Dalam Marvel Cinematic Universe, ada sebuah series bernama What If…? yang mengisahkan sebuah cerita alternatif dari cerita utama dalam semesta yang berbeda. Jika kita implementasikan, kita bayangkan bagaimana dua tokoh yang menentang perbedaan kelas masyarakat dipertemukan. KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, dan Karl Marx, tokoh sosialis dari masa revolusi industri.
Di sebuah ruang sederhana yang tenang, waktu seakan berhenti mengalir. Dindingnya polos, hanya dihiasi rak buku berisi karya-karya besar tentang kemanusiaan. Di sanalah dua tokoh dari zaman dan latar yang berbeda duduk berhadapan: KH Ahmad Dahlan dan Karl Marx.
Ahmad Dahlan mengenakan pakaian putih yang bersih, sorot matanya teduh namun tegas. Di hadapannya, Karl Marx dengan janggut tebalnya tampak serius, seolah membawa beban panjang pergulatan pikiran tentang dunia.
Percakapan dimulai tanpa basa-basi.
“Kemiskinan,” ujar Marx membuka pembicaraan, “bukan sekadar takdir. Itu adalah hasil dari sistem yang menindas. Selama ada kepemilikan alat produksi oleh segelintir orang, ketimpangan akan terus ada.”
Ahmad Dahlan mengangguk perlahan. “Saya sepakat bahwa kemiskinan tidak boleh dibiarkan. Namun, saya melihatnya juga sebagai panggilan moral. Dalam ajaran Islam, kekayaan memiliki tanggung jawab. Ada zakat, infak, dan kepedulian sosial yang wajib ditegakkan.”
Marx sedikit menyipitkan mata. “Tapi bukankah agama sering kali justru membuat orang menerima keadaan? Menghibur mereka dengan janji-janji masa depan, sementara ketidakadilan di dunia nyata tetap berlangsung?”
Ahmad Dahlan tersenyum tipis, bukan karena setuju, melainkan karena memahami arah pertanyaan itu.
“Agama yang dipahami secara sempit mungkin bisa demikian. Namun, bagi saya, agama adalah kekuatan untuk membebaskan. Ia mendorong manusia untuk bertindak, bukan menyerah.”
Suasana hening sejenak. Di luar jendela, cahaya samar seperti menggambarkan dunia yang terus bergerak dengan segala persoalannya.
“Saya memilih mendirikan sekolah, rumah sakit, dan gerakan sosial,” lanjut Ahmad Dahlan.
“Perubahan tidak harus selalu melalui konflik besar. Ia bisa tumbuh dari kesadaran, dari pendidikan.”
Marx menggeleng pelan. “Kesadaran penting, tetapi struktur yang tidak adil tidak akan runtuh hanya dengan kebaikan hati. Kelas yang berkuasa tidak akan menyerahkan kekuasaannya begitu saja.”
Ahmad Dahlan menatap langsung ke arah Marx. “Lalu, apakah kekerasan menjadi satu-satunya jalan?”
Marx tidak langsung menjawab. Ia terlihat berpikir, seolah menimbang ulang keyakinannya sendiri. “Bukan soal kekerasan,” katanya akhirnya, “tetapi soal perubahan yang mendasar. Sistem harus diubah, bukan sekadar diperhalus.”
Percakapan mereka semakin dalam. Mereka berbicara tentang buruh yang tertindas, tentang anak-anak yang kehilangan akses pendidikan, tentang masyarakat yang terjebak dalam lingkaran kemiskinan.
Namun, di tengah perbedaan itu, ada satu titik yang tak bisa dipungkiri: keduanya sama-sama gelisah melihat ketidakadilan.
“Saya percaya,” kata Ahmad Dahlan dengan suara mantap, “bahwa manusia bisa berubah jika hatinya disentuh. Pendidikan dan nilai-nilai moral adalah kunci.”
Marx menatapnya lama. “Dan saya percaya manusia berubah ketika kondisi materialnya berubah. Ketika sistem yang menindasnya dihancurkan.”
Keduanya terdiam. Tidak ada yang benar-benar menang dalam percakapan itu, tetapi juga tidak ada yang kalah.
Di ruang yang sunyi itu, dua jalan pemikiran bertemu: satu berangkat dari langit, satu lagi berpijak kuat di bumi. Namun, keduanya mengarah pada tujuan yang sama—keadilan bagi manusia.
Saat percakapan usai, tidak ada jabat tangan yang dramatis, tidak pula deklarasi kesepakatan. Hanya saling pandang yang penuh pengertian.
Seolah keduanya menyadari, dunia mungkin tidak membutuhkan satu jawaban tunggal. Barangkali, perubahan justru lahir dari pertemuan berbagai gagasan—dari dialog yang jujur, dari perbedaan yang tidak saling meniadakan.
Dan di luar ruang itu, dunia terus berjalan. Dengan kemiskinan yang belum tuntas, dengan ketimpangan yang masih terasa. Namun juga dengan harapan—bahwa suatu hari, gagasan-gagasan besar seperti yang dibicarakan hari itu tidak hanya tinggal sebagai wacana, tetapi benar-benar menjadi jalan menuju keadilan yang nyata. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments