Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

KH Muhammad Fanan, Potret Ketangguhan Mubaligh Keliling

Iklan Landscape Smamda
KH Muhammad Fanan, Potret Ketangguhan Mubaligh Keliling
KH Muhammad Fanan (1894-1977)
Oleh : Muh Kholid AS

Potret ketangguhan mubaligh keliling,  begitu sebutan yang cocok pada diri KH Muhammad Fanan. Melalui rintisan dakwahnya, ia menjadi faktor determinan berdirinya organisasi Muhammadiyah di sejumlah daerah periode awal. Wilayah tapal kuda dan Madura, hampir tidak lepas dari kegiatan tabligh kelilingnya.

Kejelian salah satu perintis Muhammadiyah di Jawa Timur itu adalah memilih metode berdakwah sambil berkeliling ke berbagai daerah. Fasilitas yang minim kala itu tidak membuatnya surut dalam mensyiarkan Islam, khususnya tentang Muhammadiyah di setiap tempat yang dikunjunginya.

Seolah terdorong oleh semangat pendahulunya KH. Ahmad Dahlan yang juga getol berkelana berdakwah meski sambil berdagang, begitu pula Kiai Fanan menjelajahi pelosok Jawa Timur. Jejak-jejak sejarah ketokohan figur Kiai Fanan banyak dijumpai di beberapa daerah.

Kiai Fanan dilahirkan di Desa Monggosari, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang, pada 1 Januari 1894 bertepatan dengan 23 Jumadil akhir 1311 H. Putra dari pasangan KH. Akhmadi (Temanggung) dan Khodijah binti Abd. Rohman (Magelang).

Sejak kecil dia telah belajar ilmu agama kepada kedua orangtuanya. Dari tangan dingin orang tuanya, Fanan kecil bisa tahu tata cara membaca al-Quran secara benar, bahkan dia juga diperkenalkan dengan sejumlah kitab-kitab agama.

Meski dalam pendidikan umum dia hanya sampai kelas 3 SR (SD), namun pendidikan agamanya terlampau mendalam. Tidak hanya diperoleh dari orangtuanya, tapi juga dari banyak gemblengan pondok pesantren. Dia berkelana dari satu pesantren ke pesantren lain.

Awalnya dia belajar di desa Jumayo Magelang yang diasuh Kiai Imam Asy’ari selama satu setengah tahun. Setelah mendapat restu, kemudian pindah ke pondok pesantren di Payaman di Magelang, lalu pondok pesantren di Sarang, Rembang.

Di Jawa Timur, jejak pendidikan agamanya dimulai ketika nyantri kepada KH. Dimyati di pondok pesantren Termas, Pacitan. Selepas belajar dari Pacitan, dia menuju ke pondok pesantren Sidosermo, Surabaya, belajar kepada KH. Ikhsan.

Setelah purna, dia lantas menyeberang ke Pulau Madura untuk belajar kepada KH. Kholil di Bangkalan. Dan terakhir, dia tercatat sebagai santri di pondok pesantren Langitan Tuban di bawah asuhan KH. Khozin.

Dari hasil belajar ilmu agama tersebut telah menjadikan Kiai Fanan memiliki kekuatan karakter, serta teguh dalam berprinsip. Selain itu cara hidup yang selalu bersahaja seolah menjadi jati diri keseharian bagi tokoh yang kini namanya diabadikan salah satu ruang pertemuan Universitas Muhammadiyah Jember itu.

Berpegang teguh pada dasar keilmuan yang dimiliki, Kiai Fanan lantas menyebarkan ilmu agama pada orang lain. Pengalaman mengajarnya pertama kali dilakukan di Kampung Asin, Surabaya. Juga mengajar di Madrasah Nahdlatul Wathan Wonokromo, Surabaya, Madrasah Mufidah Kampung Baru Sawahan, Surabaya dan di Madrasah Nahdlatul Wathan di Kampung Kawatan, Surabaya.

Di Madrasah terakhir ini sekagus menjadi awal keterkaitannya dengan Muhammadiyah. Adalah KH. Mas Mansur yang juga sama-sama mengajar di Madrasah tersebut yang akhirnya membuat Kiai Fanan dapat bersentuhan dengan faham pembaharuan Islam yang dibawa oleh Muhammadiyah.

SMPM 5 Pucang SBY

Selanjutnya dengan kesadaran penuh, Kiai Fanan bersama KH. Mas Mansur memutuskan masuk Muhammadiyah. Tepatnya pada Desember 1921, sekaligus merintis pendirian Muhammadiyah di Surabaya. Secara khusus, Kiai Fanan menilai, Muhammadiyah adalah lembaga yang tepat untuk menjaga kemurnian ajaran Islam dan untuk mengembangkan serta memberdayakan umat.

Kiai Fanan kemudian menjadi salah satu aktor perintis dari gerakan Muhammadiyah di Jatim. Setidaknya ketokohan Kiai Fanan seperti sempat dituturkan Prof. Dr. Mulyono HS, yang sempat mengetahui kehidupan ustadz bersahaja itu di Jember.

Menurutnya, Kiai Fanan adalah sosok yang tegas dalam pendirian dan ikhlas. Hal itu dapat dilihat dari prosesi pernikahan putri bungsunya, Lilik Harsono. Di saat prosesi pernikahan tersebut banyak ditemukan karangan bunga dan bingkisan kado. Namun ketika Kiai Fanan mengetahui hal itu, dia malah membuang barang-barang yang menurut banyak orang dinilai berharga karena hal itu dinilai tidak penting.

Cerita lain yang menjadi bukti ketegaran dan keikhlasan Kiai Fanan adalah ketika dia aktif sebagai kader Muhammadiyah. Kala itu, dia ditugaskan sebagai guru oleh Lukman Jakfar (Mubaligh Muhammadiyah Yogyakarta) di tiga tempat dengan letak geografis yang berjauhan.

Toh hal itu dijalankan penuh tanggung jawab dan rasa tabah. Selama bertahun-tahun, Kiai Fanan mengajar secara bergantian setiap lima minggu dari Kweekschool (Sekolah Guru) di Probolinggo, Normaalschool (Sekolah Guru) di Jember dan Sekolah Muhammadiyah di Lumajang. Dia baru berhenti, setelah masing-masing sekolah mempunyai guru pengganti.

Dengan kapasitas ilmu agama yang dimiliki Kiai Fanan, selepas berhenti mengajar di tiga sekolah tersebut, Pimpinan Pusat Muhammadiyah memberi tugas lebih berat lagi kepadanya. Mubaligh Keliling adalah tugas yang langsung dimandatkan PP Muhammadiyah untuk Kiai Fanan.

Daerah bidikannya meliputi seluruh Jawa Timur termasuk pulau Madura. Kala itu, wilayah Jatim, khususnya Madura daerah tapak kuda merupakan daerah yang memiliki tingkat kesulitan geografis serta kultural yang berat.

Perjalanan sebagai mubaligh di Jatim yang merupakan sisi unik kehidupan seorang Kiai Muhammadiyah ini dimulai sejak 1923. Jember adalah kota pertama yang didatangi untuk menyebarkan Muhammadiyah, yang pada waktu itu berdua dengan Muhammad Thoyib (Mubaligh Muhammadiyah Yogyakarta). Sementara itu, bersama H. Zaini Hasyim, Kiai Fanan memasuki kota Bondowoso sebagai kota keduanya.

Selanjutnya halaman 2

Revisi Oleh:
  • Muhkholidas - 30/05/2026 20:03
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search