Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Mengapa Tidak Ada Batas Maksimal Usia Presiden? Tinjauan dari Fungsi Kognitif

Iklan Landscape Smamda
Mengapa Tidak Ada Batas Maksimal Usia Presiden? Tinjauan dari Fungsi Kognitif
Ahmad Fauzul Adhim, Sarjana Psikologi Universitas Aisyiyah Yogyakarta, Kader Muhammadiyah Paciran Lamongan Jawa Timur
Oleh : Ahmad Fauzul Adhim, S.Psi. Alumni Psikologi Universitas Aisyiyah Yogyakarta, Kader Muhammadiyah Paciran Lamongan Jawa Timur

Sejumlah negara dengan pengaruh besar dalam geopolitik global saat ini dipimpin oleh kepala negara lanjut usia. Jika merujuk pada definisi lanjut usia menurut WHO, seseorang dapat dikatakan lanjut usia ketika menginjak usia 60 tahun ke atas, sebagai bukti saat ini banyak negara-negara besar, yang memiliki pengaruh pada stabilitas global, dipimpin oleh presiden yang berusia di atas 60 tahun.

Amerika Serikat dipimpin oleh Donald Trump yang di tahun 2026 ini berusia 79 tahun. China, negara dengan tingkat ekonomi terbesar nomor 2 setelah Amerika, dipimpin oleh Xi Jinping yang saat ini genap berusia 72 tahun. Presiden Rusia, Vladimir Putin saat ini berusia 74 tahun. Dan tidak lupa, presiden negara kita, Prabowo Subianto juga termasuk dalam daftar pemimpin berusia lanjut, yang saat ini genap berusia 74 tahun.

Dan hampir seluruh negara menyepakati untuk tidak menetapkan batas usia maksimal sebagai syarat menjadi presiden, hanya sebagian kecil dari negara-negara berkembang saja yang menetapkan batas maksimal usia presiden.

Lalu apa masalahnya? Bukankah semakin berumur presiden semakin bijaksana pula kepemimpinannya?

Fluid Intelligence dan Crystallized Intelligence

Sebelum kita mendapat jawaban dari pertanyaan di atas, ada baiknya kita pahami dulu 2 jenis kemampuan kecerdasan otak manusia, yaitu Fluid Intelligence dan crystallized intelligence. Dalam kajian ilmu psikologi dua istilah ini terdengar umum dalam pembahasan seputar kecerdasan manusia.

Fluid intelligence adalah kemampuan otak kita dalam memproses sesuatu yang bersifat mendadak, spontan, dan tiba-tiba tanpa melibatkan pengalaman di masa lalu sehingga kemampuan ini berhubungan dengan kemampuan berpikir logis, kecepatan, dan ketepatan dalam pengambilan keputusan.

Sedangkan crystallized intelligence, mudahnya dapat dipahami sebagai tumpukan-tumpukan atau koleksi dari memori, pengalaman hidup, pemaknaan hidup yang telah dijalani oleh manusia, sehingga tipe kemampuan ini berhubungan dengan kosa kata, kebijaksanaan, dan pemaknaan hidup.

Kedua kemampuan kecerdasan ini ternyata memiliki masa primanya masing-masing. Menurut jurnal berjudul The Impact of Age on Cognition (2015) yang ditulis oleh Daniel L Murmen, menyatakan bahwa kemampuan fluid intelligence mencapai puncak kemampuannya pada usia 20 tahun, sedangkan crytalize intelligence cenderung stabil dan tidak menurun bahkan sampai usia 60 sampai 70 tahun. Itu artinya kemampuan fluid memiliki masa aktif sampai usia tertentu, sedangkan crystallized intelligence tetap bertahan dan bahkan terus meningkat seiring bertambahnya usia.

Penurunan Kognitif pada Lansia

Sekilas jika kita baca penjelasan mengenai fluid dan crystallized intelligence sebelumnya, kita semakin yakin bahwa pemimpin memang lebih baik berusia lanjut, karena semakin tua kemampuan kecerdasan yang berhubungan dengan kebijaksanaan dan pemaknaan hidup (crystalize) akan semakin baik.

Tapi sayangnya, untuk menjadi pemimpin, kemampuan yang dibutuhkan tidak cukup kebijaksanaan dan kedalaman memaknai hidup, tapi juga kemampuan mengambil keputusan, menimbang, dan memecahkan masalah juga penting untuk dikuasai.

SMPM 5 Pucang SBY

Sementara itu, menurut jurnal yang sama, yang ditulis oleh Daniel (2015) menemukan bahwa, semakin tua otak manusia akan mengalami penyusutan sekitar 5% per dekade sekali setelah menginjak usia 40 tahun. Beberapa area otak yang paling terdampak akibat penyusutan ini adalah bagian otak yang erat hubungannya dengan fungsi kognitif, seperti prefrontal korteks, dan hipokampus.

Tanpa fungsi kognitif, manusia akan kehilangan kemampuan untuk mengingat, menilai, membuat keputusan, menyelesaikan masalah, dan mengevaluasi kinerja. Dan sayangnya hal ini kerap terjadi pada manusia dengan usia lanjut.

Meski penurunan kognitif memang tidak terjadi secara seragam pada setiap individu. Namun, risiko biologis yang meningkat seiring usia patut menjadi pertimbangan dalam merumuskan standar kepemimpinan publik.

Bukankah Seharusnya Usia Pemimpin Memiliki Batas Maksimal?

Melalui penjelasan di atas, kita jadi tahu bahwa manusia memiliki batas kemampuan kognitif. Seiring bertambahnya usia, maka semakin melemah pula kemampuan berpikir kompleks dan pemecahan masalah baru.

Pengalaman memang membentuk kebijaksanaan, tetapi kepemimpinan tidak hanya membutuhkan kebijaksanaan. Ia juga menuntut ketajaman berpikir dalam membaca situasi baru, mengolah kompleksitas persoalan, dan mengambil keputusan strategis yang berdampak luas bagi masyarakat.

Maka, bukankah wajar jika batas usia maksimal pemimpin mulai didiskusikan? Jika usia minimal ditetapkan untuk mencegah keputusan impulsif akibat ketidakmatangan, mengapa risiko penurunan fungsi kognitif pada usia lanjut tidak dipertimbangkan dengan keseriusan yang sama? (*)

Revisi Oleh:
  • Tanwirul Huda - 29/04/2026 20:21
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡