Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Ketangguhan Iman Siti Hajar di Tengah Gurun Kehidupan

Iklan Landscape Smamda
Ketangguhan Iman Siti Hajar di Tengah Gurun Kehidupan
Ketangguhan Iman Siti Hajar di Tengah Gurun Kehidupan
Oleh : Dr. Aji Damanuri, M.E.I Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PDM Tulungagung., Dekan FEBI UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo

الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر، لاَ إلَهَ إِلاَّ الله والله أكبر، الله أكبر ولله الحمد
الْحَمْدُ للهِ الذي صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَ بَعْدَهُ، اللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى هَذَا النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ وَعَلَى الِهِ وَصَحْبِهِ وَأَتْبَاعِهِ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ اْلقِيَامَةِ، أمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ الله، أُوصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَا الله فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. وقالَ الله تعالى: وَوَصَّى بِهَا إِبْرَهِيْمُ بَنِيْهِ وَيَعْقُوْبُ يَا بُنَيَّ إِنَّ الله اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Idul Adha tidak pernah dimaksudkan Allah sekadar pesta penyembelihan hewan yang gemuruh takbirnya menggelegar sesaat lalu sirna. Ia adalah madrasah abadi tentang pengorbanan yang menggoreskan makna pada setiap relung jiwa, tentang kesetiaan yang tak tergoyahkan badai, tentang cinta yang mengalahkan rasa takut, dan tentang keteguhan hati manusia ketika seluruh dunia tampak meninggalkannya di tengah kepatuhan kepada Allah.

Di balik setiap gema takbir yang memenuhi cakrawala, tersimpan air mata para nabi yang tak pernah tertulis dalam lembaran sejarah biasa, mengalir kecemasan seorang ibu yang hanya Tuhan yang menyaksikannya, dan terbentang gurun sunyi yang menjadi saksi bisu kelahiran peradaban tauhid yang menerangi zaman.

Di antara puncak kisah terbesar Idul Adha yang sering hanya tersaji sepintas dalam narasi-narasi ringan, Allah menghadirkan sosok perempuan agung yang namanya mungkin singkat namun jejaknya melintasi ribuan tahun: Siti Hajar. Padahal, jika mata hati terbuka, jutaan manusia yang hari ini berlalu-lalang antara Shafa dan Marwah sesungguhnya sedang menghidupkan kembali denyut langkah seorang perempuan yang sendirian menghadapi takdir.

Langkah seorang ibu yang hatinya bergetar tetapi imannya lebih kokoh dari batu. Langkah seorang mukminah yang memilih berlari mencari sebab daripada pasrah menunggu mujizat tanpa gerak. Rasulullah saw sendiri menegaskan hakikat ini dalam sabdanya:

إِنَّمَا جُعِلَ الطَّوَافُ بِالْبَيْتِ وَبَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ وَرَمْيُ الْجِمَارِ لِإِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ

Sesungguhnya thawaf di Baitullah, sa’i antara Shafa dan Marwah, serta melempar jumrah, semua itu diadakan semata-mata untuk menegakkan dzikir kepada Allah. (HR. Abu Dawud)

Saudaraku kaum muslimin rahimakumullah,

Renungkanlah: Siti Hajar ditinggalkan Nabi Ibrahim di lembah Makkah yang tandus membisu, seolah-olah seluruh alam bersekongkol untuk menghapus harapan. Tidak ada pohon yang berbisik teduh. Tidak ada rumah yang menawarkan perlindungan. Tidak ada mata air yang membasahi dahaga. Tidak ada manusia lain yang menjadi sandaran. Yang ada hanyalah langit yang panasnya membakar kulit dan bumi yang kerasnya menguji tulang.

Bayangkan, saudaraku, seorang ibu yang sedang menyusui harus berdiri sendiri bersama bayi mungil di tengah kesunyian yang begitu sunyi sehingga ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri berdebar cemas. Namun Hajar tidak memberontak kepada takdir dengan tangisan yang sia-sia.

Ia menggenggam erat pertanyaan yang paling jujur dan ia tujukan kepada Ibrahim, kepada siapapun yang sanggup menjawab, tetapi sesungguhnya ia bertanya kepada langit: “Apakah Allah yang memerintahkan ini?” Ketika Ibrahim mengangguk, menjawab dengan isyarat yang tegas namun lembut: “Ya.” Maka dengan ketenangan yang tidak diajarkan oleh sekolah mana pun di dunia, Hajar berkata: “Kalau begitu Allah tidak akan menyia-nyiakan kami.”

Kalimat itu, saudaraku, amatlah sederhana diucapkan oleh bibir, tetapi ia mengguncang langit dan menggetarkan lembaran-lembaran sejarah umat manusia. Karena iman sejati bukanlah sekadar dzikir yang menghiasi bibir di waktu lapang, melainkan ketenangan hati yang bersarang paling dalam ketika hidup sedang berada di titik paling sulit yang pernah dikenal oleh akal.

Hari ini, betapa banyak manusia yang merasa hancur lebur hanya karena kehilangan kenyamanan yang semu. Sedikit kesempitan ekonomi membuatnya putus asa seolah langit akan runtuh. Sedikit kegagalan dalam karier membuatnya kehilangan arah dan makna hidup.

Padahal Hajar, dengan seluruh keterbatasannya sebagai seorang perempuan asing di gurun asing, sedang mengajarkan kepada kita bahwa seorang mukmin sejati tidak diukur dari berapa banyak fasilitas dunia yang ia kumpulkan, tetapi dari seberapa kuat keyakinannya kepada Allah ketika semua fasilitas itu dicabut satu per satu. Allah sendiri telah berfirman dengan firman-Nya yang abadi:

فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ فَارِقُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ وَأَشْهِدُوا ذَوَيْ عَدْلٍ مِنْكُمْ وَأَقِيمُوا الشَّهَادَةَ لِلَّهِ ۚ ذَٰلِكُمْ يُوعَظُ بِهِ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا

Apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik, dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu, serta tegakkanlah kesaksian itu karena Allah. Demikianlah diberikan pengajaran kepada orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya. (QS. At-Thalaq: 2)

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Ketika air yang tersisa habis dan Ismail kecil mulai menangis kepanasan dan kehausan, ketika bibir mungilnya kering dan tubuhnya meronta-ronta lemah, Hajar tidak duduk bersimpuh pasrah menunggu mukjizat turun dari langit bagaikan hujan yang membasahi bumi. Tidak!. Beliau berlari. Dengan kaki yang mungkin sudah lecet dan hati yang cemas luar biasa, ia berlari dari Shafa ke Marwah, dari Marwah ke Shafa.

Tujuh kali penuh. Berlari dengan kecemasan seorang ibu yang tidak rela anaknya menderita seorang diri. Berlari dengan cinta yang tidak bisa dijelaskan dengan logika dunia. Berlari dengan harapan yang tidak mau padam meskipun seluruh gurun berkata bahwa tidak ada air di sini. Dan di situlah, saudaraku, Islam mengajarkan kepada kita suatu pelajaran yang sangat dalam: tawakal tidak pernah berarti diam tanpa usaha, sebagaimana keyakinan tidak pernah berarti mengabaikan ikhtiar.

Betapa banyak orang di zaman ini yang berbicara tentang iman tetapi malas menggerakkan kaki mereka. Berdoa panjang di malam hari tetapi enggan bekerja di siang hari. Meminta pertolongan Allah dengan lantang tetapi tidak mau berikhtiar dengan sungguh-sungguh. Padahal Hajar berdiri sebagai simbol hidup bahwa mukjizat sering kali datang setelah kaki manusia lelah berjuang dan hatinya tetap teguh.

Zamzam yang diberkati itu tidak muncul ketika Hajar diam dan berpangku tangan. Zamzam lahir ke permukaan bumi setelah ikhtiar yang tidak pernah menyerah, setelah langkah-langkah kecil yang diulang dengan kesabaran dan keyakinan.

Saudaraku kaum muslimin rahimakumullah,

Kita saat ini sedang hidup di zaman yang penuh dengan kegelisahan yang membungkam hati. Banyak keluarga terhimpit ekonomi hingga tidur dalam kelaparan. Banyak ibu yang menangis diam-diam di malam hari memikirkan masa depan anak-anaknya yang tak menentu. Banyak ayah yang kehilangan pekerjaan dan merasa harga dirinya runtuh.

Banyak generasi muda yang kehilangan arah hidup di tengah hiruk-pikuk media sosial dan budaya instan yang mengajarkan bahwa kebahagiaan dapat dibeli dengan tombol klik. Di era yang gemerlap ini, manusia sering menjadi miskin bukan hanya secara materi yang dapat dihitung dengan angka, tetapi juga miskin makna yang tidak dapat digantikan oleh kekayaan apa pun.

Rumah-rumah megah dibangun dengan arsitektur modern, tetapi ketenangan runtuh di dalamnya tanpa suara. Teknologi semakin canggih menghubungkan kita dengan dunia, tetapi hati semakin rapuh dan terputus dari langit. Karena itu, saudaraku, kisah Hajar menjadi sangat relevan hari ini, bahkan lebih relevan dari sebelumnya.

Beliau mengajarkan kepada kita bahwa kesempitan bukanlah alasan untuk menyerah kepada keputusasaan. Gurun bukanlah alasan untuk berhenti berharap akan datangnya hujan rahmat. Keterbatasan bukanlah alasan untuk kehilangan kreativitas yang dianugerahkan Tuhan.

Hajar adalah perempuan yang kreatif di tengah kesulitan, ia mencari jalan ketika semua jalan terasa buntu, ia bergerak ketika diam adalah kematian, ia membaca kemungkinan-kemungkinan yang tidak dilihat oleh mata biasa, ia mengubah kepanikan menjadi perjuangan yang terarah, dan dari perjuangan itulah, dengan izin Allah, lahir peradaban yang menyinari dunia hingga saat ini.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Lihatlah kemudian bagaimana Allah dengan kebijaksanaan-Nya yang sempurna mengabadikan perjuangan Hajar menjadi ritual suci haji yang terus berlangsung tanpa henti. Jutaan manusia dari berbagai bangsa yang berbeda warna kulit, bahasa, dan adat istiadat, setiap tahun berlari kecil antara Shafa dan Marwah, mengikuti jejak seorang perempuan yang tidak pernah dikenal oleh istana mana pun.

Ini menunjukkan kepada kita dengan jelas bahwa dalam Islam, kemuliaan tidak pernah ditentukan oleh kekuasaan politik atau jenis kelamin, tetapi semata-mata oleh iman dan pengorbanan yang tulus kepada Allah. Siti Hajar bukanlah ratu dari sebuah kerajaan yang disanjung dengan hormat, tetapi jejak langkahnya yang berlari di atas pasir gurun diabadikan oleh Allah sampai hari kiamat. Mengapa?

Karena Allah memuliakan orang-orang yang tetap setia ketika ujian datang bertubi-tubi, yang tidak menggadaikan imannya demi kenyamanan sesaat. Dan kesetiaan Hajar bukanlah kesetiaan yang lemah dan pasif, ia adalah kesetiaan yang cerdas, dinamis, dan kokoh bagaikan gunung. Ia percaya kepada Allah dengan sepenuh hati, tetapi ia tetap bergerak mencari solusi dengan segenap tenaga.

Maka, saudaraku, perempuan-perempuan muslimah di zaman yang penuh tantangan ini harus belajar dari Hajar: tetap kuat dalam badai yang menerpa, tetap menjaga kehormatan ketika kesulitan menggodanya untuk jatuh, tetap kreatif dalam keterbatasan yang mengurung, tetap mendidik generasi penerus dengan cinta dan iman yang tidak goyah.

Dan laki-laki pun, dengan segala tanggung jawabnya, harus belajar bahwa keluarga besar yang membangun peradaban tidak pernah lahir dari kemewahan yang berlimpah, tetapi dari keteguhan iman yang dipupuk setiap hari di dalam rumah yang mungkin sederhana namun dipenuhi dengan dzikir dan keyakinan.

Saudaraku kaum muslimin rahimakumullah,

SMPM 5 Pucang SBY

Idul Adha juga mengajarkan kepada kita bahwa pengorbanan adalah jalan satu-satunya menuju kemuliaan yang hakiki. Ibrahim mengorbankan kenyamanan hidupnya yang mapan, meninggalkan tanah kelahirannya demi menjawab panggilan Tuhan. Hajar mengorbankan ketakutannya sebagai seorang ibu yang sendirian di padang tandus.

Ismail mengorbankan dirinya, jiwanya, dengan ketaatan yang begitu dalam sehingga Allah menebusnya dengan seekor domba. Maka jangan pernah heran, saudaraku, jika peradaban tauhid lahir dari keluarga yang penuh dengan pengorbanan ini. Karena tidak ada peradaban besar yang lahir dari jiwa-jiwa yang manja dan takut menderita.

Peradaban lahir dari orang-orang yang sanggup menahan luka, menelan kepahitan, dan terus berjalan demi cita-cita besar yang digantungkan di langit. Maka mari kita jadikan Idul Adha tahun ini bukan sekadar rutinitas tahunan yang berlalu tanpa bekas, tetapi momentum untuk membangun kembali keteguhan iman yang mulai luntur, ketahanan keluarga yang mulai retak, kesabaran sosial yang mulai habis, dan kepedulian terhadap sesama yang mulai tergerus zaman.

Jangan biarkan kurban hanya menjadi daging yang dibagikan lalu dilupakan, tetapi biarkan ia menjadi jalan untuk menyembelih kesombongan yang bersarang di dada, egoisme yang memisahkan kita dari saudara, kemalasan yang membunuh potensi, dan cinta dunia yang berlebihan sehingga melupakan akhirat. Allah telah mengingatkan kita dalam firman-Nya yang agung:

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ

Daging-daging hewan kurban dan darahnya sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan dari kalian. Demikianlah Dia menundukkannya untuk kalian, agar kalian mengagungkan Allah atas petunjuk yang diberikan-Nya kepada kalian. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-Hajj: 37)

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Pada hari yang penuh berkah ini kita belajar bahwa kekuatan terbesar yang dimiliki manusia bukanlah harta yang menumpuk, bukan pula jabatan yang disegani, dan bukan teknologi yang canggih, tetapi hati yang yakin kepada Allah di atas segala sesuatu yang nampak dan yang tidak nampak. Siti Hajar, dengan seluruh kesederhanaannya, telah mengajarkan kepada kita bahwa harapan tidak boleh mati sekalipun seluruh dunia tampak tertutup rapat dan tidak ada celah.

Mungkin hari ini ada di antara kita yang sedang berada di dalam apa yang disebut sebagai “gurun kehidupan”: rumah tangga yang diuji dengan badai yang tak kunjung reda, ekonomi yang sulit sehingga malam terasa lebih panjang dari biasanya, anak-anak yang mulai menjauh dari nilai-nilai agama karena arus zaman yang deras, kesehatan yang melemah dan mengingatkan kita akan rapuhnya tubuh, atau hati yang begitu lelah menghadapi hidup sehingga kadang bertanya sampai kapan harus bertahan.

Ingatlah, saudaraku, dengan penuh kesadaran: Allah yang menurunkan Zamzam di tengah padang pasir yang paling kering dan tandus juga mampu menghadirkan jalan keluar dalam hidup kita yang sedang tersumbat. Allah berfirman:

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya). Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu. (QS. At-Thalaq: 3)

Tetapi pertolongan yang agung itu sering datang hanya kepada mereka yang tetap bergerak meskipun lelah, tetap berdoa meskipun belum mendengar jawaban, tetap sabar meskipun ujian terasa panjang, dan tetap menjaga iman meskipun seluruh godaan dunia menawarkan kompromi. Karena itu, jangan menyerah. Jangan kalah oleh keadaan yang sementara.

Jangan biarkan dunia yang fana ini mematikan cahaya tauhid dalam hati kita yang merupakan anugerah terbesar. Didiklah anak-anak kita dengan iman yang kokoh sebagaimana Hajar mendidik Ismail dengan penuh kasih dan keteladanan.

Bangun rumah tangga bukan hanya dengan atap dan dinding, tetapi dengan kasih sayang yang mengalir dan ibadah yang menyinari setiap sudutnya. Jadikan keluarga bukan sekadar tempat tinggal bersama secara fisik, tetapi tempat bertumbuh bersama menuju surga yang dijanjikan.

Mari jadikan Idul Adha yang mulia ini sebagai momentum untuk memperkuat solidaritas sosial yang mulai renggang. Bantulah fakir miskin yang setiap hari berjuang melawan lapar. Perhatikan tetangga yang sedang kesulitan, meskipun mereka tidak meminta.

Ringankan beban orang-orang kecil yang suaranya jarang didengar. Karena ibadah yang paling dicintai oleh Allah bukan hanya ritual yang indah, tetapi juga menghadirkan manfaat nyata bagi sesama manusia, menghapus air mata, dan menghangatkan mereka yang kedinginan oleh kehidupan.

Demikianlah Siti Hajar istri sholihah Nabi Ibrahim telah memberi contoh kepada kita semua, yang kisahnya selalu kita peringati setiap tahun sekali.
الله أكبر الله أكبر الله أكبر، لاَ إلَهَ إِلاَّ الله والله أكبر، الله أكبر ولله الحمد
Akhirnya, marilah kita akhiri ritual Idul Adha pada hari ini dengan menundukkan hati dan pikiran kita, seraya berdoa semoga keluarga kita dikuarkan seperti keluarga nabiyullah Ibrahim Khalilulloh, menjadikan istri-istri kita setegar, sekuat dan sesetia Sayyidah Siti Hajar:

أَللَّهُمَّ صَلِّى عَلَى مُحَمَّدٍ, وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَبَارِكْ وَسَلِّمَ اَجْمَعِيْنَ

“Ya Allah, limpahkanlah rahmat kehormatan, keberkahan dan kesejahteraan kepada junjungan kita Nabi Muhammad beserta keluarganya, sahabat-sahabatnya, dan kepada para pengikutnya semua.”

وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ, حَمْدًايُّوَافِيْ نِعَامَهُ وَيُكَافِيْ مَزِيْدَةْ

“Segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam, dengan pujian yang sesuai dengan nikmat-nikmat-Nya dan memadahi dengan penambahan-Nya.”

يَارَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ وَعَضِيْمِ سُلْطَانِكَ

“Wahai Tuhan kami, hanya bagi-Mu segala puji, sebagaimana pujian itu patut terhadap kemulian-Mu dan keagungan-Mu.”

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَناَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَ الَّتِى فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِى فِيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شرٍّ

Ya Allah, perbaikilah agama kami untuk kami, karena ia merupakan benteng bagi urusan kami. Perbaiki dunia kami untuk kami yang ia menjadi tempat hidup kami. Perbikilah akhirat kami yang menjadi tempat kembali kami. Jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan bagi kami dalam setiap kebaikan dan jadikan kematian kami sebagai kebebasan bagi kami dari segala kejahatan.

اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَاتَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَابِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَاتُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا. اَللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْهُ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ عَاداَنَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِى دِيْنِنَاوَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا

Ya Allah, anugerahkan kepada kami rasa takut kepada-Mu yang membatasi antara kami dengan perbuatan maksiat kepadamu dan berikan ketaatan kepada-Mu yang mengantarkan kami ke surga-Mu dan anugerahkan pula keyakinan yang akan menyebabkan ringan bagi kami segala musibah di dunia ini. Ya Allah, anugerahkan kepada kami kenikmatan melalui pendengaran, penglihatan dan kekuatan selamakami masih hidup dan jadikanlah ia warisan bagi kami. Dan jangan Engkau jadikan musibah atas kami dalam urusan agama kami dan janganlah Engkau jadikan dunia ini cita-cita kami terbesar dan puncak dari ilmu kami dan jangan jadikan berkuasa atas kami orang-orang yang tidak mengasihi kami.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ.

Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mu’minin dan mu’minat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Dekat dan Mengabulkan do’a.

اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُمْ حَجًّا مَبْرُوْرًا وَسَعْيًا مَّشْكُوْرًا وَذَنْبًا مَغْفُوْرًا وَتِجَارَةً لَنْ تَبُوْرًا

Ya Allah, jadikanlah mereka (para jamaah haji) haji yang mabrur, sa’i yang diterima, dosa yang diampuni, perdagangan yang tidak akan mengalami kerugian
الَّلهَمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ ءَامَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ، رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزِّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Revisi Oleh:
  • Satria - 23/05/2026 12:33
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡