Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Pakar UMSura Soroti Viral MBG Mas Bahlil Ganteng di Media Sosial

Iklan Landscape Smamda
Pakar UMSura Soroti Viral MBG Mas Bahlil Ganteng di Media Sosial
Pakar UMSura Soroti Viral MBG Mas Bahlil Ganteng di Media Sosial
pwmu.co -

Lagu “MBG Mas Bahlil Ganteng” tengah ramai diperbincangkan di media sosial dan digunakan dalam berbagai konten video warganet. Jingle yang dikenal dengan sebutan “My Little Bolu Ketan” itu viral di berbagai platform digital dan menyebut nama Ketua Umum Golkar, Bahlil Lahadalia.

Fenomena tersebut mendapat sorotan dari Pakar Kajian Budaya dan Media Universitas Muhammadiyah Surabaya, Radius Setiyawan.

Menurut Radius, fenomena “Mas Bahlil Ganteng” atau MBG menarik dibaca sebagai bagian dari dinamika politik digital kontemporer di Indonesia.

Ia menilai sosok Bahlil Lahadalia memang telah lama menjadi perhatian publik digital, mulai dari gaya komunikasi politik, pendekatan kepada masyarakat, hingga berbagai kontroversi yang kerap memicu diskusi di media sosial.

“Karena itu, kemunculan MBG tidak lahir di ruang kosong, melainkan bertemu dengan memori kolektif netizen terhadap figur yang memang sudah lama menjadi objek perhatian digital,” ujar Radius, Rabu (27/5/2026).

Radius menjelaskan, pada awal kemunculannya lagu MBG berkembang sebagai bentuk satire politik di media sosial.

Humor, meme, dan parodi digunakan masyarakat digital untuk menertawakan figur kekuasaan sekaligus membongkar kesan sakral yang melekat pada elite politik.

Namun, menurutnya, dalam perkembangan ekosistem digital saat ini, satire tersebut dapat mengalami pergeseran fungsi menjadi alat glorifikasi citra personal melalui mekanisme algoritma media sosial.

“Apa yang semula lahir sebagai ejekan atau ironi dapat berubah menjadi alat reproduksi popularitas karena terus diputar, dibagikan, dan diulang di berbagai platform. Di titik inilah algoritma digital memainkan peran penting,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa algoritma media sosial pada dasarnya tidak memahami konteks kritik, satire, atau ironi.

Algoritma bekerja berdasarkan logika atensi, yakni mendorong konten yang mampu mempertahankan perhatian pengguna melalui tontonan berulang, komentar, dan interaksi tinggi.

SMPM 5 Pucang SBY

“Akibatnya, kritik politik berpotensi kehilangan orientasi reflektifnya lalu berubah menjadi komoditas hiburan semata. Dalam ekosistem digital, bahkan parodi dapat menjadi kapital visibilitas,” imbuhnya.

Radius menilai fenomena viral seperti MBG menghadirkan dua sisi sekaligus dalam politik digital modern.

Di satu sisi, meme dan parodi tetap dapat menjadi ruang subversif untuk mengkritik kekuasaan dan menertawakan elitisme politik.

“Humor digital dalam konteks ini berfungsi sebagai bahasa kritik publik terhadap penguasa,” katanya.

Namun di sisi lain, viralitas yang terus berulang justru bisa dimanfaatkan sebagai sarana membangun citra personal di ruang digital.

“Figur yang terus muncul di linimasa, bahkan dalam bentuk satire, tetap memperoleh keuntungan berupa eksposur dan kedekatan emosional dengan publik,” lanjutnya.

Karena itu, menurut Radius, fenomena “MBG Mas Bahlil Ganteng” tidak cukup dipahami hanya sebagai hiburan internet atau lagu viral semata.

Fenomena tersebut menunjukkan bagaimana politik digital saat ini bergerak dalam logika algoritma, atensi publik, dan percepatan viralitas media sosial.

“Ini adalah ruang ketika batas antara kritik, hiburan, dan pencitraan menjadi semakin tipis,” pungkasnya.

Revisi Oleh:
  • Satria - 28/05/2026 20:02
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu