Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Pasca Iduladha, Apakah Berhenti Berkurban?

Iklan Landscape Smamda
Pasca Iduladha, Apakah Berhenti Berkurban?
Berkurban di momen Iduladha. (Istimewa/PWMU.CO)
Oleh : Muhsin MK

Idhuladha 1447 H telah berlalu. Kurban masih bisa ditunaikan hingga 13 Zulhijjah, hari tasyrik. Selepas itu, tidak ada kurban. Yang ada hanya sedekah, infak, hibah, hadiah, dan derma. Namun, apakah kurban berhenti karena waktunya sudah berakhir?

Kurban berasal dari bahasa Arab, qariba-yaqrabu-qurbanan, yang berarti dekat atau mendekatkan. Dalam konteks ibadah, kurban adalah amalan menyembelih hewan ternak tertentu untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Kurban Sepanjang Masa

Untuk penyembelihan hewan kurban tentu sudah berakhir. Tunggu Iduladha tahun depan, akan tetapi untuk dekat atau mendekatkan diri kepada Allah ini tetap berlangsung. Artinya kurban dalam arti ibadah penyembelihan hewan sudah selesai. Akan tetapi, taqarub ilallah (mendekatkan diri kepada Allah) tetap berjalan sepanjang masa.

Dengan demikian setiap muslim tetap dapat berkurban kapan saja. Setiap detik, menit, jam, hari, pekan, bulan dan tahun terus berkurban. Semua itu dalam rangka beribadah kepada Allah Ajja Wa Jalla. Tidak ada pengurbanan seorang hambaNya yang sia-sia. Asal dilakukannya dengan niat beribadah yang ikhlas (QS. al-Bayyinah:5).

Jika dalam kurban di waktu Iduladha dilakukan dengan ibadah penyembelihan hewan kambing, unta, sapi dan kerbau. Maka pengorbanan bisa dilakukan dengan doa, ilmu, tenaga, pikiran, suara, dana dan sarana. Apa saja bisa digunakan untuk berkurban. Asal tujuannya untuk kemaslahatan dan kebajikan.

Bentuk-Bentuk Pengurbanan

Beberapa bentuk berkurban yang dilakukan oleh para Nabi dan sahabat-sahabatnya. Nabi Ibrahim AS, berkurban dengan doanya. Setelah selesai melaksanakan perintah Allah membangun baitullah. Lalu beliau berdoa kepada-Nya agar kota Mekkah diberikan berkah dan nikmat buah-buah yang melimpah (QS. Ibrahim:37).

Lalu Nabi Yusuf AS berkurban dengan ilmu kepada dua orang yang sama-sama di penjara. Ilmunya mampu mentakwilkan mimpi kedua nara pidana (QS. Yusuf:36,41) dan juga mimpi raja Mesir (QS. Yusuf:43,46-49). Ilmunya itu menjadi pelajaran berharga bagaimana cara suatu negara menghadapi musim paceklik atau keadaan susah dan menderita menjadi makmur dan sejahtera.

SMPM 5 Pucang SBY

Sedangkan Nabi Musa AS pernah membantu dua orang perempuan kakak-beradik dalam memberi minum ternaknya. Padahal saat itu sedang lapar dan kepayahan (QS. al-Qasas: 23-24). Diapun berkurban tenaga saat dimintai oleh Nabi Sua’aib untuk bekerja dalam mengolah tanahnya dan dinikahkan dengan salah anak perempuannya (QS. al-Qasas:26-29).

Adapun Nabi Sulaiman AS berkurban dengan pikirannya saat menghadapi kasus ternak kambing yang memakan tanaman di kebun orang lain. Pemilik kebun bersengketa dengan pemilik kambing. Kasusnya dibawa kehadapan Nabi Daud AS dan segera diberikan keputusan (QS. al-Anbiya:78).

Namun pada saat keduanya bertemu Nabi Sulaiman tenyata memiliki pikiran yang berbeda dengan ayahnya. Nabi Daud justru membenarkan fikiran anaknya. Beliau lalu mengambil keputusan sesuai dengan yang disampaikan anaknya. Sebab pikirannya dipandang lebih adil dan dapat diterima kedua belah pihak yang bersengketa (QS. al-Anbiya:79).

Pengurbanan Jaminannya Surga

Pengurbanan dengan suara dilakukan oleh Bilal dan Abdullah bin Ummi Maktum yang tunanetra. Keduanya menjadi muadzin Rasulullah SAW di Masjid Nabawi, Kota Madinah. Setiap hari mereka qurbankan suara indahnya guna memanggil kaum muslimin ke masjid untuk melaksanakan shalat bersama (QS. al-An’am:52).

Sedangkan Khadijah istri Rasulullah SAW berkurban dengan dana dan harta bendanya. Uang dan harta bendanya yang berlimpah habis untuk membantu perjuangan suaminya (QS. adh-Dhuha:8, al-Lail:5-7). Selain itu sahabat Rasulullah SAW, Usman bin Affan juga berkurban dengan dana dan hartanya.(*)

Revisi Oleh:
  • Zahrah Khairani Karim - 30/05/2026 20:58
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu