Hidupnya pernah runtuh dalam sekejap. Namun dari reruntuhan itu, ia memilih bangkit, bukan hanya untuk dirinya, tetapi untuk banyak jiwa yang membutuhkan pelukan dan harapan.
Tanggal 3 September 2002 menjadi garis takdir yang mengubah segalanya. Suaminya tercinta, almarhum Dwi Muhardianto, S.H., berpulang secara mendadak akibat penyumbatan dan pecah pembuluh darah di otak. Tak ada perpisahan panjang, tak ada tanda sebelumnya. Ia pergi, meninggalkan seorang istri dan tiga anak yang masih begitu kecil.
Sosok ibu itu adalah Peti Endang Martini, S.T. Saat itu, Andy Chaafit Amrullah baru berusia 4 tahun, Bachtiar Izza Mustahil 2 tahun, dan si bungsu, Citra Aaqilatul Faidzah, masih bayi berusia satu bulan.
Sejak hari itu, dunia seakan runtuh. Namun, di tengah luka yang dalam, Peti, panggilan akrab Peti Endang Martini tidak memiliki pilihan selain bangkit. Ia menahan air mata, lalu melangkah pelan, menjalani peran sebagai ibu sekaligus ayah bagi ketiga anaknya.
Pengabdian
Langkahnya kemudian tertambat di Panti Asuhan Muhammadiyah Gersikan Surabaya. Tempat yang awalnya menjadi tempat bekerja, perlahan menjelma menjadi rumah kedua, bahkan keluarga baru.
“Panti ini seperti rumah kedua bagi saya. Anak-anak asuh, karyawan, dan pengurus adalah keluarga saya,” ucapnya lirih.
Di sana, ia tidak sekadar bekerja. Ia mengasuh, mendampingi, dan menguatkan. Ia hadir di saat anak-anak asuhnya menghadapi masalah, menjadi tempat mereka bersandar, seperti dirinya yang dulu juga membutuhkan kekuatan.
Perjuangannya tidak berhenti di panti. Di rumah, ia tetap memikul amanah besar. Selain membesarkan tiga anak kandungnya, ia juga mengasuh dua keponakan: Ilham Ageng Hakiki sejak kelas 3 SD, serta kakaknya, Alif Bagus Rakhimullah, yang kini telah menjadi dokter dan tengah menempuh pendidikan spesialis penyakit dalam di UNPAD Bandung, dalam waktu dekat akan diwisuda.
Hari-hari panjang ia jalani tanpa banyak keluh. Ia tidak mencari pengakuan. Ia hanya ingin memastikan anak-anaknya tumbuh kuat dan memiliki masa depan.
Dan waktu pun menjawab, kini Andy Chaafith Amrullah bekerja di Pelindo Surabaya. Bachtiar Izza Murtadho berkarier di H.M. Sampoerna. Sementara Citra ‘Aaqilatul Faidzah menjadi tutor kimia di LBB Ganesha Operation.
Anak-anak yang dulu ia peluk dalam keterbatasan, kini berdiri tegak menjemput impian mereka. Namun setiap perjalanan memiliki titik jeda.
Sabtu, 25 April 2026, menjadi hari yang tak mudah bagi Peti. Dengan langkah berat, ia berpamitan untuk mengakhiri pengabdiannya di panti tempat yang telah menjadi bagian dari hidupnya selama bertahun-tahun.
“Sekarang saya ingin lebih fokus kepada anak-anak saya. Mungkin selama ini masih ada perhatian yang belum maksimal, meskipun mereka sudah bekerja,” tuturnya dengan suara bergetar.
Sebagai ungkapan syukur sekaligus perpisahan, ia mengundang puluhan anak asuh, pengurus, dan karyawan panti untuk makan bersama di sebuah rumah makan Padang di kawasan Jalan Darmo Surabaya.
Tak ada seremoni mewah. Hanya tawa yang tertahan, dan mata yang berkaca-kaca. Anak-anak asuh yang selama ini ia peluk, kini bergantian memeluknya enggan melepas sosok yang telah menjadi ibu bagi mereka.
Di meja-meja sederhana itu, bukan hanya hidangan yang tersaji, tetapi kenangan, cinta, dan jejak pengabdian yang tak ternilai.
Ia mungkin berpamitan dari panti. Namun, ia tidak pernah benar-benar pergi. Karena yang ia tinggalkan bukan sekadar kenangan, melainkan cinta yang hidup di banyak hati.
Dan malam itu, di antara senyum yang dipaksakan dan air mata yang tak terbendung, satu hal menjadi begitu nyata: Peti Endang Martini bukan hanya ibu bagi tiga anaknya. Ia adalah ibu bagi banyak jiwa. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments