Suasana khidmat dan penuh semangat menyelimuti pelaksanaan Shalat Iduladha 1447 H di Halaman MI Muhammadiyah 05 Ampel, Sambiringik. Di tengah kumandang takbir yang menggetarkan hati, ribuan jamaah bersimpuh khusyuk menyambut hari raya kurban yang mulia.
Dalam khutbah Iduladha yang disampaikan oleh Ustadz Abdurachman Habibullah, S.Pd., beliau mengangkat tema tentang “Keteladanan Nabi Ibrahim: Iman, Pengorbanan, dan Kepedulian Sosial.” Materi khutbah ini merupakan naskah resmi yang diterbitkan oleh Majelis Tabligh PDM Bantul, Muhammadiyah.
Dalam uraiannya, Ustadz Abdurachman menegaskan bahwa Iduladha bukan sekadar perayaan semata, melainkan sebuah momen agung yang mengingatkan umat Islam pada puncak ketundukan dan pengorbanan seorang hamba kepada Allah SWT, sebagaimana dicontohkan Nabi Ibrahim AS.
Pada pilar pertama, khatib menekankan pentingnya membangun iman yang kokoh di tengah arus globalisasi, materialisme, dan individualisme yang kian menggerogoti nilai-nilai luhur. Kisah Nabi Ibrahim yang sejak kecil menolak menyembah berhala hingga rela dilemparkan ke dalam api yang menyala-nyala menjadi bukti nyata keimanan yang tak tergoyahkan.
“Kita membutuhkan iman yang membebaskan kita dari penyembahan terhadap materi, jabatan, atau popularitas semu,” tegas Ustadz Abdurachman di hadapan para jamaah.
Pada pilar kedua, beliau mengingatkan bahwa hakikat kurban jauh melampaui sekadar ritual menyembelih hewan. Merujuk pada QS. Al-Hajj ayat 37, beliau menjelaskan bahwa yang sampai kepada Allah bukanlah daging maupun darah, melainkan ketakwaan dan keikhlasan hati. Pengorbanan sejati, lanjutnya, mencakup kesediaan mengorbankan waktu, harta, tenaga, dan pikiran demi meraih ridha Allah SWT.
Dalam konteks Muhammadiyah, semangat pengorbanan ini terwujud nyata melalui perjuangan amar ma’ruf nahi munkar serta pengabdian melalui amal usaha di bidang pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan umat.
Saat menutup khutbahnya, Ustadz Abdurachman mengajak seluruh jamaah untuk menjadikan Iduladha sebagai momentum memperkuat kepedulian sosial. Syariat kurban, menurutnya, adalah simbol nyata ajaran Islam tentang berbagi dan meratakan nikmat kepada sesama, khususnya kaum fakir miskin.
Beliau juga menyoroti peran Muhammadiyah yang sejak kelahirannya telah menjadikan kepedulian sosial sebagai pilar dakwah, terbukti dari ribuan amal usaha yang tersebar di seluruh pelosok negeri.
“Dengan iman, pengorbanan, dan kepedulian sosial, insya Allah akan terwujud negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur — negeri yang aman, adil, makmur, dan diridhai Allah,” pungkas beliau mengakhiri khutbah yang disambut dengan doa bersama oleh seluruh jamaah.





0 Tanggapan
Empty Comments