Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surabaya 1947-1953 dan 1974-1978, Wisatmo dikenal dekat dengan kaum muda. Dalam usia 55 tahun, dia dilibatkan oleh Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) dalam pentas teater. Di salah satu penampilan, bahkan sempat pingsan. Tapi penonton bertepuk tangan karena mengiranya sedang berada di puncak pementasan.
Kisah lucu ini diceritakan oleh almarhum Moeslimin BBA, pada 2011 silam. Dalam paparan tokoh Hizbul Wathan ini, Wisatmo merupakan sosok yang punya komitmen Wisatmo kuat untuk membimbing kaum muda. Bahkan sering terjun dalam dunia mereka.
“Saat Milad ke-47 Muhammadiyah di tahun 1959, beliau ikut berperan dalam pementasan drama tentang Fathu Makkah yang disutradarai oleh kalangan AMM (Angkatan Muda Muhammadiyah,” kata Moeslimin.
Tempat yang dijadikan pentas adalah cultuur stadstuin atau Taman Budaya Surabaya, yang sekarang berubah menjadi gedung Bank Indonesia Surabaya. Wisatmo yang kelahiran 1904 masih saja mau ikut bermain ketika diajak oleh AMM.
Di antara salah satu peran terpenting yang harus ada adalah patung yang berdiri tegap di sekitar Ka’bah. “Beliau dipilih menjadi patung karena perawakan tubuh beliau yang tinggi besar,” lanjut Moeslimin tentang alasan pemilihan Wisatmo terpilih sebagai peraga patung besar di sekeliling Ka’bah.
Karena pada zaman itu cat belum sebanyak sekarang, maka digantilah minyak teer (aspal cair) yang dilaburkan ke seluruh tubuh Wisatmo. Setelah semua tubuhnya hitam lebam, Wisatmo beradegan duduk terus sambil ditemani kemenyan di sekelilingnya.
“Bertepatan saat tentara Islam datang ke Makkah, tiba-tiba Wisatmo jatuh tersungkur. Karena tubuhnya tinggi-besar, maka jatuhnya pun menimbulkan suara lumayan keras: gedebug!.”
Sontak penonton pun bertepuk tangan meriah, karena mengira apa yang dilakukan Wisatmo adalah bagian dari skenario. Banyak yang mengira aksinya itu sebagai penanda kemenangan Islam, dan tumbangnya kemusyrikan.
Namun sang sutradara Ja’far Hasan, langsung berinisiatif mencari tahu tumbangnya Wisatmo. Sebab, dalam skenario yang telah dilatih bersama, apa yang dilakukan Wisatmo belum saatnya diperagakan.
“Usut punya usut, ternyata beliau jatuh pingsan. Minyak teer telah membuat pori-porinya tertutup rapat, sehingga dalam waktu berjam-jam akan membuat siapa pun akan pingsan,” lanjut Moeslimin.
Tak heran jika pementasan drama belum selesai, Wisatmo harus mengakhirinya lebih awal untuk pindah ke ruang perawatan.
Wisatmo sendiri merupakan tokoh awal Muhammadiyah, salah satu Walirongpuluh yang dibentuk KH Mas Mansur. Termasuk dipercaya sebagai Ketua PDM Kota Surabaya pada 1947-1953 dan 1974-1978.





0 Tanggapan
Empty Comments