Sebanyak 45 hewan kurban, sapi 4 ekor dan kambing 41 ekor disembelih pada hari raya Iduladha 1447 Hijriyah di Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Ishlah Sendangagung Paciran Lamongan Jawa Timur.
Pemotongan hewan kurban di Ponpes yang dilaksanakan di Lapangan Pondok atau Maidanul Ma’had dipimpin oleh langsung Ketua Yayasan Al-Ishlah, H. Ahmad Thohir S.
Proses penyembelihan dilaksanakan dalam dua hari 2 ekor sapi dan 41 ekor kambing pada Rabu (27/5/2026) dan 2 sapi disembelih Kamis (28/5/2026).
Ketua panitia pelaksana penanganan hewan kurban di Ponpes Al-Ishlah, Ustadz Yazid Husnan mengungkapkan bahwa 4 ekor sapi diperoleh dari patungan 3 sapi dan 1 sapi dari Anggota DPRD Jatim Fraksi PAN, Drs. H. Husnul Aqib, M.M., adapun kambing dari wali santri, kolega Al-Ishlah dan guru di Ponpes Al-Ishlah.
“Jumlah 45 hewan kurban telah mencukupi kebutuhan pangan santri Al-Ishlah dan bahkan di hari pertama mereka bisa mengadakan acara nyate atau bikin sate bersama, untuk selebihnya bisa untuk guru, simpatisan dan tetangga pondok,” ungkap ayah 2 anak ini.
“Awalnya panitia sempat khawatir dengan perolehan jumlah hewan kurban, karena jika jumlah hewan kurban minimal kasihan santri tidak bisa maksimal menikmati daging di hari kurban, sementara tak mungkin meliburkan santri untuk pulang, tetapi nampaknya banyak wali santri faham dan secara tidak terduga terkumpul sebanyak itu,” pungkasnya.
Salah satu mudahi atau orang berkurban, Muhammad Ichsan, santri asal Kendari Sulawesi Tenggara merasa bersyukur bisa menitipkan kambing besar untuk hewan kurban.
Dia mengaku senang karena dia berkesempatan mendapat pelatihan ala Juru Sembelih Halal (Juleha), dia bisa menguasai teknik pembenihan dari kegiatan pelatihan tersebut.
“Karena saya berkurban di sini maka saya diberi kesempatan untuk menyembelih hewan kurban saya, dan itu membuat saya merasa tersanjung dan bangga telah diberi kesempatan,” ujar santri Kelas XI-C ini.
“Dan satu lagi, kegiatan bareng teman-teman merupakan pengalaman yang mengesankan bagi santri, bisa bikin perapian sendiri, manggang sendiri, dan bikin sambal sendiri, semua dibikin mandiri perkelompok,” kesan santri suka duduk di bangku tengah ini. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments