Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Mengenang Mahbub Ihsan: Sang Pelopor Pendidikan yang Menanam Cahaya di Atas Lantai Tanah Desa Labuhan

Iklan Landscape Smamda
Mengenang Mahbub Ihsan: Sang Pelopor Pendidikan yang Menanam Cahaya di Atas Lantai Tanah Desa Labuhan
Mahbub Isan. (Istimewa/PWMU.CO)

Di tengah modernitas pendidikan saat ini, nama Mahbub Ihsan mungkin tidak terpatri di monumen megah. Namun, bagi masyarakat Desa Labuhan, ia adalah “pahlawan sunyi” yang membawa pelita ilmu saat kegelapan buta aksara masih menyelimuti.

Lahir di Sedayulawas pada 1931, Mahbub muda bukanlah sosok yang mengejar kemewahan. Setelah berkelana menyerap ilmu di pesantren-pesantren besar seperti Al-Amin Tunggul, Tebuireng Jombang dan Krapyak Yogyakarta, ia memilih jalan terjal: mengabdi di pelosok desa.

Mengajar dengan Hati, Beralaskan Tanah

Era 1958 hingga 1962 menjadi saksi bisu perjuangan Mahbub Ihsan bersama istrinya, Suwari. Di sebuah rumah joglo sederhana yang beralaskan tanah, suara riuh rendah anak-anak mengeja doa dan huruf Hijaiyah terdengar setiap hari.

Tanpa buku tulis modern, para siswa menggunakan sabak (papan tulis kecil). Menariknya, Mahbub tak pernah mematok tarif. Ia mengajar tanpa SPP, tanpa gaji tetap.

“Beliau hidup dari ketulusan. Makan sahari-hari seringkali berasal dari kebaikan hati warga Desa yang merasa berutang budi atas ilmu yang diberikan kepada anak-anak mereka,” ujar Moh. Na’im tokoh Desa Labuhan.

Diplomasi di Musholla Den Dehab

Perjuangan Mahbub tidak selalu mulus. Ia sempat menghadapi gesekan dengan Sekolah Rakyat (SR) mengenai eksistensi Madrasah Islamiyah. Namun, alih-alih membalas dengan permusuhan, Mahbub memilih jalan damai.

SMPM 5 Pucang SBY

Melalui musyawarah yang bersejarah di Musholla Den Dehab, ia berhasil meyakinkan semua pihak bahwa pendidikan adalah tentang Fastabiqul Khairat berlomba-lomba dalam kebaikan. Ia merangkul perbedaan demi masa depan generasi muda Labuhan.

Sepeda Ontel dan Warisan yang Tak Padam

Salah satu potret yang paling menyentuh hati adalah kegigihannya menempuh jarak jauh. Tak jarang ia harus meminjam sepeda ontel milik warga atau berjalan kaki berkilo-kilometer dari Sidomukti ke Labuhan hanya untuk memastikan kelas tidak kosong.

Meski beliau telah wafat pada 26 Februari 2003, warisan yang ditinggalkannya di Labuhan dan Tuban tetap hidup. Beliau tidak meninggalkan harta benda yang melimpah, melainkan ribuan murid yang kini telah menjadi orang-orang bermanfaat.

Mahbub Ihsan telah berpulang ke haribaan-Nya dan dimakamkan di tanah kelahirannya, Sedayulawas. Namun, bagi siapa pun yang pernah mendengar kisahnya, beliau adalah pengingat bahwa pendidikan sejatinya adalah pengabdian, dan guru adalah mereka yang rela menjadi jembatan bagi orang lain untuk mencapai impian.

Selamat jalan, Sang Murobbi. Cahaya yang kau tanam akan terus bersinar di hati masyarakat Desa Labuhan. (*)

Revisi Oleh:
  • Satria - 28/04/2026 04:44
  • Nadjib Hamid - 27/04/2026 11:08
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu