Ada tantangan yang tidak kalah besarnya bagi jama’ah haji setelah mendapatkan predikat haji mabrur, yaitu bagaimana merawat kemabruran haji tersebut agar tetap bersemayam dalam diri kita dalam waktu lama bahkan selamanya.
Surga yang dijanjikan oleh Allah swt bagi haji yang mabrur sudah selayaknya kita raih dan pertahankan. Al-ḥajjul mabrūru laisa lahu jazā’un illā al-jannah (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam mempertahankan haji mabrur, tidak sedikit jama’ah haji yang menjaga jarak dengan kehidupan sosial. Memilih untuk berdiam diri di rumah selama beberapa pekan bahkan bulan pasca kepulangannya dari tanah suci. Mereka mengisolasi diri dan mengurangi aktifitas sosial. Tidak mau bepergian bahkan menolak undangan yang sekiranya membawa mereka kembali ke keramaian.
Hal tersebut dilakukan oleh sebagian jamaah haji karena mereka sepenuhnya menyadari, betapa godaan dunia sangat besar. Ketika mereka kembali berinteraksi dalam kehidupan sosial, berbagai ujian muncul: mulai dari godaan lisan dalam bentuk ghibah, fitnah, debat kusir, hingga urusan bisnis yang rentan dengan kecurangan.
Semua itu dikhawatirkan dapat mengurangi kesucian hati dan kemurnian niat yang telah mereka bangun selama berhaji. Maka, untuk menjaga kemabruran, mereka memilih membatasi diri dalam pergaulan. Namun apakah demikian caranya merawat kemabruran haji?
Jika itu dilakukan, justru yang timbul adalah anti-sosial, padahal khoirunnasi anfa’uhum linnasi (sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lain). Justru jam’ah haji harus menjadi motor perubahan masyarakat ke arah yang lebih baik, bukan malah mengisolasi diri.
Maka hal yang tepat menurut hemat penulis adalah dengan muraqabah (merasa diawasi oleh Allah swt). Karena sejatinya, inti dari perbuatan dosa dan maksiat yang kita lakukan adalah hilangnya muraqabah dalam diri kita. Jika kita meyakini bahwa segala apa yang kita lakukan tidak lepas dari pengawasan Allah swt yang maha melihat dan mendengar, maka kita akan berpikir seribu kali untuk melakukan dosa dan maksiat.
Muraqabah merupakan kesadaran penuh bahwa Allah swt mengawasi dan mengamati setiap detik langkah dan perbuatan kita, karena Allah swt maha mengetahui bahkan terhadap apa yang kita bisikkan dalam hati, demikian itu sebab Allah sangat dekat dengan diri kita. “Dan sungguh, kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya dan kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” (QS. Qaf: 16)
Dan muraqabah ini akan dapat terwujud jika kita dapat memunculkan khauf (rasa takut kepada Allah) dan wara’ (kehati-hatian tinggi untuk menjauhi maksiat dan syubhat) dalam diri kita masing-masing.
Khauf atau takut kepada Allah swt memiliki makna takut pada siksanya. Wal Khauf Minallah an Yakhofu an Yu’aqibahullahu Fiddunya aw Fil Akhiroh (takut Allah adalah takut siksanya baik di dunia maupun di akhirat). Rasa khauf yang terpancar dalam hati, sejatinya adalah lentera yang menjadi penerang kita untuk melihat mana yang baik dan yang buruk secara jernih. Wal Khauf Sirajul Qolbi Bihi Yubshirul Khoir Wal Bashar (takut Allah merupakan lentera hati yang dengannya bisa melihat yang baik dan yang buruk).
Menjadi sangat berbahaya ketika khauf ini hilang dari diri kita, karena akan menjadi awal kehancuran diri. Ma Faraqal Khouf Qolban Illa Khorob (di saat takut kepada Allah ini pergi dari hati, maka pasti hati ini menjadi rusak). Dan ketika hati sudah rusak, maka dapat dibayangkan betapa kacau balaunya seluruh anggota tubuh manusia dalam berucap dan bersikap. Jika hati ini baik, maka baiklah seluruh tubuh kita dan jika hati ini buruk, maka buruklah seluruh tubuh kita.
Sebagaimana sabda Rasulullah: “Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Ketika khauf sudah bersemayam dalam hati, maka dampak nyatanya adalah sikap wara’. Wara’ sejatinya adalah representasi dari khauf. Khauf adanya dalam hati, sedangkan wara’ adanya dalam perilaku dan perbuatan. Seseorang tidak akan mampu wara’ jika di dalam hatinya tidak ada rasa khauf.
Wara’ tidak cukup menjadi sikap kita, tapi harus menjelma menjadi karakter dalam pribadi kita. Terdapat sebuah atsar yang berbunyi: Faḍlul-‘ilmi aḥabbu ilallāhi min faḍlil-‘ibādah, wa khayru dīnikumul-wara‘. (Keutamaan ilmu lebih dicintai Allah daripada keutamaan banyak ibadah. Dan sebaik-baik agama kalian adalah sifat wara’) (Abu al-Qasim Sulaiman bin Ahmad ath-Thabarani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir).
Rasulullah juga pernah bersabda: Yā Abā Hurairah, kun wari‘an takun a‘badan-nās (Wahai Abu Hurairah, jadilah orang yang wara’, niscaya engkau menjadi manusia yang paling ahli ibadah) (HR. Ibnu Majah No. 4217).
Maka sikap wara’ itu sejatinya bagian dari penjagaan agama dan kehormatan, sebagaimana sabda Rasulullah: “Barangsiapa menjaga diri dari syubhat maka ia telah menjaga agama dan kehormatannya.” (HR. Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim).
Sehingga, jika kita ingin mengetahui baik atau tidaknya keislaman seseorang, maka lihatlah seberapa besar dia meninggalkan hal-hal yan tidak bermanfaat baginya, dan itu menjadi ciri bagi karakter wara’. Rasulullah bersabda: Min ḥusni islāmil-mar’i tarkuhu mā lā ya‘nīh (Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya) (HR. Tirmidzi, Al-Jami dan Ibnu Majah)
Merawat kemabruran haji bukanlah perkara mudah, bahkan mungkin lebih terjal dari pelaksanaan ArMuzNa. Oleh sebab itu, jangan sampai uang yang sudah kita keluarkan, waktu yang sudah kita korbankan, dan tenaga yang sudah kita habiskan, hilang begitu saja karena kita tidak mampu merawat dengan baik kemabruran haji kita selama di tanah air.
Setelah setahun berselang, patut kita bertanya pada diri kita masing-masing. Masihkah kemabruran haji masih melekat pada diri kita saat ini? (*)





0 Tanggapan
Empty Comments