Kota Bima kembali menjadi perhatian dalam perbincangan akademik mengenai radikalisme agama. Momen tersebut berlangsung dalam Ujian Promosi Doktor Sosiologi di Aula GKB 4 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).
Pada Kamis (28/05/2026), Arief Hidayatullah mempresentasikan disertasi berjudul Ekspresi Keagamaan Radikal Jamaah Anshorud Daulah (JAD) dan Jamaah Ansharus Syariah (JAS) di Kota Bima.
Promovendus asal Bima itu menyoroti bagaimana kelompok JAD dan JAS membentuk pola pemahaman diri, interaksi sosial, tindakan sosial, hingga penggunaan simbol keagamaan secara radikal di Kota Bima.
Lahir dari Keprihatinan Putra Bima
Kajian tersebut tidak hanya memandang radikalisme sebagai persoalan keamanan. Namun juga fenomena sosial-keagamaan yang kompleks dan berakar pada dinamika lokal.
Sebagai putra Bima, Arief mengaku penelitian tersebut lahir dari keprihatinannya terhadap stigma yang selama ini melekat pada daerah kelahirannya.
Menurutnya, Bima kerap dikaitkan dengan aktivitas terorisme atas nama agama sehingga memunculkan pertanyaan mengenai akar berkembangnya radikalisme di wilayah tersebut.
Kaprodi Ilmu Komunikasi Universitas Mbojo Bima itu menjelaskan, radikalisme di Bima merupakan bagian dari jaringan nasional yang berkembang sejak dekade 1990-an.
Ia bahkan menyebut sejumlah kelompok seperti Jamaah Islamiyah (JI), Jamaah Ansharut Tauhid (JAT), JAS hingga JAD yang terafiliasi ISIS pernah memiliki keterhubungan dengan wilayah tersebut.
“Radikalisme di Bima tidak berdiri sendiri, tetapi terkait dengan perkembangan jaringan ekstremisme lintas wilayah” ungkapnya dalam sidang promosi doktor.
Agar Tak Jadi Stigma Negatif
Dalam disertasinya, Arief juga mengulas keterhubungan jaringan JAD Bima dengan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Santoso di Poso. Relasi itu, menurutnya, dibangun melalui ikatan keluarga, mobilitas sosial, hingga jejaring pernikahan antardaerah.
Untuk mengkaji fenomena tersebut, promovendus UMM itu menggunakan Teori Interaksionisme Simbolik dari George Herbert Mead. Teori tersebut menitikberatkan pada konsep mind, self, dan society dalam membentuk identitas serta perilaku sosial individu maupun kelompok.
“Ada perbedaan karakter antara JAD dan JAS. JAD memiliki pola kesadaran yang lebih kaku dan tertutup dengan struktur interaksi sentralistik. Sebaliknya, JAS cenderung lebih fleksibel, partisipatif, dan terbuka dalam penggunaan simbol keagamaan“ kata alumni Ilmu Komunikasi UMM tersebut.
Lanjut Arief, hasil kajian soal radikalisme itu harapannya mampu memberikan kontribusi penting dalam pengembangan ilmu sosial. Khususnya terkait pemahaman radikalisme agama dari perspektif interaksi sosial dan simbolik.
Penelitian itu sekaligus menjadi pengingat bahwa memahami radikalisme harus dilakukan secara kontekstual dan ilmiah agar tidak berhenti pada stigma semata.





0 Tanggapan
Empty Comments