mulai merasa nyaman di masjid, rindu pada azan, dan tenang dalam sujud, di situlah tanda bahwa kita sedang menjadi bagian dari golongan yang disebut Rasulullah Saw, mereka yang hatinya benar-benar terikat dengan rumah Allah.

Al-Qur’an juga menegaskan:

اِنَّمَا يَعْمُرُ مَسٰجِدَ اللّٰهِ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَ وَلَمْ يَخْشَ اِلَّا اللّٰهَۗ فَعَسٰٓى اُولٰۤىِٕكَ اَنْ يَّكُوْنُوْا مِنَ الْمُهْتَدِيْنَ

“Sesungguhnya yang (pantas) memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, mendirikan salat, menunaikan zakat, serta tidak takut (kepada siapa pun) selain Allah. Mereka itulah yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk” (Qs. At-Taubah: 18)

Ayat ini tidak sekadar berbicara tentang aktivitas fisik di masjid, tetapi menghadirkan ukuran spiritual yang sangat dalam tentang siapa yang benar-benar layak disebut pemakmur masjid. Lafal “innamā ya‘muru masājidallāh” menggunakan kata innamā yang bermakna pembatasan (hasr), seakan Allah menegaskan: yang benar-benar memakmurkan masjid hanyalah mereka dengan kriteria tertentu, bukan semua orang yang sekadar hadir atau singgah.

Pertama, disebutkan “man āmana billāhi wal-yaumil ākhir” orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Ini menunjukkan bahwa fondasi utama memakmurkan masjid adalah iman yang hidup, bukan formalitas. Iman kepada Allah melahirkan kesadaran akan pengawasan-Nya (murāqabah), sedangkan iman kepada hari akhir menghadirkan orientasi amal yang jauh ke depan. Orang seperti ini datang ke masjid bukan karena kebiasaan sosial, tetapi karena panggilan hati dan keyakinan akan pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Kedua, “wa aqāmaṣ-ṣalāh” mendirikan salat. Ayat ini tidak menggunakan kata “ṣallā” (sekadar salat), tetapi “aqāma” yang berarti menegakkan. Ini mengandung makna bahwa salat itu dilakukan dengan kesungguhan: tepat waktu, berjamaah, khusyuk, dan berkesinambungan. Dengan demikian, memakmurkan masjid bukan hanya mengisi ruangnya, tetapi juga menghidupkan kualitas ibadah di dalamnya.

Ketiga, “wa ātaz-zakāh” menunaikan zakat. Ini menarik, karena ayat tentang masjid justru memasukkan dimensi sosial. Artinya, orang yang memakmurkan masjid sejati bukan hanya rajin ibadah ritual, tetapi juga memiliki kepedulian sosial. Masjid tidak boleh menjadi simbol kesalehan yang terpisah dari realitas umat. Masjid harus terhubung dengan kesejahteraan masyarakat, keberpihakan kepada yang lemah, dan distribusi keadilan melalui zakat, infak, dan sedekah.

Keempat, “wa lam yakhsha illallāh” tidak takut selain kepada Allah. Inilah puncak integritas. Orang yang memakmurkan masjid adalah mereka yang memiliki keberanian moral: tidak tunduk pada tekanan manusia, tidak silau oleh kekuasaan, dan tidak tergoda oleh kepentingan duniawi ketika bertentangan dengan nilai kebenaran. Masjid dalam hal ini menjadi pusat pembentukan karakter tauhid yang melahirkan keteguhan sikap.

Kemudian penutup ayat, “fa ‘asā ulāika an yakūnū minal muhtadīn”, sering diterjemahkan “mereka itulah yang diharapkan termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.” Kata ‘asā di sini bukan sekadar harapan biasa, tetapi mengandung makna janji yang kuat dari Allah, sekaligus isyarat bahwa hidayah adalah karunia yang harus terus dijaga. Artinya, meskipun seseorang telah memenuhi kriteria tersebut, ia tetap harus istiqamah, karena hidayah bukan sesuatu yang statis.

Dari keseluruhan ayat ini, dapat dipahami bahwa “memakmurkan masjid” memiliki dimensi yang luas:

  • Spiritual: iman yang kokoh dan hubungan yang hidup dengan Allah
  • Ritual: ibadah yang berkualitas dan konsisten
  • Sosial: kepedulian terhadap sesama melalui zakat dan amal
  • Moral: keberanian untuk hanya takut kepada Allah

Maka, manusia yang dirindukan masjid bukanlah mereka yang hanya datang lalu pergi tanpa jejak, tetapi mereka yang menjadikan masjid sebagai pusat kehidupan: tempat iman dipupuk, ibadah ditegakkan, kepedulian sosial digerakkan, dan keberanian moral dibentuk. Dari masjidlah lahir pribadi-pribadi yang tidak hanya saleh secara individu, tetapi juga menghadirkan kebaikan bagi masyarakat luas.

Pengunjung dan Pemakmur

Masjid tidak merindukan keramaian semu. Maajid merindukan jiwa-jiwa yang menghidupkan: mereka yang salat berjamaah, membaca Al-Qur’an, menuntut ilmu, hingga memakmurkan kegiatan sosial.

Di sinilah letak perbedaan antara “pengunjung” dan “pemakmur”. Pengunjung datang ketika perlu. Pemakmur datang karena merasa memiliki.

Rasulullah Saw bersabda:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: « مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ أَوْ رَاحَ، أَعَدَّ اللهُ لَهُ فِي الْجَنَّةِ نُزُلًا كُلَّمَا غَدَا أَوْ رَاحَ » مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu dia berkata, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang pergi ke masjid di pagi maupun petang hari, maka Allah menyediakan baginya hidangan di surga setiap kali dia pergi di pagi atau petang hari.” (Muttafaqun ‘alaihi, HR. Al-Bukhari, no. 662. & Muslim, no. 669).

SMPM 5 Pucang SBY

Hadis ini menghadirkan gambaran yang sangat indah tentang bagaimana Islam memuliakan langkah kaki menuju masjid. Rasulullah Saw bersabda bahwa siapa saja yang “ghadā” (pergi di pagi hari) atau “rāḥa” (pergi di sore/petang hari) ke masjid, maka Allah menyiapkan baginya “nuzulan” di surga setiap kali ia melangkah.

Kata “ghadā” dan “rāḥa” tidak hanya menunjukkan waktu, tetapi juga kontinuitas. Artinya, siapa yang menjadikan masjid sebagai bagian dari rutinitas hariannya (pagi dan petang) akan mendapatkan balasan yang terus-menerus pula. Ini menegaskan bahwa Islam sangat menghargai istiqamah dalam amal, meskipun terlihat sederhana seperti berjalan ke masjid.

Kemudian kata “nuzul” sangat menarik untuk direnungkan. Dalam bahasa Arab, nuzul berarti jamuan atau hidangan yang disiapkan untuk tamu yang datang. Ini bukan sekadar pahala biasa, tetapi bentuk pemuliaan Allah sebagai Tuan Rumah kepada hamba-Nya. Seakan-akan, setiap langkah menuju masjid adalah kunjungan kepada Allah, dan sebagai balasannya, Allah menyiapkan jamuan istimewa di surga.

Dari sini dapat dipahami bahwa:

  • Pergi ke masjid adalah bentuk “ziarah” kepada Allah secara spiritual
  • Setiap langkah dicatat dan dihargai, bukan hanya ibadah di dalam masjidnya saja
  • Balasan diberikan berulang, sesuai dengan frekuensi langkah yang dilakukan

Hadis ini juga mengandung pesan bahwa perjalanan ke masjid bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi perjalanan hati. Orang yang melangkah ke masjid sesungguhnya sedang menjawab panggilan Allah. Ia meninggalkan kesibukan dunia, menahan dirinya dari kenyamanan pribadi, dan memilih hadir di rumah Allah. Maka wajar jika balasannya bukan sekadar pahala, tetapi kehormatan sebagai “tamu” di surga.

Lebih jauh lagi, hadis ini memperlihatkan hubungan yang sangat personal antara seorang hamba dengan Tuhannya. Setiap kali ia melangkah ke masjid, Allah “menyambutnya” dengan persiapan ganjaran di akhirat. Ini menunjukkan bahwa tidak ada langkah kecil dalam ibadah, bahkan perjalanan yang mungkin terasa biasa di dunia, ternyata bernilai luar biasa di sisi Allah.

Jika dikaitkan dengan konsep sebelumnya tentang “hati yang bergantung pada masjid”, maka hadis ini menjadi penguatnya. Orang yang hatinya terikat dengan masjid akan ringan melangkah ke sana, dan setiap langkah itu tidak pernah sia-sia. Ia mungkin tidak melihat balasannya sekarang, tetapi Allah telah menyiapkan sesuatu yang jauh lebih besar dan abadi.

Maka, masjid bukan hanya tempat singgah untuk salat, tetapi jalan menuju kemuliaan di akhirat. Setiap langkah ke arahnya adalah investasi spiritual yang pasti dibalas. Dan semakin sering seseorang melangkah, semakin banyak pula “jamuan” yang Allah siapkan untuknya di surga.

Contoh Nyata: Dari Remaja hingga Orang Tua

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia yang dirindukan masjid dapat kita lihat dalam berbagai sosok:

Pertama, remaja yang memilih masjid sebagai ruang tumbuh. Di tengah godaan zaman digital, ia tetap hadir di saf depan, mengikuti kajian, bahkan menginisiasi kegiatan kreatif berbasis dakwah.

Kedua, para guru dan aktivis yang menjadikan masjid sebagai pusat pendidikan. Mereka tidak hanya mengajar di kelas, tetapi juga menghidupkan halaqah, TPA, dan kajian rutin.

Ketiga, para dermawan yang diam-diam menginfakkan hartanya untuk kemakmuran masjid. Tanpa sorotan, mereka memastikan listrik menyala, air mengalir, dan kegiatan berjalan.

Keempat, para lansia yang setia menjaga ritme ibadah. Kehadiran mereka bukan hanya ibadah personal, tetapi juga menjadi teladan spiritual bagi generasi muda.

Masjid Muhammadiyah: Potensi Besar, Tantangan Nyata

Dalam konteks Muhammadiyah, masjid memiliki peran strategis sebagai pusat dakwah dan pemberdayaan umat. Saat Rapat Kerja (Raker) Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid (LPCRPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, 27-28 Mei 2023 di Pesantren Mahasiswa KH. Mas Mansur Ketua PP Muhammadiyah, Dahlan Rais menyampaikan bahwa jumlah masjid milik Muhammadiyah sebanyak 12 ribu dari jumlah 800 ribu masjid yang ada di Indonesia, ini menjadi bagian dari jaringan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).

Selain itu, Muhammadiyah juga mengelola lebih dari 28.647 lembaga pendidikan, menjadikannya salah satu jaringan pendidikan swasta terbesar di dunia. Data per 2024 menunjukkan sebaran utama meliputi: PAUD/TK ‘Aisyiyah, 2.453 SD/MI, 1.599 SMP/MTs, 1.294 SMA/MA/SMK, serta 164 Perguruan Tinggi (PTMA), Pondok Pesantren: Lebih dari 67 lembaga. Ini menunjukkan bahwa masjid bukan berdiri sendiri, tetapi menjadi simpul gerakan yang luas.

Namun, tantangannya adalah bagaimana memastikan masjid tidak hanya ramai saat salat Jumat atau Ramadan, tetapi hidup sepanjang waktu. Di sinilah pentingnya menghadirkan manusia-manusia yang dirindukan masjid.

Dari Jamaah Menjadi Penggerak

Masjid yang hidup lahir dari manusia yang hidup jiwanya. Jamaah yang hidup adalah mereka yang tidak pasif menunggu program, tetapi justru melahirkan gagasan, menghidupkan suasana, dan menghadirkan energi kebaikan di dalamnya.

Sering kali kita menjumpai keluhan tentang masjid yang sepi, kegiatan yang kurang menarik, atau generasi muda yang menjauh. Namun sejatinya, perubahan tidak lahir dari keluhan, melainkan dari keterlibatan.

Jamaah yang berjiwa penggerak tidak sibuk menyalahkan keadaan, tetapi mengambil peran sekecil apa pun: mengajak teman untuk shalat berjamaah, menginisiasi kajian sederhana, membersihkan lingkungan masjid, atau sekadar menyapa dengan hangat sesama jamaah. Dari hal-hal kecil itulah ruh kehidupan masjid mulai tumbuh.

Masjid pada masa Rasulullah bukan hanya tempat ibadah ritual, tetapi pusat pendidikan, sosial, bahkan strategi umat. Ini menunjukkan bahwa masjid akan selalu hidup jika jamaahnya memiliki kesadaran kolektif untuk memakmurkannya.

Ketika seseorang datang ke masjid dengan iman, ia menguatkan hubungannya dengan Allah. Ketika ia tinggal dengan amal, ia memberi manfaat bagi sesama. Dan ketika ia pulang dengan perubahan, ia membawa cahaya masjid ke dalam kehidupan sehari-hari.

Di titik inilah, masjid tidak lagi sekadar bangunan, tetapi menjadi ruang transformasi. Masjid melahirkan pribadi-pribadi yang lebih jujur, lebih peduli, dan lebih bertanggung jawab. Jamaah yang seperti ini tidak hanya menghidupkan masjid, tetapi juga menghidupkan lingkungan sekitarnya.

Akhirnya, pertanyaan itu kembali kepada kita masing-masing: apakah kita hanya hadir sebagai pelengkap saf, datang lalu pulang tanpa jejak? 

Ataukah kita memilih menjadi bagian dari jiwa-jiwa yang dirindukan masjid, yang kehadirannya membawa makna, yang langkahnya menggerakkan, dan yang hidupnya menjadi bukti bahwa masjid benar-benar hidup?

Semoga bermanfaat.

Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb. (*)

Revisi Oleh:
  • Nadjib Hamid - 29/04/2026 21:15
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡