Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Guru yang Penuh Kesantunan; Mengenang Prof. Hamim Ilyas

Iklan Landscape Smamda
Guru yang Penuh Kesantunan; Mengenang Prof. Hamim Ilyas
Prof. Dr. H. Hamim Ilyas, M.Ag. (Istimewa/PWMU.CO)
Oleh : Khilmi Zuhroni Ketua Korps Muballigh Muhammadiyah PDM Kotawaringin Timur

Sebagai mahasiswa yang sering mengikuti kuliah-kuliah beliau, terutama kuliah di luar kampus, di mimbar-mimbar masjid, di forum-forum dialog, diskusi dan seminar, Kepergian Prof. Dr. H. Hamim Ilyas, M.Ag. (Ketua Tarjih Muhammadiyah sekaligus Guru Besar Fakultas Syariah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta), meninggalkan kesedihan dan rasa kehilangan yang mendalam.   Sabtu pagi untaian ucapan “Innalillahi wainna ilaihi Rajiun” dan rasa kehilangan di grup-grup warga Muhamamdiyah terus berbunyi.

Kami kehilangan beliau. Bukan sekadar kehilangan seorang pengajar yang berdiri di depan kelas, melainkan kehilangan seorang ayah rohani yang selalu hadir dengan senyum teduh, kehilangan kompas yang menuntun kami menembus kabut kebingungan intelektual, kehilangan pelita yang menerangi jalan kami dalam memahami Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Masih terngiang dalam ingatan, bagaimana beliau memasuki ruang kuliah dengan langkah yang tidak pernah terburu-buru. Tidak ada arogansi dalam senyumnya, tidak ada kesombongan dalam cara beliau menyapa kami, mahasiswanya yang masih mentah dalam berargumen, yang sering kali terbata-bata dalam memahami kompleksitas hukum Islam. Beliau adalah samudra ilmu yang tersimpan dalam bejana kerendahan hati. Filosofi padi, kian berisi, kian merunduk, begitu sempurna terwujud dalam diri beliau.

Kami ingat, ketika kami bertanya dengan nada sok tahu, beliau tidak pernah memotong dengan pedas. Justru dengan kesabaran yang luar biasa, beliau mendengarkan sampai selesai, lalu dengan senyum yang menenangkan, beliau mulai merangkai jawaban yang tidak hanya memuaskan akal, tetapi juga menyentuh hati. Beliau tidak pernah membuat kami merasa bodoh. Sebaliknya, beliau membuat kami merasa dihargai, didengar, dan dibimbing dengan penuh kasih sayang.

Islam Bukan Agama yang Kaku dan Menakutkan

Di ruang forum-forum diskusi dan mimbar kajian-kajian Hukum Islam yang beliau sampaikan, kami belajar bahwa Islam bukan agama yang kaku dan menakutkan. Islam adalah agama kasih sayang, Tauhid Rahamutiyah, begitu beliau menyebutnya.

Beliau mengajarkan kami bahwa tauhid sejati bukan hanya tentang keyakinan kepada Allah, tetapi juga tentang bagaimana kita menghadirkan rahmat dan kebaikan nyata bagi sesama. Syariat bukan sekadar hukum yang menghukum, melainkan pedoman yang membebaskan dan membahagiakan. Di tangannya, fikih yang terkesan rumit dan kering berubah menjadi bunga-bunga pemikiran yang segar dan relevan dengan kehidupan.

Beliau adalah arsitek teologi kasih sayang yang membuat kami, anak-anak muda dari berbagai latar belakang, merasa bahwa Islam adalah rumah yang hangat, bukan benteng yang dingin.

Beliau mengajarkan kami untuk tidak terjebak dalam perdebatan teologis yang mandul, melainkan fokus pada bagaimana membawa manfaat bagi umat manusia. “Islam harus fungsional,” begitu beliau sering berkata. “Islam harus menjawab masalah nyata, bukan hanya berkutat di atas kertas.”

Sosok yang Sederhana

Sebagai Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, beliau memikul tanggung jawab besar dalam merumuskan fatwa-fatwa yang menjadi pedoman jutaan warga Muhammadiyah. Namun, di balik otoritas yang begitu tinggi itu, beliau tetaplah sosok yang sederhana.

Sebagai pria asal Klaten, beliau tidak pernah lupa pada akar rumputnya. Beliau tidak pernah memakai jubah kebesaran untuk menutupi kemanusiaannya. Justru, beliau membiarkan ilmunya mengalir seperti air yang menyejukkan dahaga siapa pun yang kehausan.

SMPM 5 Pucang SBY

Kami, para mahasiswa beliau, sering kali merasa seperti anak-anak kecil yang duduk di pangkuan kakek bijak setiap kali mendengar beliau berbicara. Suaranya yang tenang, pilihan katanya yang halus, dan caranya memandang kami dengan mata yang penuh pengertian. Semua itu menciptakan ruang aman bagi kami untuk bertanya, untuk salah, dan untuk belajar tanpa rasa takut dihakimi.

Kini, beliau telah pergi. Kami tidak sempat mengucapkan terima kasih yang terakhir. Kami tidak sempat mencium tangannya dan meminta doa restu. Namun, kami tahu, beliau tidak pernah menuntut ucapan terima kasih. Beliau hanya ingin kami menjadi manusia yang bermanfaat, seperti yang selalu beliau ajarkan.

Menjadi Manusia Berbudi Luhur

Muhammadiyah telah kehilangan seorang ulama yang berpengetahuan luas, tenang, dan rendah hati. Lebih dari itu, bagi kami, beliau bukan hanya ulama besar. Beliau adalah guru yang mengajarkan kami untuk tidak hanya pintar, tetapi juga berbudi luhur. Beliau adalah teladan yang menunjukkan bahwa ilmu yang tinggi tidak pernah membuat seseorang menjadi sombong, justru membuat seseorang semakin tunduk di hadapan Yang Maha Tahu.

Hari ini, kami berdiri di tepian kesedihan yang dalam. Kami menangis, bukan karena beliau telah pergi, karena kami tahu beliau telah kembali kepada Sang Pencipta yang beliau cintai dengan segenap jiwa. Kami menangis karena kami merasa yatim. Kami menangis karena dunia ini kehilangan satu dari sedikit manusia yang benar-benar menjadikan ilmunya sebagai cahaya bagi orang lain.

Namun, air mata kami tidak akan sia-sia. Kami berjanji akan merawat warisan pemikiran beliau: Tauhid Rahamutiyah, Islam Berkemajuan, dan semangat untuk menjadikan Islam sebagai solusi nyata bagi permasalahan umat. Kami berjanji akan meniru langkah hidupnya yang penuh kerendahan hati, kesantunan, dan kasih sayang.

Selamat jalan, Prof. Hamim. Terima kasih telah menjadi guru yang tidak hanya mengajar di dalam kelas, tetapi juga di dalam hati kami. Terima kasih telah menunjukkan bahwa menjadi ulama sejati bukan tentang seberapa tinggi gelar yang disandang, melainkan seberapa lembut hati yang dimiliki.

Semoga Allah SWT melapangkan kuburmu, mengampuni segala dosamu, dan menempatkanmu di tempat yang paling mulia di sisi-Nya.

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. (*)

Revisi Oleh:
  • Amanat Solikah - 23/05/2026 12:55
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡