Buku Tasawuf Modern karya Hamka membahas tentang apa itu bahagia. Di antaranya, ada soal ini: Apakah hakikat kekayaan? Juga, apakah hakikat kemiskinan? Setelah melewati waktu berpikir yang lama untuk mendapatkan jawaban dari makna kekayaan yang sebenarnya, orang-orang bijak lalu mendapatkannya. Bahwa, orang kaya ialah orang yang sedikit keperluannya.
Bagaimana cara agar kapanpun merasa kaya? Cukupkanlah apa yang ada dan jangan bernafsu hendak menyamai kepunyaan orang lain. Hadapkan saja muka di dalam ketaatan kepada Allah. Tenteramkan jiwa dalam menghadapi kehidupan.
Sebaliknya, kita akan merasa miskin jika mengingat segala yang belum ada. Terasa miskin jika merasa rumah kita belum sebagus rumah si Anu. Padahal sebenarnya bagi banyak orang, rumah kita itu sudah elok.
Sebenarnya dengan harta yang sudah ada di tangan, lalu kita ingin merasa kaya, hal itu dalam waktu segera bisa tercapai. Caranya, bagaimana? Buatlah takaran hidup atau standar hidup sederhana, kata Hamka.
Kekayaan hakiki ialah mencukupkan apa yang ada. Sudi menerima berapa pun nikmat dari Allah. Kita tidak kecewa jika nikmat berkurang. Sebab dari Allah hal itu berasal dan kepada Allah pula akan kembali.
Jika kekayaan melimpah kepada kita, lanjut Hamka, gunanya ialah untuk menyokong ibadah dan amaliyah kita. Harta tidak boleh kita cintai jika harta berhenti hanya sebagai harta saja. Namun, harta boleh kita cintai jika alasannya sebagai berikut: Harta kita cintai sebab dia pemberian Allah dan dipergunakan untuk semua hal yang bermanfaat bagi diri dan orang lain.
Banyak pendapat bahwa orang yang masyhur, telah mendapatkan kedudukan mulia. Mereka yang masyhur, antara lain, pihak-pihak yang punya prestasi sangat mengagumkan (bisa di aspek sains, sastra, olahraga, dan lain-lain).
Orang bisa menjadi ternama karena dia ahli ilmu tertentu. Juga, jika dia pengarang yang hebat. Pun, contoh-contoh lain yang serupa. Hal yang menarik, kata Hamka, mereka yang masyhur itu, banyak juga yang berasal dari kalangan orang fakir.
Muhammad Saw dalam waktu singkat mengubah dunia. Padahal, saat dua bulan berada dalam kandungan ibunya, dia sudah ditinggal ayahnya karena wafat. Ketika berumur 6 tahun, ibunya meninggal. Saat berusia 8 tahun, kakek yang mengasuhnya meninggal. Adapun warisan dari ayahnya hanya 5 ekor unta saja (Hamka, 2020: 229-233).
Berikut ini, sebuah fragmen yang mengesankan. Pada suatu hari Rasulullah Saw didatangi Malaikat Jibril lalu disampaikan kepadanya pertanyaan. Manakah dia yang suka, menjadi nabi kaya sebagaimana Sulaiman atau menjadi nabi miskin seperti Ayub?
Rasulullah Saw menjawab, bahwa dia lebih suka makan sehari dan lapar sehari. Mengapa demikian, tanya Malaikat Jibril. Rasulullah Saw menjawab, di waktu kenyang dirinya bersyukur kepada Allah dan di waktu lapar dirinya meminta ampun kepada-Nya.
Bagi Rasul-Rasul, kekayaan itu nikmat dan kemiskinan itu pun nikmat. Di waktu senang dan susah, kaya dan miskin, sukar dan mudah, ada saja pada semuanya pintu untuk menghadap kepada Allah. Selalu ada jalan untuk menjunjung dan menyembah-Nya. Oleh sebab itu, maka Nabi-Nabi dan wali-wali tidak dapat diikat dan dibeli. Mereka tak bisa disengat dan digigit dunia (2020: 264-265).
Selanjutnya, berikut ini dua pengarang besar yang termasuk berasal dari kalangan yang tidak berpunya. Pertama, Imam Syafi’i, salah satu dari empat Imam Mazhab. Kedua, Imam Al-Ghazali, Ulama Besar yang dikenal sebagai Hujjatul Islam.
Sang Pembela
Imam Syafi’i, lahir pada 150 H, masyhur sebagai salah satu dari empat Imam Mazhab. Dia bergelar Nashir as-Sunnah wa al-Hadits karena kesetiaannya dalam mengikuti Sunnah dan Hadits.
Pemilik lebih dari seratus karya tulis yang meninggal dalam usia relatif muda, 54 tahun, itu memenuhi hampir seluruh hidupnya untuk mencari dan menyebarkan ilmu. Lebih dari itu, Imam Syafi’i juga pemikir dan praktisi pendidikan.
Beliau memulai hidup sebagai anak yatim yang tak berpunya. Hanya saja, seperti kesaksian Imam Nawawi, ibunda Imam Syafi’i adalah wanita yang tekun beribadah dan memiliki kecerdasan tinggi. Ibunda Imam Syafi’i adalah seorang yang faqih dalam urusan agama dan memiliki kemampuan melakukan istinbath.
Karya-karya tulis Imam Syafi’i itu mengkaji beragam tema. Dia antaranya seperti tafsir, fiqih, dan kesusasteraan. Di antara karyanya yang paling terkenal adalah Al-Umm yang terdiri dari 4 jilid dan berisi 128 masalah fiqih.
Imam Syafi’i juga seorang ahli nasab, penyair yang bijak, serta ahli bahasa dan asal-muasalnya. Berikut ini sebagian ungkapan berhikmahnya: “Barang siapa hafal Al-Qur’an akan mulia nasibnya”. “Barang siapa hafal Hadits akan kuat argumentasinya”. “Barang siapa mendalami ilmu fiqih akan tinggi derajatnya”. Juga, “Barang siapa tidak menjaga diri akan tidak bermanfaat ilmunya”.
Sementara, syair-syair Imam Syafi’i antara lain: “Kita menghina zaman, padahal kehinaan pada diri kita// Tidak ada kehinaan pada zaman dan tidak pula pada yang lain// Suci bersih zaman ini/ Kalau zaman bisa berkata kepada kita, ‘Sucikanlah dirimu’.”
Berikut ini syair Imam Syafi’i tentang kaitan belajar, ilmu dan pemuda. “Barang siapa belum merasakan nikmatnya belajar walau sebentar// Terjerumus ke lembah kebodohan selama hidupnya”. “Barang siapa tidak mencari ilmu di waktu mudanya// Hantarkan takbir empat kali karena kematiannya”. “Hidupnya pemuda, wallahi, dengan ilmu dan takwa// Jika tidak, maka tidak akan tergambar kenikmatannya”.
Imam Syafi’i wafat pada tahun 204 H di Mesir. Jika ingin menunjukkan bahwa kita mencintainya karena Allah, maka pilihan jalannya adalah dengan menjadi pembela Sunnah dan Hadits. Pilihan itu, sebagaimana yang telah diteladankan oleh Imam Syafi’i.
Pemberi Argumentasi
Imam Al-Ghazali, lahir pada 450 H, punya ayah seorang fakir yang shalih. Ayahnya tidak makan kecuali dari hasil pekerjaannya sebagai pembuat pakaian kulit. Sang ayah, suka mengunjungi ahli fikih dan bermajelis dengan mereka. Saat di majelis itu, si ayah kerap menangis dan berdoa agar diberikan anak yang faqih dan ahli memberi nasihat.
Karya tulis Imam Al-Ghazali lebih dari dua ratus judul. Dia mendapat predikat Hujjatul Islam. Sebutan itu tak berlebihan mengingat ketinggian ilmunya dan apalagi lalu diwariskan lewat buku-bukunya.
Kini, setelah hampir seribu tahun dia berpulang, boleh jadi tak banyak umat Islam yang tak mengenal Ihya’ Ulumuddin yaitu salah satu kitab terbaiknya. Melalui kitab Ihya’ Ulumuddin, yang bermakna “Menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama”, kita menjadi tahu bahwa Al-Ghazali memang benar-benar meyakini bahwa langkah paling tepat mengangkat derajat umat hanyalah lewat pembenahan keilmuan mereka.
Imam Al-Ghazali kobarkan semangat berilmu. Tak tanggung-tanggung, itu dilakukannya lewat bab pertama dari buku legendaris tersebut. Bukalah buku itu! Maka, kita akan dengan mudah mendapatkan bahasan tentang “Ilmu” di bagian awal. Bab I berjudul “Tentang Keutamaan Ilmu, Mengajar, Belajar dan Dalil-dalil dari Al-Qur’an, Al-Hadits, dan Akal”.
Ayat-ayat yang dijadikan hujjah Al-Ghazali secara sendiri-sendiri sebenarnya telah cukup sering kita baca. Tapi yang membedakan adalah saat dia hubung-hubungkan dengan landasan hujjah yang lain. Misal; ”Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), (demikian pula) para malaikat dan orang berilmu yang menegakkan keadilan. Tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana” (QS Ali-‘Imraan [3]: 18).
Apa catatan Imam Al-Ghazali atas ayat itu? Al-Ghazali bilang, “Lihatlah bagaimana Allah memulai dengan diri-Nya. Lalu, dengan malaikat. Lantas, dengan ahli-ahli ilmu. Dengan ini, cukuplah bagi Anda untuk mengetahui tentang kemuliaan, keutamaan, kejelasan, dan kelebihan orang-orang ahli ilmu”.
Lalu, Al-Ghazali menggandengkan ayat itu dengan ayat ini: “Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” (QS Al-Mujaadilah [58]: 11).
Imam Al-Ghazali wafat pada 505 H. Jika ingin menunjukkan bahwa kita mencintainya karena Allah, maka pilihan jalannya adalah dengan menjadi orang beriman dan berilmu pengetahuan. Pilihan itu, sebagaimana yang telah diteladankan oleh Al-Ghazali.
Siapa Hendak
Anda ingin bahagia dengan menjadi kaya? Itu mudah! Ketahuilah, orang kaya ialah orang yang sedikit keperluannya. Cukupkanlah apa yang ada dan jangan bernafsu hendak menyamai kepunyaan orang lain.
Terakhir, dalam artian positif, Anda ingin masyhur? Jika iya, antara lain, jadilah ahli ilmu tertentu yang berprestasi cemerlang. Termasuk juga, jadilah pengarang yang memiliki karya yang memikat.
Ternyata untuk bisa seperti itu (misalnya, seperti Imam Syafi’i dan Imam Ghazali), tak harus berasal dari keluarga kaya. Seperti Imam Syafi’i dan Imam Ghazali, mereka berasal dari kalangan orang fakir.





0 Tanggapan
Empty Comments