Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Politik Kecil di Sekolah dan Pudarnya Nilai Keteladanan

Iklan Landscape Smamda
Politik Kecil di Sekolah dan Pudarnya Nilai Keteladanan
Ilustrasi oleh: Irabolotinaira (Pinterst)
Oleh : Munawir Sazali Tenaga Pendidik

Sekolah seharusnya menjadi tempat yang nyaman untuk membangun ilmu, akhlak, dan masa depan peserta didik. Di dalamnya, para pendidik semestinya berjalan bersama dengan tujuan yang sama, yaitu mencerdaskan anak bangsa dan membentuk generasi yang lebih baik. Namun, dalam kenyataan sehari-hari, tidak semua lingkungan sekolah berjalan sesuai harapan. Ada dinamika kecil yang kadang tidak tampak dari luar, tetapi terasa kuat oleh orang-orang yang berada di dalamnya. Dinamika itu sering saya sebut sebagai politik kecil di sekolah.

Politik kecil di sekolah bukanlah politik dalam arti partai atau perebutan kekuasaan besar. Politik kecil adalah sikap, cara, dan kebiasaan sebagian orang yang lebih sibuk mencari posisi aman, mencari perhatian pimpinan, atau menjaga citra pribadi daripada membangun kerja sama yang sehat. Dalam suasana seperti ini, hubungan antarwarga sekolah dapat menjadi kurang nyaman.

Ada yang terlihat baik di depan, tetapi diam-diam menjatuhkan rekan sendiri. Ada yang mencari kesalahan orang lain agar dirinya tampak paling benar. Ada pula yang memilih mendekat kepada pimpinan bukan semata-mata untuk membantu sekolah, melainkan agar dianggap paling loyal dan paling layak diberi jabatan.

Keadaan seperti ini tentu memprihatinkan. Jabatan seperti wakil kepala sekolah, staf, koordinator, atau tugas tambahan lainnya seharusnya dipandang sebagai amanah, bukan sesuatu yang harus diperebutkan dengan cara saling melemahkan.

Sebuah jabatan di sekolah bukan hanya tentang nama yang tertulis dalam struktur organisasi, melainkan tentang tanggung jawab moral, kemampuan bekerja, kedewasaan bersikap, dan kesediaan melayani kepentingan lembaga. Jika jabatan dikejar hanya untuk terlihat hebat, nilai pengabdian dapat berubah menjadi ambisi pribadi.

Hal yang sering terjadi dalam politik kecil adalah munculnya budaya saling curiga. Orang yang bekerja dengan tulus dapat disalahpahami. Orang yang diam dapat dianggap tidak peduli. Orang yang berani menyampaikan pendapat dapat dianggap melawan. Sementara itu, orang yang pandai menyesuaikan diri dengan keadaan kadang lebih mudah mendapat tempat, meskipun belum tentu paling banyak bekerja.

Di sinilah letak persoalannya. Sekolah dapat kehilangan suasana kekeluargaan karena setiap orang mulai berhati-hati, bukan karena ingin menjaga etika, melainkan karena takut salah langkah.

Lebih memprihatinkan lagi apabila ada orang yang sengaja membangun citra baik dengan cara menunjukkan kelemahan orang lain. Ia mungkin terlihat rajin memberi laporan, tetapi isi laporannya lebih banyak menyudutkan rekan kerja. Ia mungkin terlihat paling peduli terhadap sekolah, tetapi kepeduliannya sering dibungkus kepentingan pribadi. Sikap seperti ini perlahan dapat merusak kepercayaan. Padahal, sekolah tidak akan kuat jika dibangun di atas rasa curiga dan saling menjatuhkan.

Saya percaya bahwa setiap kepala sekolah tentu ingin lembaganya maju. Namun, dalam situasi seperti ini, pimpinan juga perlu memiliki kepekaan dalam membaca keadaan. Tidak semua orang yang terlihat dekat adalah yang paling tulus. Tidak semua orang yang banyak berbicara adalah yang paling bekerja. Tidak semua orang yang selalu setuju adalah yang paling jujur.

Kadang, orang yang paling ikhlas justru bekerja dalam diam, tidak suka menonjolkan diri, dan tidak pandai mencari perhatian. Mereka mungkin tidak sering tampil di depan, tetapi kontribusinya nyata dalam mendampingi peserta didik dan menjaga nama baik sekolah.

Di sisi lain, para guru dan tenaga kependidikan juga perlu melakukan introspeksi. Jika ingin dipercaya, tunjukkan melalui kinerja, tanggung jawab, dan kemampuan bekerja sama. Kepercayaan tidak perlu dikejar dengan menjatuhkan orang lain.

SMPM 5 Pucang SBY

Jabatan tidak perlu diperoleh dengan menciptakan jarak antarrekan. Kedekatan dengan pimpinan tidak boleh dijadikan alat untuk merasa lebih tinggi daripada yang lain. Dalam lingkungan pendidikan, cara seseorang meraih amanah sama pentingnya dengan bagaimana ia menjalankan amanah tersebut.

Sekolah adalah tempat belajar bagi siswa, tetapi juga tempat orang dewasa memberi teladan. Siswa mungkin tidak selalu mendengar semua percakapan guru, tetapi mereka dapat merasakan suasana di sekitarnya. Jika para pendidik saling mendukung, siswa akan belajar tentang kebersamaan. Jika para pendidik saling menghargai, siswa akan belajar tentang akhlak. Namun, jika yang terlihat adalah saling menyindir, saling menjatuhkan, dan saling mencari aman, nilai pendidikan yang diajarkan di kelas dapat kehilangan kekuatannya.

Politik kecil di sekolah harus disadari sebagai persoalan yang tidak boleh dibiarkan. Hal tersebut mungkin tampak sederhana, tetapi dampaknya besar. Semangat kerja dapat menurun, hubungan menjadi renggang, dan fokus utama pendidikan menjadi terganggu. Waktu yang seharusnya digunakan untuk memikirkan pembelajaran justru habis untuk membaca situasi, menjaga posisi, dan menghindari konflik. Jika hal ini terus terjadi, sekolah akan sulit berkembang secara sehat.

Melalui opini pribadi ini, saya tidak bermaksud menyalahkan siapa pun. Tulisan ini lebih tepat dipahami sebagai bahan renungan bersama. Setiap sekolah tentu memiliki tantangan dan dinamika masing-masing. Namun, apa pun tantangannya, nilai kejujuran, ketulusan, dan kebersamaan harus tetap dijaga. Jabatan hanyalah titipan.

Hari ini seseorang dapat dipercaya menjadi wakil kepala sekolah, staf, atau bagian penting dalam struktur sekolah. Akan tetapi, yang jauh lebih penting adalah bagaimana ia menjaga amanah itu dengan rendah hati, adil, dan tidak merendahkan orang lain.

Pada akhirnya, sekolah yang baik bukan hanya sekolah yang memiliki prestasi, bangunan yang indah, atau administrasi yang lengkap. Sekolah yang baik adalah sekolah yang di dalamnya tumbuh rasa saling menghargai. Sekolah yang kuat adalah sekolah yang warganya tidak sibuk saling menjatuhkan, tetapi saling menguatkan. Sekolah yang bermartabat adalah sekolah yang menempatkan jabatan sebagai amanah, bukan sebagai alat untuk mencari pengaruh.

Semoga setiap warga sekolah dapat kembali mengingat tujuan utama pendidikan. Kita berada di sekolah bukan untuk saling mengalahkan, melainkan untuk saling membantu. Bukan untuk mencari muka, melainkan untuk bekerja dengan hati.

Bukan untuk terlihat paling baik di mata pimpinan, melainkan untuk benar-benar menjadi baik dalam sikap dan tanggung jawab. Sebab, kehormatan seorang pendidik tidak lahir dari jabatan yang dimiliki, tetapi dari ketulusan, kerja nyata, dan akhlak yang ia tunjukkan setiap hari. (*)

Revisi Oleh:
  • Tanwirul Huda - 28/05/2026 18:49
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu