Kemajuan teknologi digital telah mengubah hampir seluruh cara hidup manusia. Dunia bergerak semakin cepat, terbuka, dan nyaris tanpa batas. Media sosial menghadirkan ruang baru bagi manusia untuk berinteraksi, berbagi pengalaman, dan membangun jejaring sosial.
Namun, di balik kemudahan tersebut, lahir budaya baru yang perlahan menggeser orientasi hidup manusia modern.
Budaya pamer, budaya pencitraan, dan budaya kompetisi sosial tumbuh begitu kuat di tengah masyarakat digital.
Manusia tidak lagi sekadar ingin hidup baik, tetapi juga ingin terlihat lebih sempurna dari orang lain.
Hari ini, media sosial penuh dengan berbagai pertunjukan kehidupan.
Foto liburan mewah, kendaraan mahal, rumah megah, pencapaian karier, hingga aktivitas ibadah mereka pamerkan secara terbuka.
Ukuran keberhasilan perlahan mengalami pergeseran. Mengukur nilai manusia sering kali tidak lagi dari kedalaman moral dan manfaat sosialnya, melainkan dari seberapa besar pengakuan yang ia peroleh di ruang digital.
Dalam konteks inilah pesan Al-Qur’an surat At-Takātsur menemukan relevansinya secara sangat kuat. Allah SWT berfirman:
“Alhākumut takātsur. Hattā zurtumul maqābir.”
“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.”
(QS. At-Takātsur: 1–2)
Surat pendek ini sesungguhnya mengandung kritik sosial dan spiritual yang sangat mendalam.
Kata at-takātsur berarti berlomba-lomba memperbanyak sesuatu demi kebanggaan dan gengsi sosial.
Pada masa Arab klasik, manusia bermegah melalui jumlah harta, ternak, keturunan, dan kekuatan suku.
Akan tetapi, di era digital sekarang, bentuk takātsur justru semakin luas dan semakin kompleks.
Pengakuan Menjadi Tujuan Hidup?
Manusia modern tidak hanya berlomba mengumpulkan kekayaan, tetapi juga berlomba mengumpulkan pengakuan.
Kehormatan sosial sering kali penentunya adalah angka-angka digital: jumlah pengikut, jumlah “likes”, tingkat viralitas, hingga seberapa sering seseorang menjadi pusat perhatian publik.
Fenomena ini melahirkan budaya flexing, yakni kecenderungan mempertontonkan kemewahan demi memperoleh validasi sosial.
Tidak sedikit orang rela membeli sesuatu di luar kemampuan ekonominya hanya agar terlihat sukses.
Bahkan, ada yang terjebak hutang demi mempertahankan citra digitalnya.
Pada titik ini, media sosial berubah menjadi arena kompetisi semu yang melelahkan.
Banyak orang tampak bahagia di layar, tetapi sebenarnya menyimpan tekanan psikologis yang berat. Mereka terlihat kaya, padahal hidup dalam beban hutang.
Mereka tampak harmonis, padahal rapuh secara emosional.
Dunia digital akhirnya menjelma menjadi panggung besar tempat manusia berlomba membangun citra, bukan membangun makna hidup.
Pesan surat At-Takātsur menjadi sangat penting karena ia mengingatkan manusia tentang bahaya kelalaian spiritual. Manusia menjadi terlalu sibuk mengumpulkan, tetapi lupa mensyukuri.
Terlalu sibuk membandingkan diri, tetapi lupa menenangkan hati. Terlalu sibuk mengejar pengakuan manusia, tetapi lupa memperbaiki hubungannya dengan Tuhan.
Budaya takātsur modern juga melahirkan persoalan sosial yang serius.
Konsumerisme meningkat tajam. Banyak orang membeli sesuatu bukan karena kebutuhan, melainkan karena dorongan gengsi dan tekanan sosial.
Tidak lagi memahami nilai suatu barang sebagai alat pemenuhan kebutuhan hidup, tetapi sebagai simbol status sosial.
Akibatnya, kesenjangan psikologis dalam masyarakat semakin melebar.
Ketika sebagian orang sibuk mempertontonkan kemewahan, sebagian lainnya merasa rendah diri karena tidak mampu mengikuti standar kehidupan berdasar konstruksi media sosial.
Dari sinilah lahir kecemasan sosial, iri hati, bahkan depresi, terutama di kalangan generasi muda.
Padahal, realitas digital sering kali hanyalah fragmen kehidupan yang telah mengalami pemolesan sedemikian rupa.
Apa yang tampak di layar belum tentu mencerminkan kenyataan yang sesungguhnya.
Lebih jauh lagi, takātsur modern tidak hanya terjadi dalam urusan materi.
Dalam dunia pendidikan, manusia kadang berlomba mengumpulkan gelar tanpa memperdalam integritas moral.
Gelar akademik diposisikan sebagai simbol prestise, bukan sarana pengabdian ilmu.
Dalam dunia politik, kekuasaan diperebutkan tanpa mempertimbangkan etika publik. Bahkan dalam dunia dakwah, popularitas kadang lebih utama daripada ketulusan pengabdian.
Karena itu, surat At-Takātsur sesungguhnya bukan sekadar kritik terhadap orang kaya, melainkan kritik terhadap mentalitas manusia yang menjadikan dunia sebagai arena kebanggaan tanpa batas.
Islam tidak pernah melarang manusia menjadi kaya, sukses, atau terkenal.
Kekayaan dapat menjadi sarana kebaikan. Jabatan dapat menjadi jalan pengabdian. Popularitas pun dapat menjadi media dakwah dan inspirasi.
Akan tetapi, semuanya berubah menjadi persoalan ketika melahirkan kesombongan, melalaikan manusia dari Tuhan, dan mematikan kepedulian sosial.
Di tengah dunia yang semakin individualistik, manusia modern perlu membangun kembali kesadaran spiritual dan kemanusiaan.
Kebahagiaan sejati tidak selalu lahir dari kemewahan. Ketenteraman hati tidak selalu berasal dari banyaknya kepemilikan.
Ada orang sederhana yang hidup damai karena penuh rasa syukur.
Sebaliknya, ada orang bergelimang harta tetapi jiwanya gelisah karena tidak pernah merasa cukup.
Pada akhirnya, surat At-Takātsur menutup kritiknya dengan pengingat paling mendasar: kematian.
Semua perlombaan dunia akan berhenti pada titik yang sama, yakni liang kubur.
Jabatan akan ditinggalkan. Kekayaan akan diwariskan, popularitas akan dilupakan.
Yang tersisa hanyalah amal, integritas, dan manfaat yang pernah mereka berikan kepada sesama.
Karena itu, manusia modern perlu bertanya kepada dirinya sendiri: apakah hidup hanya akan habis untuk terlihat hebat di mata manusia, atau sungguh-sungguh menjadi manusia yang bernilai di hadapan Tuhan dan sesama?
Mungkin disitulah letak pesan terdalam surat At-Takātsur: manusia boleh memiliki dunia, tetapi jangan sampai diperbudak oleh dunia.***





0 Tanggapan
Empty Comments