Setiap Iduladha datang, gema takbir menggema dari masjid ke masjid. Asap sate mulai memenuhi udara, hewan kurban berjejer di pelataran, dan masyarakat sibuk membagikan daging kepada sesama. Namun di balik suasana meriah itu, ada satu pertanyaan besar yang jarang diajukan: mengapa Islam memilih kisah paling menyayat hati dalam sejarah manusia sebagai inti perayaan Iduladha?
Bukan kisah kemenangan perang. Bukan pula cerita tentang penaklukan kerajaan atau kejayaan peradaban. Iduladha justru dibangun di atas kisah seorang ayah yang diminta mengorbankan anak yang paling dicintainya.
Dari sanalah Iduladha sesungguhnya mengajarkan bahwa kurban bukan hanya tentang menyembelih hewan, tetapi tentang menyembelih ego, keserakahan, dan kecintaan berlebihan terhadap dunia.
Kisah Iduladha bermula di sebuah lembah tandus yang tidak memiliki sumber kehidupan. Di tempat itulah Nabi Ibrahim AS meninggalkan Siti Hajar dan Nabi Ismail AS yang masih bayi atas perintah Allah SWT.
Secara manusiawi, keputusan tersebut hampir mustahil diterima akal. Namun Nabi Ibrahim AS menjalankannya dengan penuh kepasrahan meski hatinya tetap dipenuhi kegelisahan.
Al-Qur’an merekam doa beliau dalam QS Ibrahim ayat 37:
“Rabbanā innī askantu min dzurriyyatī biwādin ghairi dzi zar‘…”
“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanaman.”
Ayat tersebut menunjukkan bahwa iman tidak berarti seseorang terbebas dari kesedihan. Nabi Ibrahim AS tetap merasa berat, tetapi tidak memberontak kepada ketetapan Allah SWT.
Di sinilah pelajaran besar Iduladha: ketakwaan diuji justru ketika hidup terasa tidak masuk akal dan manusia tidak memperoleh jawaban atas kegelisahannya.
Di balik kisah Nabi Ibrahim AS, ada sosok luar biasa yang sering terlupakan dalam narasi besar Iduladha, yakni Siti Hajar.
Ketika kehabisan air, ia berlari tujuh kali antara Shafa dan Marwah demi mencari kehidupan bagi putranya. Ia tidak hanya menunggu mukjizat turun dari langit, tetapi bergerak dan berikhtiar.
Dari perjuangan itulah lahir air Zamzam yang hingga kini menjadi sumber kehidupan bagi jutaan manusia.
Sejarah besar Islam ternyata berdiri di atas keteguhan seorang ibu. Karena itu, Iduladha juga menjadi pengingat tentang besarnya peran perempuan dalam membangun peradaban.
Lembah tandus itu kemudian berubah menjadi pusat kehidupan. Air Zamzam menarik manusia berdatangan, perdagangan tumbuh, dan Makkah berkembang menjadi kota penting.
Nabi Ibrahim AS juga berdoa agar penduduk di tempat itu diberikan rezeki dan kesejahteraan:
“Warzuqhum minats-tsamarāt…”
“Berilah mereka rezeki berupa buah-buahan.”
Hal tersebut menunjukkan bahwa Islam tidak memisahkan spiritualitas dan kesejahteraan sosial. Ibadah tidak berhenti pada ritual, tetapi harus melahirkan keadilan dan kemakmuran.
Ironisnya, kehidupan modern sering memperlihatkan hal sebaliknya. Takbir menggema, tetapi ketimpangan sosial tetap terjadi. Masjid ramai, tetapi kecurangan dan korupsi terus berjalan.
Padahal ketakwaan seharusnya menghadirkan kepedulian sosial.
Puncak ujian Nabi Ibrahim AS terjadi ketika Allah SWT memerintahkannya menyembelih Nabi Ismail AS, anak yang paling dicintainya.
Di sinilah letak makna terdalam Iduladha: manusia selalu diuji melalui sesuatu yang paling melekat di hatinya.
Hari ini, “Ismail-Ismail modern” hadir dalam banyak bentuk:
- jabatan,
- kekuasaan,
- popularitas,
- uang,
- ambisi,
- hingga ego pribadi.
Banyak orang rela kehilangan moral demi mempertahankan semua itu. Korupsi, fitnah, hingga pengkhianatan sering lahir dari kecintaan berlebihan terhadap dunia.
Padahal pengorbanan sejati adalah keberanian melepaskan sesuatu yang paling dicintai demi nilai yang lebih tinggi.
Ketika Nabi Ibrahim AS bersiap melaksanakan perintah Allah SWT, Nabi Ismail AS justru menguatkan ayahnya dengan penuh ketundukan.
Namun sebelum penyembelihan terjadi, Allah SWT mengganti Nabi Ismail AS dengan hewan sembelihan.
Peristiwa itu menegaskan bahwa Allah SWT tidak menghendaki darah manusia, melainkan ketakwaannya.
Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS Al-Hajj ayat 37:
لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.”
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa esensi kurban bukan sekadar menyembelih hewan.
Sebab sering kali manusia hanya sibuk pada ritualnya, tetapi lupa menyembelih kesombongan, egoisme, dan keserakahan dalam dirinya sendiri.
Pada akhirnya, Iduladha bukan hanya perayaan tahunan, melainkan momentum refleksi tentang kualitas kemanusiaan.
Ketakwaan Nabi Ibrahim AS melahirkan keberanian. Kesabaran Siti Hajar melahirkan peradaban. Kepatuhan Nabi Ismail AS melahirkan sejarah besar umat manusia.
Karena itu, pertanyaan paling penting dari Iduladha bukanlah berapa banyak hewan yang dikurbankan, melainkan apa yang sudah berhasil dikurbankan dalam diri manusia sendiri.
Sebab mungkin, yang paling sulit disembelih bukan kambing atau sapi, melainkan ego, keserakahan, dan kecintaan berlebihan terhadap dunia.





0 Tanggapan
Empty Comments